Succes is the earthly judge of right or wrong.

Wednesday, December 13, 2006

5
AUDIT SISTEM INFORMASI MANAJEMEN



“Benang merah “ yang diupayakan tampak dalam seluruh pembahasan tentang sistem informasi manajemen dalam buku ini ialah bahwa informasi sebagai salah satu resource organisasi mutlak diperlukan oloeh setiap jenis organisasi guna mendukung keseluruhan proses manajerial dalam rangka pencapaian tujuan organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Secara implisit pernyataan di atas berarti bahwa aplikasi terpenting dari informasi tersebut ialah untuk pengambilan keputusan oleh para manajer yang menduduki berbagai eselon jabatan pimpinan dalam organisasi.
Seperti dimaklumi, agar informasi sebagai resource organisasi bermanfaar dalam proses manajemen, informasi tersebut harus memiliki ciri kemutakhiran, kelengkapan, keandalan, akurasi, dapat dipercaya serta tersimpan sedemikian rupa sehingga mudah ditelusuri jika diperlukan. Informasi yang memiliki ciri-ciri tersebut akan sangat mendukung pengambilan keputusan yang tepat, rasional dan cepat serta tidak lagi didasarkan pada intuisi dan pengalaman meski kedua hal itu mempunyai tempat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, informasi yang memenuhi persyaratan di atas akan memainkan peranan penting dalam peningkatan efisiensi, efektifitas, dan produktifitas kerja suatu organisasi.
Jelaslah bahwa agar informasi yang tersedia memenuhi ciri-ciri tersebut, sistem pengolahan data dalam organisasi tidak hanya harus berlangsung dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang setinggi mungkin, akan tetapi juga harus sedemikian rupa sehingga sistem tersebut benar-benar mampu memberikan hasil pengolahan data, yaitu informasi, yang bermutu tinggi serta sesuai dengan kebutuhan organisasi baik untuk kepentingan sekarang maupun untuk kepentingan di masa depan.
Guna menjamin terwujudnya kedua hal tersebut, diperlukan audit sistem pengolahan data. Topik itulah yangmenjadi fokus pembahasan dalam bab ini yang mencakup audit organisasi satuan kerja pengolahan data, audit proses pengolahan data, audit perangkat keras, audit perangkat lunak, dan audit sumber daya manusia.
AUDIT ORGANISASI SATUAN KERJA
PENGOLAHAN DATA


Berbagai cara dapat ditempuh untuk menetapkan bentuk pelembagaan satuan pengolahan data. Akan tetapi cara apapun yang ditempuh oleh manajemen dalam pelembagaan satuan kerja ini, prinsip yang sangat mendasar yang harus dipegang teguh ialah bahwa manajer tertinggi yang memimpin saatuan kerja tersebut haruslah sedekat mungkin dengan para pengambil keputusaqn kunci, yaitu para anggota manajemen puncak. Terdapat pula sedikitnya 3 alasan mengapa demikian halnya. Pertama: Satuan kerja pengolah data perlu diberi “status terhormat” dan berada pada eselon organisasi yang tinggi. Status demikian perlu karena diakui atau tidak, dikalangan manajemen adakalanya terdapat pandangan yang mengatakan bahwa hanya satuan kerja pelaksana tugas pokolah yang pantas diperlakukan sebgai Strategic Bisiness Unit –SBU- karena peranannya selaku profit centers sedangkan satuan-satuan kerja pelaksana tugas pendukung –termasuk satuaqn pengolah data – tidak, karena tidak memberikan kontribusi langsung kepada perolehan laba atau keuntungan. Pandangan dikotomis ini sesungguhnya tidak tepat. Bahkan dapat dikatakan salah karena sesungguhnya semua satuan kerja dalam organisasi harus diberi kesempatan untuk memainkan peranan strategis dalam rangka pencapaian tujuan. Pernyataan ini nterbukti dengan penekanan kuat pada pentingnyaq penerapan prinsip sinergi dalam penjalankan roda organisasi. Kedua: manajer tertinggi dalam lingkungan satuan kerja pengolah data mutlak perlu mngetahui berbagai keputusan strategis yang diambil oleh manajemen puncak memahami latar belakang keputusan tersebut, bahkan diharapkan turut berperan dalam mengambil keputusan itu. Dengan demikian manajer satuan pengolah data dapat mngetahui langkah-langkah tindak lanjut apa yang akan yang akan ditempuh oleh para mnanajer yang lebih raendanh sebagai rincian dan operasionalisasi keputusan strategis tersebut. Dengan demikian, manajer satuan pengolah data dengan cepat dan tepat dapat mengidentifikasi data yang p-erlu dikumpulkan dan diolah menjadi informasi. Ketiga: dengan statusnya yang tinggi dan pengetahuan tentang implikasi berbagai keputusan yang diambil, para pimpinan berbagai komponen dan satuan kerja dalam lingkungan organisasi akan bersikap terbuka, artinya bersedia memberikan berbagai data yang diperlukan untuk diolah.

Konfigurasi organisasional satuan kerja pengolahan data mungkin saja berbeda dari satu organisasi ke organisasi yang lain tergantung pada berbagai faktor. Akan tetapi bagaimananpun bentauk konfigurasi tersebut, yang jelas semua aspek pengolahan data mulai dari identifikasi kebutuhan informasi dan sumber-sumbernya, analisis data, pengoperasian perangkat keras, penggunaan aneka ragam perangkat keras, penggunaan aneka ragam perangkat lunak, pengembangan sistem dan pengawasannya serta distribusi informasi memerlukan pelembagaan. Berarti bahwa jumlah manajer dan para pekerja otak (knowledge worker) dalam lingkungan satuan kerja pengolahan data tersebut tidak akan sama untuk semua jenis organisasi.

Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan ialah pola pengambilan keputusan yang berlaku dalam organisasi. Tergantung pada gaya manajerial yang dominan dalam penerapannya, ada pola pengambilan keputusan yang sifatnya sentralistik, akan tetapi ada pula yang bersifat desentralistik. Meskipun benar bahwa dengan makin menyebarnya ketersediaan perangkat keras dan perangkat lunak dalam organisasi, berkat kehadiran berbagai komputer mikro, mini, dan bahkan komputer nano –yang salah satu implikasinya ialah makihn banyak orang yangmempunyai akses langsung terhadap teknologi informasi, kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada manajemen puncak yang terus mempertahankan penggunaan pola pengambilan keputusan yang sifatnya sentralistik. Logisnya dalam situasi terjadinya proliferasi (penyebaran) sarana pengolahan data, pola desentralisti8klah yang sesungguhnya lebih tepat digunakan. Jika pola yang sentralistik tetap diterapkan, hal demikian bisa saja terjadi karena filsafat manajerial yang dianut oleh manajemen puncak ataupun karena gaya kepemimpinannya yang cenderung otokratik.

Audit manajemen pengolahan data dimaksudkan untuk meneliti dan mempelajari konfigurasi organisasional tersebut. Sasaran utamanya adalah untuk memperoleh bahan yang akurat dan faktual tentang tepat tidaknya struktur organisasi satuan kerja pengolahan data tersebut. Dasar pemikirannya disini ialah bahwa dengan struktur organisasi yang tepat, satuan kerja tersebut akan mampu menjalankan fungsinya, yaitu memberikan dukungan informasi kepada semua pihak dalam organisasi. Artinya dengan penggunaan struktur organisasi yang tepat, satuan kerja pengolahan data akan mampu bekerja dengan tingkat efisiensi, efektifitas, dan produktifitas yang setinggi mungkin. Agar sasaran efisiensi, efektifitas, dan produktifitas kerja tersebut dapat dicapai, audit manajemen pengolahan data harus pula memahami struktur organisasi perusahaan sebagai keseluruhan termasuk stratifikasi atau jenjang pengambilan keputusan yang harus didukung oleh satuan kerja pengolahan data.
AUDIT PROSES PENGOLAHAN DATA

Telah umum diketahui bahwa proses pengolahan data pada dasarnya terdiri dari 4 langkah utama, yaitu pengumpulan data, analisis data, penyimpanan informasi sebagai hasil olahan, dan penelusuran untuk digunakan.

Pengumpulan Data
Kegiatan pengumpulan data sesungguhnya bermula dari identifikasi kebutuhan informasi dalam lingkungan dan seluruh jajaran organisasi. Telah dimaklumi bahwa data merupakan bahan mentah atau bahan baku yang diolah lebih lanjut sehingga bentuknya berubah menjadi informasi. Unit pengolahan data hanya mampu menghasilkan informasi yang bermutu tinggi dan sesuai dengan kebutuhan organisasi apabila data yang dikumpulkan dan diolah juga tinggi mutunya. Oleh karena itu segala upaya harus ditempuh untuk menjamin bahwa data yang terkumpul untuk diolah memang bermutu tinggi.
Pengalaman dan kenyataan menunjukkan bahwa sumber data yang dapat digarap dapat bersifat internal, akan tetapi sangat mungkin juga bersifat eksternal. Oleh kareana itu langkah pertama yang yang harus diambil dalam proses pengolahan data ialah menentukan data apa yang diperlukan dan dimana data tersebut berada, apakah dalam organisasi sendiri atau harus dicari dari luar organisasi.
Sumber Data Internal. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa secara internal, semua komponen organisasi –dalam arti berbagai satuan kerja dan bidang-bidang fungsional- dapat menjadi sumber data. Suatu hal yang sangat penting disadari pengolah data dan sumber unternal ialah bahwa hubungan yang harus dibina antara kedua belah pihak harus bersifat simbiosis mutualis. Artinya sumber data harus terbuka terhadap para pengolah data dan dengan demikian bersedia memberikan data yang dimintanya untuk diolah lebih lanjut. Hanya dengan sifat keterbukaan itulah satuan kerja pengolah data dapat memberikan dukungan informasi yang diperlukan oleh berbagai satuan kerja lainnya dalam menyelenggarakan fungsi dan aktifitasnya. Sebaliknya, satuan kerja pengolah data harus mampu memberikan dukungan informasi yang diperlukan oleh berbagai satuan kerja dan komponen dalam organisasi.
Audit manajemen pengolahan data perlu meneliti hubungan timbal-balik seperti itu telah terbina atau tidak. Teknik-teknik yang dapat digunkan untuk penelitian tersebut antara lain adalah wawancara dan kuesioner.
Sumber Data Eksternal. Dapat diartikan bahwa suatu organisasi memerlukan aneka ragam data dari sumber-sumber eksternal. Pemilikan berbagai data tersebut sangat penting karena dapat mencerminkian situasi lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan yang pada umunya tidak berada pada posisi yang statis melainkan dinamis dan bahkan cair. Karena keaneka ragaman yang diperlukan, sumbernya pun pasti banyak. Contoh-contoh data yang perlu dikumpulkan dan diidentifikasi sumbernya ialah sebagai berikut:
1. Data dibidang politik dan baerbagai kebijakan pemerintah, termasuk di bidang ekonomi, industri, dan perdagangan, dapat diperoleh dari berbagai instansi pemerintah yang secara fungsional bertanggung jawab untuk bidang-bidang tersebut.
2. Data di bidang ekonomi, seperti arah perkembangan industri, neraca perdagangan, situasi pasar untuk produk tertentu, kondisi persaingan –baik domestik, regional maupun global- dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain kamar dagang dan industri, asosiasi perusahaan sejenis dan lembaga penelitian di lingkungan perguruan tinggi.
3. Data di bidangpasar modal, jumlah uang beredar, tingkat pertumbuhan ekonomi nbaasional, tingkat dan laju inflasi, dan data-data dibidang keuangan lainnya dapat diperolah dari bank sentral, bursa efek, berbagai lembaga keuangan, instansi yangmenangani statistik perekonomian nasional, dan perguruan tinggi.
4. Data di bidang permodalan yang sumbernya adalah lembaga keuangan dan perbankan, diperlukan oleh organisasi karena sangat mungkin organisasi, khususnya organisasi bisnis akan mencari modal tambahan baik untuk kepentingan investasi maupun untuk kepentingan operasioanal.
5. Data di bidang ketenagakerjaan dengan berbagai asapeknya, seperti tingkat pengangguran, kondisi pasaran kerja, tingkat-tingkat upah dan gaji berbagai kategori pekerja, komposisi tenaga kerja –termasuk wanita karier dan anak-anak- dapat diperoleh dari berbagaio sumber seperti departemen yang menangani ketenagakerjaan secara nasional, kamar dagang dan industri, serikat pekerja, dan asosiasi perusahaan sejenis.
6. Data lain yang diperlukan menyangkut bahan mentah atau bahan baku dapat diperoleh dari para pemasok, baik yang sudah menjadi mitra kerja perusahaan maupun yang belum tetapi berpotensi menjadi pemasok bahan yang diperlukan.
7. Data yang tidak kurang pentingnya untuk dimiliki oleh suatu perusahaan adalah data tentang konsumen, pelanggfan atau pengguna produk perusahaan yang bersangkutan. Kenyataan menunjukkan bahwa selalu terjadi perubahan yang perilaku konsumen atau pelanggan atau nasabah. Perubahan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pendidikan, peningkatan kesejahteraan, peningkatan pengahsilan, karena tersedianya produk lain sejenis yang dipandang lebih baik –misalnya dari segi mutu dan harga- atau karena tersedianya produk substitusi yang manfaatnya dinilai sama dengan produk yang biasa digunakannya. Juga mungkin karena dipasar tersedia produk yang dipandang sedang trendy, yang sering mempunyai dampak kuat terhadap selera konsumen mengingat sifat latah manusia. Data tentang perilaku dan preferensi para konsumen tersebut perlu dimiliki agar perusahaan dapat melakukan rancang bangun kembali produknya dengan 2 maksud utama, yaitu: (a) agar konsumen lama tetap loyal kepada produk perusahaan yang selama ini sudah disenanginya, dan (b) agar produk tersebut mempunyai daya tarik bagi konsumen baru.

Audit manajemen pengolahan data harus bisa mengungkapkan situasi yang sebenarnya dalam arti apakah semua sumber yang seharusnya digarap telah digarap dengan baik atau tidak. Jika tidak, penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyaebabnya dan memberikan sarn kepada manajemen tentang cara-cara yang mungkin ditempuh untuk mengatasinya.
Analisis Data
Merupakan langkah yang sangat penting dalam kegiuatn pengolahan data. Ini karena, data hanya merupakan bahan mentah tau bahan baku yangtidak mempunyai nilai intrinsik sebagai instrumen pendukung dalam menjalankan berbagai kegiatan manajerial, terutama dalam pengambilan keputusan. Yang mempunyai nilai intrinsik hanyalah informasi. Salah satu tugasa poko satuankerja pengolah data adalah untuk enjamin bahwa bahan yang disampaikannya kepada manajemen, baik manajemen puncak maupun manajemen berbagai bidang fungsional harus berupa informasi.
Dengan kata lain, kegiatan analisis data dimaksudkan untuk mengubah data menjadi informasi siap pakai bagi orang lain dalam organisasi atau perusahaan. Dalam hal ini ada 3 hal penting yang harus diperhatikan.
Pertama: informasi haruslah faktual sehingga tidak bisa lagi diinterpretasikan oleh seseorang secara subjektif. Selama sesuatau masih mungkin diinterpretasikan dengan cara yang berbeda sehingga mempunyai makna yang berlainan, sesuatu itu masih berupa data yang perlu diolah lebih lanjut.
Kedua: para analis data perlu mengetahui siapa yang akan menjadi pengguna informasi yang dihasilkan itu. Hal ini sangat penting karena informasi yang sama sangat mungkin digunakan oleh berbagai satuan kerja dalam organisasi. Karena berbagai satuan kerja yang terdapat dalam organisasi mempunyai misi yang harus dikerjakan serta fungsi yang harus dijalankan, cara menggunakan informasi yang diperolehnya pun akan sangat berbeda dengan satuan kerja yang memiliki fungsi dan misi yang berlainan. Misalnya, informasi tentang pemasok mempunyai implikasi tertentu bagi satuan kerja yang menangani produksi, dan berlainan apabila dibandingkan dengan implikasinya bagi satuan kerja yang menangani pembelian. Disamping itu para analisi harus mengetahui untuk apa informasi tersebut digunakan.
Ketiga: ada informasi yang diperlukan oleh pihak-pihak tertentu dalam erganisasi sebagai bahan yang karena petimbangan tertentu masih memerlukan pengolahan atu analisis lebih lanjut.
Audit atas analisis data bertujuan untuk mngetahui apakah informasi yang dihasilkan memenuhi kebutuhan berbagai pihak yang memerlukannya atau tidak. Dengan kat lain untuk melihat apakah ciri-ciri yanfg disinggung dimuka terpenuhi atau tidak termasuk ketepatan waktu penyampaiannya kepada yang berkepentingan.
Penyimpanan Informasi

Sebagai bagian integral dari proses pengolahan data, penyimpanan informasi penting karena paling sedikit 4 pertimbangan utama, yaitu:
Keamanan Informasi, ialah menjaga agar informasi yang dihasilkan terhindar dari (a) berbagai kemungkinan kerusakan –misalnya karena kebakaran atau banjir- karena tempat penyimpanan yang tidak tepat, dan (b) kemungkinan dicuri oleh orang atau pihak yang sebenarnya tidak berhak memiliki informasi tersebut. Pencurian informasi dapat dilakukan oleh orang-orang dalam terutama apabila informasi tersebut dijualnya kepada orang atau pihak lain, seperti kepada pesaing, dalam hal adanya terobosan baru atau desain produk baru, akan tetapi dapat pula dilakukan oleh organisasi atau perusahaan lain yang ingn memilki informasi tersebut. Oleh karena itu, keamanan informasi menjadi sangat penting karena biasanya terobosan atu desain produk baru hanya tercipta setelah dilakukan penelitian dan pengembangan yang memakan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Organisasi atau perusahan yang berhasil melakukan terobosan dan desdain baru tersebut sangat mungkin meraih keunggulan komparatif. Itulah sebabnya pencurian informasi bukan hal yang mustahilterjadi. Bahwa suatau organisasi atu perusahaan melakukan kegiatan “inteligens” kiranya sudah merupakan rahasia umum.
Kerahasiaan Informasi. Berkaitan erat dengan keamanan informasi ialah kerahasiaannyaq. Semua organisasi memiliki informasi dipandang bersifat rahasia. Informasi tentang hasil penelitian dan pengembangan, informasi tentang desain produk, informasi tentang volume produksi, informasi penjualan, dan informasi keuangan adalah beberapa diantaranya. Segala upaya harus dilakukan untuk menjamin bahwa informasi itu tidak jatuh ketangan atau orang atau pihak yang tidak berhak.
Biaya Penyimpanan Informasi. Mengenai biaya penyimpanan informasi, faktor efisiensi harus diperhatikan mengingat perusahaan -terutama yang besar- memiliki banyak informasi yang terakumulasi berbarengan dengan perjalanan waktu, baik sebagai produk kegiatan menjalankan roda organisasi maupun yang disengaja dikumpulkan untuk kepentingan organisasi dimasa depan. Oleh karaena itu, manajemen harus secara teliti memilih sarana peyimpanan informasi. Sesungguhnya peningkatan efisiensi penyimpanan informasitidak terlalu sulit dilakukan karena banyak jenis produk yang dapat digunakan sebagai sarana penyimpanan informasi sepreti hard disc yang memang sudah dipasang di komputer, floppy disc atau disket, mikrofilm, punched cards, dan kertas. Pengalaman menunjukkan bahwa alat peyimpanan diatas kertas dewasa ini semakin kurang penggunaannya, bukan karena ruang penyimpanan yang besarakan tetapi juga karena faktor keamanan dan kerahasiaan informasi.
Audit atas penyimpanan informasi bertujuan untuk memilih teknologi tepat guna dalam rangka menghemat biaya penyimpanan.
`akses kepada Informasi, pada dasrnya ada 2 hal. Pertama: setiap orang yang berhak dan perlu mengakses informasi harus dapat melukannya dengan mudah dan dalam waktu yang singkat.dengan demikian informasi akan bebar-benar mendukung proses manajerial yang harus dilakukan oleh berbagai pihak dalam organisasi, termasuk kegiatan pengambilan keputusan. Penting untuk dicatat bahwa demi keamanan akses tersebut, 2 hal perlu diperhatikan, yaitu: (a) kepada berbagai pihak yang berhak memperoleh tertentu perlu diberikan password oleh satuan pengolah data dan pada umunya password tersebut diganti secara berkala dan dengan demikian terjamin bahwa hanya mereka yang berhak yang dimungkinkan mengakses informasii tertentu; (b) akses kepada informasi tidak tergantung pada hadir tidaknya karyawan yang bertanggung jawab dalam hal penyimpanan data atau informasi. Oleh karena itu harus diciptakan sistem yang andal untuk mengakses data. Kedua: Sistem mengakses informasi harus pula mengandung jaminan bahwa informasi tidak mungkin atau sangat sulit diakses oleh mereka yang tidak berhak. Salah satu cara yang biasanya ditempuh untuk membatasi akses tersebut ialah dengan menyatakan wilayah tempat penyimpanan informasi sebagai wilayah “tertutup” (restricted area) yang tidak boleh dimasuki oleh mereka yang tidak berhak atau hanya boleh dimasuki dengan izin khusus –misalnya dengan menggunakan tanda pengenal tertentu- dan selalu disetai oleh petugas yang bertanggung jawabuntuk menjaga ruangan tersebut.

Demikian pentingnya pengamanan terhadap akses informasi sehingga selalu menjadi salah satu objek audit pengolahan data. Hal ini karena suatu organisasi atau perusahan dapa tmenderita kerugian yang besar apabila sampai pencurian informasi oleh pihak lain. Dengan kata lain, upaya menciptakan informasi yang memenuhi kebutuhan informasi bukanlah tanpa biaya. Karena sifatnya yang sudah siap pakai informasi yang diambil oleh pihak lain tidak lagi harus mngeluarkan biaya untuk memperoleh informasi tersebut. Bukan hanya itu, informasi perusahan yang sesungguhnya bersifat rahasia memungkinkan pihak lain –seperti pesaing- mengetahuiu langkah-langkah strategis apa yang akan diambil oleh perusahaan di masa depan dan dengan demikian dapat “mendahului” perusahaan tersebut mengambil langkah dimaksud dan memetik keuntungan yang besar daripadanya. Misalnya dalam meluncurkan dan memasarkan produk baru.

Audit atas keamanan dan kerahasiaan informasi bertujuan untuk meyakinkan bahwa sistem pengamanan dan pemeliharaan rahasia organisasi atau perusahaan benar-benar dapat diandalkan. Jika ditemukan kelemahan, auditor harus pula mampu memberikan saran-saran untuk mengatasinya.

AUDIT PERANGKAT KERAS


Komponen yang sangat penting dalam pengolahan data secara elektronik ialah perangkat keras (hardware). Telah diketahui secara luas bahwa industri teknologi informasi telah berhasil memproduksikan aneka ragam perangkat keras atau komputer. Ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang seperti merknya, reputasi produsennya, ukurannya, kemampuannya, kecepatan kerjanya, mutunya, harganya, distributor atau agaen penjualannya, dukungan suku cadang, dukungan pemeliharaan, dukungan pelatihan bagi pengguna, dan pelayanan purna jualnya.

Kombinasi dari berbagai faktor tersebut tercermin pada tersedianya perangkat keras yang dapat dikategorikan sebagai komputer pusat (mainframe), komputer mini, komputer mikro, dan komputer makro. Berbagai konfigurasi komputer memungkinkan suatu perusahaan memutuskan apakah pengolahan data dalam perusahaan dilakukan berdasarkan pendekatan sentralisasi atau desentralisasi atau kombinasi dari keduanya. Tidak ada pedoman yang berlaku umum mengenai hal ini. Berarti setiap perusahaan harus memutuskan sendiri pola mana yang akan digunakannya. Akan tetapi pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa pola kombinasilah yang paling banyak digunakan. Dengan kata lain, dan terutama pada perusahaan besar- perusahaan menggunakan mainframe karena perlunya pangkalan data –data base- tunggal dan dalam pada itu memungkinkan berbagai komponen atau satuan kerja dalam perusahaan mengolah data sendiri dengan menggunakan komputer mikro atau komputer mini seperti personal computer dan notebook.

Kecenderungan demikian semakin menonjol karena manajemen puncak tampaknya semakinm menyadari bahwa efisiensi, efektifitas, dan produktifitas perusahaan dapat ditingkatkan dengan memberikan kebebasan dan “otonomi” yang semakin besar kepada para manajer yang lebih rendah untuk mengambil keputusan sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi di lapangan.
Ada beberapa alasan mengapa harus dilakukan audit manajemen pengolahan data terhadap perangkat keras. Pertama: perlu diteliti alasan yang digunakan oleh manajemen puncak dalam memutuskan pola pemrosesan data dalam organisasi. Tujuannya ialah untuk mngetahui apakah alasan tersebut dpat dipertanggungjawabkan dari segi kepentingan perusahaan atau tidak. Kedua: apakah bearbagai akibat keputusan tersebut telah dipertimbangkan dengan matang. Misalnya jika perusahaan menggunakan pola yang sentralistik maka dampaknya dapat menimbulkan sikap apatis pada manajer bawahan. Ini perlu dipertimbangkan dengan cermat. Ketiga: untuk mngetahui kebijaksanaan perusahaan tentang pengadaan perangkat keras tersebut. Misalnya apakah pembeliannya dilakukan secara terpusat oleh bagian pembelian ataukah menyerahkannya kepada para pengguna perangkat keras tersebut? Ada keunggulan dan kelemahan dari cara manapun yang diterapkan. Jika pembelian secara terpusat dapat dikatakan mengabaikan atau paling sedikit kurang memperhatikan preferensi pemakianya pada eselon bawahan. Sebaliknya, jika pemberlian dilakukan dengan pola desentralisasi kelemahan utamanya terletak pada kenyataan bahwa posisi tawar pembeli menghadapi penjual relatif lemah. Disamping itu pemeliharaannya menjadi rumit dan mahal karena merek, konfigurasi, dan karakteristik lain yang berbeda-beda. Kelebihannya ialah bahwa perangkat keras yang dibeli bukan hanya sesuai dengan preferensi pengguna, akan tetapi juga sesuai denagn keterampilan pemakai yang mungkin tidak atau kurang memahami segi teknologi perangkat keras tersebut.

Singkatnya, audit perangkat keras bertujuan untuk menjamin bahwa (a)konfigurasiu perangkat keras yang dimilki perusahaan sesuai dengan kebutuhan informasi baik untuk kepentingan rutin maupun non rutin, (b) aspek psikologis penggunaan teknologi informasi diperhitungkan dengan matang, khususnya sapek pemberian kesempatan kepada para manajer eselon bawahan untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, (c) perusahaan telah mempertimbangkan bahwa usia satu generasi perangkat keras relatif makin pendek, (d) pengoperasian perangkat keras tersebut didukung oleh para pekerja otak (brainware) yang memenuhi kualifikasi yang diperlukan sehingga benar-benar mampu memberikan dukungan informasi yang diperlukan oleh berbagai komponen perusahaan, dan (e) biaya pengadaan dan pemeliharaannya sudah merupakan beban yang paling ringan sehingga tidak sulit bagi perusahaan untuk memikulnya.
AUDIT PERANGKAT LUNAK


Pentingnya perangkat lunak dalam keseluruhan proses pengolahan data secara elektronik terlihat jelas pada kenyataan bahwa secanggih apapun perangkat keras yang dimilki oleh satu perusahaan, manfaat kecanggihan tersebut hanya dapat dipetik secara maksimal apabila disertai oleh perangkat lunak yang sesuai. Inti dari seluruh perangkat lunak ialah program atau instruksi yang diberikan ileh programmer kepada komputer untuk melakukan “pekerjaan” tertentu.
Sangat menarik untuk mengamati dan menyimak bahwa berbarengan dengan perkembangan di bidang perangkat keras, tercipta pula berbagai jenis perangkat lunak yang meungkinkan berbagai penggunaan perangkat keras tersebut. Jika perangkat lunak tertentu yang dihasilkan oleh perusahaan produsen perangkat keras, perangkat lunak tersebut biasanya digunakan untuk mengoperasikan perangkat keras yang dihasilkan oleh perusahaan yang sama. Akan tetapi, jika perangkat lunak tertentu dihasilkan oleh perusahaan yang bergerak khusus dalam bidang itu, produk tersebut biasanya bersifat compatible dalam arti dapat digunakan oleh berbagai perangkat keras lain, tidak terikat kepada merk atau perusahaan produsennya.hasil ciptaaan perangkat lunak tersebut terwujud antara lain dalam makin banyaknya bahasa komputer yang dewasa ini makin mudah memperolehnya sehingga penggunaanya tidak lagi terbatas pada aplikasi lain yang sejenis, akan tetapi juga untuk aplikasi lain yang jauh lebih canggih, seperti desain produk baru, kepentingan komunikasi, mengakses informasi di Internet, dan untuk kepentingan multimedia. Singkatnya untuk aplikasi yang dapat dikatakan tidak lagi terbatas.

Oleh kareana itu perangkat lunak merupakan salah satu objek audit manajemen pengolahan data. Tujuannya ialah untuk menemukan fakta tentang apakah perangkat lunak yang digunakan sudah merupakan perangkat yang paling tepat atau tidak, dan apakah penggunaannya sudah benar-benar untuk memenuhi kebutuhan informasi perusahaan. Selain itu penting pula diketahui apakah perangkat lunak yang digunakan diciptakan sendiri secara intern, atau diperoleh dengan jalan membelinya dari pihak lain atau vendor tertentu. Jika dibeli dari vendor, norma-norma moral dan etika menuntut agar pihak lain atau vendor adalah perusahaan yang bonafide dan tidak menjual produk bajakan. Memang benar bahwa produk bajakan mempunyai kemampuan yang sama dan harganya jauh lebih murah dari aslinya. Akan tetapi pembajakan melanggar “hak cipta “ (Intellectual Property Rights) dari pemiliknya yang sah dan dengan demikian merupakan tindakan yang tidak etis apabila perusahaan tertentu membeli dan menggunakan hasil bajakan tersebut. Audit harus mampu menemukan fakta tentang hal ini dan apabila terjadi, menyarankan kepada manajemen puncak agar hal tersebut tidak terulang lagi.
AUDIT PEKERJA OTAK (BRAINWARE)


Telah diketahui secara umum bahwa peranan para pekerja otak (brainware) atau unsur manusia dalam pengolahan data tidak hanya bersifat strategis, akan tetapi sangat dominan dan menentukan. Secanggih apapun perangkat keras yang tersedia, semutakhir apapun perangkat lunak yang ada dan kebutuhan akan informasi apapun yang timbul dan harus dipenuhi, pada analisis terakhir semuanya tergantung pada unsur manusianya.
Seperti diketahui para pekerja otak dalam pengolahan data terdiri dari tenaga-tenaga spesialis dalam berbagai aspek informatika, baik karena latar belakang pendidikan dan pelatihan yang telah pernah ditempuhnya –yang pada gilirannya membekali merelka dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu –maupun karena bakat, minat, dan pengalamannya. Mereka dapat dikategorikan pada berbagai jenis klasifikasi jabatan seperti: (a) mereka yang menduduki jabatan manajerial dalam satuan kerja pengolahan data, (b) pengembang sistem, (c) analis sistem, (d) pemrogram (programmers), (e) pimpinan proyek, (f) pengawas dan pengendali sistem, dan (g) operator mesin-mesin komputer danb perangkat keras lainnya.
Sesungguhnya persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pekerja otak ini jauh lebih berat dibandingkan dengan karyawan lain dalam perusahaan. Dikatakan demikian karena selaku pengolah data dan peyedia informasi bagi seluruh perusahaan, pekerja otak dituntut memahami dengan tepat seluk-beluk perusahaan, seperti yang menyangkut (a) sektor industri di mana perusahaan bergerak, (b) sejarah perusahaan, (c) struktur organisasi perusahaan, (d) kultur organisasi, (e) filsafat perusahaan, (f) orientasi perusahaan, (g) produk perusahaan baik dalam arti hanya menghasilkan satu produk unggulan atau menempuh kebijakan diversefikasi produk, (h) proses produksi yang biasanya dipakai, (i) pangsa pasar yang telah dan ingin dikuasai, (j) segmen pasar yang mau dan sudah didimasauki, (k) pemasok bahan mentah atau bahan baku, (l) sifat persaingan yang dihadapi, dan (m) pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk pemilik modal, pemilik saham, manajer, pemerintah, dan karyawan. Singkatnya pengenalan yang tepat tentang seluruh seluk beluk perusahaan. Pengenalan ini mutlak perlu karena dengan demikian mereka akan mngetahui kebutuhan informasi yang harus dipenuhi dan sumber data internal dan eksternal yang perlu digarap.
Oleh karena itu, segala upaya harus ditempuh untuk menjamin tersedianya pekerja otak yang memenuhi persyaratan pengetahuan, keterampilam, kepribadian, sikap, dan prilaku yang sesuai dengan tuntutan semua komponen perusahaan yang harus dilayani dan didukungnya. Ini berarti bahwa manajemen sumber daya manusia dalam perusahaan ahrus mengambil langkah dalam bidang fungsional yang penting ini secara tepat. Berarti semua fungsi manajemen SDM harus terselenggara sebaik mungkin antara lain meliputi: (a) perencanaan tenaga kerja pengolah data dengan berbagai kategori dan klasifikasinya, (b) rekrutmen, (c) seleksi, (d) orientasi, (e) penempatan, (f) pelatihan dan pengembangan, (g) perencanaan dan pengembangan karier, (h) sistem imbalan yang efektif, (i) penyediaan jasa-jasa dan bantuan organisasi, (j) penilaian kinerja yang objektif dan rasional, (k) pemeliharaaan hubungan yang serasi antara tenaga kerja tersebut dengan perusahaan, dan (l) program pensiun yang memungkinkan mereka mempertahankan martabatnya sebagai manusia apabila mereka harus “turun dari panggung kekayaan”.
Dengan demikian diharapkan pekerja otak tersebut akan: (a) memiliki motivasi yang tinggi untuk memberikan kontribusi maksimal kepada perusahaan, (b) menampilkan sikap- yang positif terhadap perusahaan, (c) bersedia membuat komitmen yang besar, keberhasilan perusahaan mencapai tujuan dan berbagai sasarnnya, serta (d) bersedia memikul tanggung jawab yang besar yang kesemuanya akan mengejawantah dalam efisiensi, efektifitas,dan produktifitas kerja yang tinggi.
Audit manajemen pengolahan data dalam bidang ini bertujuan untuk mengungkapkan faqkta tentang kebijakan dan praktek perusahaan tentang perlakuan yang diberikannya kepada pekerja otak tersebut. Banyak jenis teknik audit yang dapat digunakan untuk mengungkapkan fakta-fakta tersebut seperti wawncara, kuesioner, penelitian dokumen perusahaan, dan sebagainya. Dengan asumsi bahwa penyelenggara audit adalah tenaga profesional yang menguasai bidangnya, mereka akan dapat menentukan teknik audit apa yang paling tepat digunakan. Yang jelas ialah bahwa temuannya disampaikan kepada manajemen puncak, kepada manajer sumber daya manusia, dan kepada pekerja otak yang bersangkutan, baik untuk perbaikan apabila diperlukan, maupun demi peningkatan kinerja para pekerja otak tersebut di masa yang akan datang.

Tuesday, September 19, 2006

Sejarah IMAKSI

IMAKSI adalah suatu wadah yang menyalurkan aspirasi mahasiswa Program Studi Akuntansi UPI baik dalam bidang akademik, kemahasiswaan,olahraga,minat dan bakat serta sebagai ajang bagi mahasiswa Akuntansi UPI guna mengembangkan kegiatan bersosialisasi yang baik di lingkungan masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMAKSI) didirikan pada tanggal 10 Mei 2003. Ide awalnya berangkat dari keinginan untuk membentuk suatu organisasi kemahasiswaan yang bisa menampung berbagai aspirasi mahasiswa akuntansi UPI sekaligus menyalurkannya dalam bentuk positif yang terorganisir. Mka, di selenggarakanlah Musyawarah Mahasiswa (MUMAS) I. Terpilih sebagai Ketua Umum IMAKSI yang pertama yaitu Rani Astrianti (Ak '02) dan Gilang (Ak '02) sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa untuk periode kepengurusan 2003/2004. Pada MUMAS II IMAKSI, Rd.Bambang Seno Adi (Ak '02) menjadi ketua IMAKSI berikutnya dengan Ketua BPM, Shintanimargini (Ak '03) untuk periode 2004/2005. MUMAS III IMAKSI menetapkan kepengurusan periode 2005/2006 dengan Ketua Umum yakni Nurhayadi (Ak '03) dan Ketua BPM yakni Hari Nuraliman (Ak '02). Ketua IMAKSI yang ke-4 ialah Gugi Adiputra (Ak' 04) yang dipilih lewat MUMAS IV IMAKSI tanggal untuk periode 2006/2007. Ketua BPM dijabat oleh Nurhayadi (Ak '03)

Friday, July 28, 2006

Rasanya Baru Kemarin...
Puisi: KH.Mustafa Bisri
Rasanya
Baru kemarin
Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia.
Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDIP saja.

Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada.
Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.
Menteri-menteri yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi
Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pemerintah yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh
Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya
Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya
Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikanpara penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan
Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan
RasanyaBaru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka
Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,dan Kura-kura Ninja
Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin
Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin
(Hari ini ingin rasanyaAku bertanya kepada mereka semuaSudahkah kalian Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis
Dilalap krisis dan anarkis
Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri
Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.
Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya baru kemarin
Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita
Merdeka.
Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa
Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupaSudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin
Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin
Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi
Rasanya baru kemarinMasyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetananBendera merahputih yang selama ini dibanggakanSudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Rasanya baru kemarin
Legislatif yang lama sekali non aktif
Dan yudikatif yang pasif
Mulai pandai menyaingi eksekutif
Dalam mencari insentif
Rasanya baru kemarin
Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin
Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin
Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan
Sudah mulai kebingungan menerima orderan
NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis
Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis

Rasanya
Baru kemarin
Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan
Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi
Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati
Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini

Rasanya baru kemarin
Habibie sudah meninggalkan
Negeri menenangkan diri
Gus Dur sudah meninggalkan
Atau ditinggalkan partainya seorang diri

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya
Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan
AbdurrahmanMengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan
Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan
Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar
menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar
Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar
Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar
SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga
Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka
Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara
Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan
Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan
Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan
Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar
Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar
Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar

Rasanya baru kemarin
Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan
Obyek dan dipilihkan
Kini sudah dimerdekakan Tuhan
Dapat sendiri menentukan pilihan
Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan
Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan
Rakyat yang kebingungan mencari panutan
Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan

(Hari ini ingin rasanyaAku bertanya kepada mereka semua
Bagaiman rasanyaMerdeka?)

Rasanya baru kemarin
Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus
Aku sendiri tetap menjadi tikus

(Hari inisetelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita
Merdeka
(Ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)

Rembang, 17 Agustus 2004

Wednesday, July 26, 2006

Tuesday, May 23, 2006

kajian ayat
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Banyak orang yang tidak beriman kepada al-Qur'an sekalipun mereka mengaku sebagai orang yang beriman. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan berpegang pada khayalan, dan kehidupan mereka menyalahi al-Qur'an, bahkan mereka menolak al-Qur'an sebagai pembimbing mereka. Padahal, hanya al-Qur'an yang memberikan pengetahuan yang benar dalam masa kehidupan ini kepada setiap orang, dan al-Qur'an menjelaskan rahasia-rahasia penciptaan Allah dengan penjelasan paling benar dan paling murni. Informasi apa pun yang tidak berdasarkan pada al-Qur'an adalah informasi yang tidak benar, dengan demikian informasi tersebut merupakan tipuan dan khayalan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berpegang pada al-Qur'an hidupnya dalam keadaan mengkhayal. Di akhirat, mereka akan dilaknat selama-lamanya.
Dalam al-Qur'an, juga dalam shalat, perintah, larangan, dan akhlak yang baik, Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada umat manusia. Sesungguhnya semuanya ini merupakan rahasia penting, dan mata yang mau memperhatikan dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini di dalam hidupnya. Tidak ada sumber lain selain al-Qur'an yang dapat menjelaskan rahasia-rahasia ini. Al-Qur'an adalah sumber istimewa bagi rahasia-rahasia ini, sehingga siapa pun orangnya, betapapun ia orang yang cerdas dan melek huruf tidak akan pernah menemukan rahasia-rahasia ini di tempat lain.
Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur'an, sedangkan orang lain dapat memahaminya, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyukan dalam al-Qur'an hidup dalam keadaan menderita dan berada dalam kesulitan. Ironisnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur'an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira.
Sebabnya adalah karena al-Qur'an itu jelas, mudah, dan cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang. Dalam al-Qur'an, Allah menyatakan sebagai berikut:
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus." (Q.s. an-Nisa': 174-75).
Namun demikian, kebanyakan manusia, meskipun mereka sanggup memecahkan masalah yang sangat sulit, memiliki pemahaman dan mampu mempraktikkan filsafat yang sangat membingungkan, ternyata tidak mampu memahami hal-hal yang jelas dan sederhana yang terdapat dalam al-Qur'an. Sebagaimana tetah dijelaskan dalam buku ini, persoalan ini merupakan rahasia yang penting. Di samping tidak mampu memahami sifat dunia yang sementara, hari demi hari orang-orang seperti ini semakin dekat kepada kematian yang tak dapat dielakkan. Rahasia-rahasia dalam al-Qur'an merupakan rahmat bagi orang beriman, dan di sisi lain, al-Qur'an memberikan ancaman bagi orang-orang kafir, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Allah menjelaskan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
"Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu hanyalah menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim." (Q.s. al-Isra': 82).
Buku ini membicarakan tentang persoalan-persoalan yang berhubungan dengan ayat-ayat yang telah diwahyukan Allah kepada manusia sebagai suatu rahasia. Ketika seseorang membaca ayat-ayat ini, dan perhatiannya tertuju kepada rahasia-rahasia yang terkandung dalam ayat ini, maka yang harus ia lakukan adalah berusaha mengetahui maksud Allah di balik berbagai peristiwa, lalu memikirkan segala sesuatunya berdasarkan al-Qur'an. Maka, orang-orang pun akan menyadari dengan kesadaran yang mendalam tentang rahasia-rahasia tersebut, sehingga al-Qur'an akan mengendalikan kehidupan mereka dan kehidupan orang lain.
Semenjak orang bangun pada pagi hari, wujud dari rahasia-rahasia yang diciptakan Allah ini dapat dilihat. Untuk memahami rahasia-rahasia ini, yang ia perlukan hanyalah selalu memperhatikannya, berpaling kepada Allah, dan bertafakur. Maka, ia akan menyadari bahwa hidupnya sama sekali tidak tergantung pada hukum-hukum yang merugikan sebagaimana yang dipakai banyak orang, dan ia akan menyadari bahwa satu-satunya kekuasaan dan hukum yang dapat dipercaya hanyalah hukum Allah. Ini merupakan rahasia yang sangat penting. Tidak ada kebaikan di dalam aturan-aturan dan praktik-praktik yang digunakan kebanyakan orang selama berabad-abad yang dianggap sebagai kebenaran yang pasti. Sesungguhnya, orang-orang ini telah tertipu. Kebenaran adalah apa yang dinyatakan dalam al-Qur'an. Siapa pun yang membaca al-Qur'an dengan ikhlas, lalu memikirkan berbagai peristiwa berdasarkan al-Qur'an dan iman, dan mendekatkan diri kepada Allah, ia akan melihat dengan jelas rahasia-rahasia ini. Perbuatan inilah yang akan memberikan pemamahan yang lebih baik bahwa Allah adalah Yang Maha Esa Yang mengendalikan setiap makhluk, hati, dan pikiran, sebagaimana pernyataan Allah dalam sebuah ayat:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Q.s. Fushshilat: 53).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis bermaksud untuk mencoba mengkaji salah satu ayat Allah yaitu Q.s.Adz-dzariyat: 2, ayat ini bercerita tentang awan yang mengandung hujan. Semoga dengan mengkaji ayat ini, kita dapat semakin meyakini tanda-tanda kekuasaan Allah dan semoga kita semakin yakin bahwa Al-Quran itu benar-benar kitab Allah yang membawa kebenaran dan kemaslahatan bagi seluruh umat di dunia ini.

1.2 Rumusan Masalah
Untuk memahami makna yang terkandung pada surat Adz-dzariyat ayat 2 ini, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Terjemahan dari Q.s.Adz-dzariyat: 2
2. Telaah tafsir dari Q.s.Adz-dzariyat: 2
3. Kajian keilmuan tentang awan,hujan dan proses terjadinya hujan
4. Ayat-ayat lain yang mendukung seperti:



1.3 Tujuan
Tujuan penulis mengkaji Q.s.Adz-dzariyat: 2 adalah:
1. Memenuhi salah satu tugas Tutorial Agama Islam.
2. Memahami isi dan kandungan dari Q.s.Adz-dzariyat: 2
3. Mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mengkaji salah satu ayatnya, yaitu Q.s.Adz-dzariyat: 2, tentang awan yang mengandung hujan.
4. Menambah keyakinan dan ketaqwaan kepada Allah s.w.t. dengan mengetahui tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya dalam mengatur alam semesta sehingga alam ini dapat berguna bagi manusia sebagai makhluk ciptaanya yang paling sempurna.

1.4 Sistematika Makalah
KAJIAN AYAT AL-QUR’AN SURAT ADZ-DZARIAT AYAT 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Sistematika Makalah
BAB II ISI
2.1 Terjemah Q.s.Adz-dzariyat: 2
2.2 Telaah Tafsir Q.s.Adz-dzariyat: 2
2.3 Ayat-ayat lain yang mendukung Q.s.Adz-dzariyat: 2
2.4 Kajian Keilmuan
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Teori kepribadian Abraham Maslow

Abraham Harold Maslow lahir pada tanggal 1 April 1908 di Brooklyn, New York. Dia anak pertama dari tujuh bersaudara. Kedua orangtuanya adalah penganut yahudi tidak berpendidikan yang berimigrasi dari Rusia. Karena sangat berharap anak-anaknya berhasil di dunia baru, kedua orang tuanya memaksa Maslow dan saudara-saudaranya belajar keras agar meraih keberhasilan di bidang akademik. Tidak heran jika semasa kanak-kanak dan remaja, Maslow menjadi anak penyendiri dan menghabiskan hari-harinya dengan buku.
Maslow mendapat kedudukan dari departemen psikologi di Branders dari 1951 sampai 1969. disitu dia bertemu Kurt Goldstein, yang memberi ide atau pikiran tentang aktualisasi diri dalam bukunya yang terkenal, The Organism (1934). Disini juga dia memulai mengenalkan psikologi humanistik – sesuatu yang besar yang lebih penting untuk dia daripada teori yang dibuatnya.
Maslow mengembangkan gagasan ini lebih lanjut dan dikenal dengan sebutan hirearki kebutuhan:
Kebutuhan fisiologis. Ini termasuk kebutuhan akan oksigen, air, protein, garam, gula, kalsium, dan lainnya seperti mineral dan vitamin. Ini juga, termasuk kebutuhan untuk menjaga PH agar seimbang dan suhu yang sesuai. Dan juga, ada kebutuhan untuk aktif, istirahat, tidur, untuk melepaskan diri dari yang tidak dibutuhkan ( CO2, keringat, air kencing, dan kotoran ), untuk menjaga agar tidak sakit dan untuk memenuhi seks.
Kebutuhan rasa aman. Kalau kebutuhan fisiologis sudah diperhatikan, barulah lapisan kebutuhan kedua ini muncul. Anda akan semakin ingin menemukan situasi dan kondisi yang aman, stabil dan terlindung. Anda perlahan – lahan akan menginginkan struktur dan tatanan. Sebaliknya, jika kebutuhan lapisan kedua ini dilihat secara negatif, perhatian anda akan terfokus bukan pada persoalan lapar dan haus, tapi pada rasa takut dan kecemasan. Dikalangan orang-orang dewasa di amerika, kebutuhan ini akan terwujud dalam keinginan mereka yang sangat kuat untuk tinggal berdekatan dengan tetangga yang baik, pekerjaan yang aman, perencanaan masa pension yang matang, asuransi, dan lain sebagainya.
Kebutuhan cinta dan rindu (kebutuhan untuk dimiliki atau memiliki). Ketika kebutuhan fisiologis dan rasa aman sudah terpenuhi , kebutuhan lapisan ketiga pun muncul. Anda mulai merasa butuh teman, kekasih, anak dan bentuk hubungan berdasarkan perasaan Lainnya. Dilihat secara negative, anda akan semakin mencemaskan kesendirian dan kesepian. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ini dapat berbentuk keinginan untuk menikah, memiliki keluarga, menjadi bagian dari satu kelompok atau masyarakat.
4. Kebutuhan harga diri. Setelah itu kita akan mencari harga diri. Maslow mengatakan bahwa ada dua bentuk kebutuhan terhadap harga diri ini : bentuk yang lemah dan yang kuat. Bentuk yang lemah adalah kebutuhan kita untuk dihargai orang lain, kebutuhan terhadap status, kemuliaan, kehormatan, perhatian, reputasi, apresiasi bahkan dominasi. Sementara yang kuat adalah kebutuhan kita untuk percaya diri, kompetensi, kesuksesan, independensi dan kebebasan. Bentuk kedua ini lebih kuat karena sekali didapat kita tidak melepaskannya, berbeda dengan kebutuhan kita akan penghargaan orang lain.
Bentuk negative dari kebutuhan akan harga diri ini adalah rendah diri dan kompleks inferioritas. Maslow mwmbenarkan Adler ketika mengatakan bahwa masala inlah yang menjadi dasar masalah-masalah psikologis. Di Negara-negara modern, sebagian besar orang hanya mementingkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Sering orang tidak terlalu memedulikan kebutuhan mereka akan cinta dan kerinduan.
kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengenal realita. Jadi manusia memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui, memahami buka saja tentang dirinya, tetapi juga diluar dirinya.
aktualisasi diri.Tingkat terakhir ini agak sedikit berbeda dengan empat tingkat sebelumnya. Maslow menyebut tingkat ini dengan istilah berbeda-beda: motivasi pertumbuhan (sebagai lawan dari motivasi devisit), kebutuhan-kebutuhan untuk ada (being-needs) atau B-Needs (sebagai lawan dari D-Needs). B-Needs adalah kebutuhan untuk aktualisasi-Diri. Kebutuhan-kebutuhan aktualisasi diri ini tidak memerlukan penyeimbangan atau homeostatis. Sekali diperoleh, dia akan terus dirasakan. Kebutuhan ini memang akan meningkat kalau kita “menyebarkannya”. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat untuk terus-menerus mewujudkan potensi-potensi diri, keinginan untuk “menjadi apa yang anda bisa”. Kebutuhan ini lebih merupakan persoalan menjadi yang sempurna, menjadi “Anda” yang sebenarnya. Oleh karena itulah kebutuhan ini disebut aktualisasi-diri.
Meta Kebutuhan dan Mega Patologi
Cara lain yang ditempuh Maslow untuk mengetahui apakah sesungguhnya aktualisasi-diri adalah dengan menyelidiki apa yang menjadi kebutuhan paling dasar (B-needs) orang-orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Kebutuhan-kebutuhan yang ingin mereka penuhi demi kebahagiaan adalah:
Kebenaran, bukan kepalsuan.
Kebaikan, bukan kejahatan .
Keindahan, bukan sesuatu yang jelek atau vulgar.
Kesatuan, kemenyeluruhan dan penghilangan oposisi biner, bukan pilihan-pilihan sekehendak hati.
Kehidupan yang hidup, bukan kematian atau kehidupan bagai mesin.
Keunikan, bukan keseragaman.
Kesempurnaan dan kepastian, bukan hal yang asal-asalan, ketidakkonsistenan atau kebetulan.
Penyelesaian, bukan keterbengkalaian.
Keadilan dan keteraturan, bukan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
Kesederhanaan, kerumitan-kerumitan yang tidak perlu.
Kebercukupan sumber daya, bukan lingkungan yang miskin.
Kewajaran, bukan sesuatu ynag didasarkan pada paksaan.
Keriangan dan Kegembiraan, bukan sesuatu yang kasar dan mekanistik, kering tanpa humor.
Kemandirian, bukan ketergantungan.
Kebermaknaan, bukan kehampaan hati.









Monday, May 22, 2006

Beban Bunga Utang Indonesia Cuma 1,3 persen.
Selasa, 03 Mei 2005 20:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan (Depkeu) Mulia Nasution menyatakan pemerintah telah menerima draft nota kesepahaman (MoU) dari sekretariat Paris Club. Pemerintah juga menyatakan menerima beban bunga utang yang dikenakan Jepang sebesar 1,3 persen. "Kami sudah menerima draft dari sekretariat Paris Club dan kami diminta untuk memberi tanggapan. Pada prinsipnya kami menyetujui,"kata Mulia di Depkeu Jakarta, Selasa (3/5). Disetujuinya beban bunga itu, karena Jepang telah menurunkan beban bunga dari sebelumnya. Sebelum direstrukturisasi beban bunga yang ditawarkan adalah 2,4 persen hingga menjadi 1,3 persen. Adapun dana dari US$ 2,6 miliar utang yang masuk skema moratorium, utang Indonesia kepada Jepang sebesar US$ 1,6 miliar. Pemerintah juga terikat dengan ketentuan yang ada dalam MoU tersebut. Dalam nota kesepahaman itu ditegaskan beban bunga ditentukan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing negara. "Satu negara satu tingkat bunga dan tingkat bunga nggak mungkin sama, bisa berbeda-beda,"ujarnya.Meskipun pemerintah telah menyetujui beban bunga yang ditetapkan Jepang, pemerintah tetap mengupayakan agar Indonesia tetap mendapatkan bunga nol persen (zero interest) terhadap negara anggota Paris ClubBahkan dari beberapa negara anggota Paris Club, meskipun belum secara resmi menyampaikan saat ini sudah terdapat beberapa negara yang membuka kesempatan untuk memberikan bunga zero interest. Kami belum menerima secara resmi dari Perancis dan Inggris. Tapi kemungkinannya mereka akan memberikan zero interest,"kata Mulia.Selain mengenai beban bunga yang ditetapkan, dalam MoU tersebut, Mulia juga dijelaskan mengenai mekanisme pembayaran utang. Dalam nota kesepahaman itu dikatakan pembayaran akan dilakukan selama tujuh kali terhitung mulai Desember 2006 hingga 2009. "Semua dibayar dua kali setahun kecuali 2006 hanya satu kali pada 1 Desember 2006. utnuk tahun berikutnya akan dibayar pada Juli dan Desember,"ujarnya.
Suryani Ika Sari

Sekali Lagi Utang dan Imperialisme Wednesday, Jan 25 2006, 2:34am
Oleh : Revrisond Baswir

Kritik terhadap utang luar negeri belakangan ini cenderung semakin meningkat. Kritik tak hanya muncul sehubungan dengan efektivitas serta implikasi sosial dan politiknya, namun meluas hingga mencakup sisi kelembagaan dan ideologinya.
Pada sisi efektivitasnya, secara internal, utang luar negeri tidak hanya dipandang telah menjadi penghambat tumbuhnya kemandirian ekonomi negara-negara Dunia Ketiga. Ia juga diyakini menjadi pemicu terjadinya kontraksi belanja sosial, merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan ekonomi (Pearson, 1969; Kindleberger dan Herrick, 1977; Todaro, 1987).Sedangkan secara eksternal, utang luar negeri diyakini menjadi pemicu meningkatnya ketergantungan negara-negara Dunia Ketiga pada pasar luar negeri, arus masuk modal asing, dan terjadinya ketergantungan pada utang luar negeri secara berkesinambungan (Payer, 1974; Gelinas, 1998).Pada sisi implikasi sosial dan politik, utang luar negeri tidak hanya dipandang sebagai sarana yang sengaja dikembangkan oleh negara-negara pemberi pinjaman, untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman. Secara tidak langsung ia juga diyakini turut bertanggungjawab terhadap munculnya rezim diktator, kerusakan lingkungan, meningkatnya tekanan migrasi dan perdagangan obat-obat terlarang, serta terhadap terjadinya konflik dan peperangan (Gilpin, 1987; Goerge, 1992; Hanlon, 2000).Pada sisi kelembagaan, lembaga-lembaga keuangan multilateral yang berperan sebagai penyalur utang luar negeri, seperti Bank Dunia dan IMF, tidak hanya dipandang telah bersikap tidak transparan dan tidak akuntabel, keduanya diyakini telah bekerja sebagai kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama yang menjadi pemegang saham utama mereka (Rich, 1999; Stiglitz, 2002; Pincus dan Winters, 2004).Sedangkan pada sisi ideologi, utang luar negeri diyakini telah dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman, terutama Amerika Serikat (AS), sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia. Dengan dipakainya utang luar negeri sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal, berarti utang luar negeri telah dengan sengaja dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari seluruh penjuru dunia (Erler, 1989).Menyimak berbagai kritik tersebut, mudah dimengerti bila berkembang pemikiran yang mencoba melusuri jejak utang luar negeri sebagai sarana imperialisme negara-negara Dunia Pertama. Studi pertama yang secara khusus melakukan hal itu adalah yang dilakukan oleh Teresa Hayter. Berangkat dari hasil penelitiannya yang dibiayai oleh Bank Dunia di empat negara Amerika Latin, Columbia, Chile, Brasil, dan Peru, tahun 1971, Hayter kemudian menerbitkan sebuah buku dengan judul Aid as Imperialism. Dalam buku setebal 222 halaman tersebut, Hayter secara tegas menyimpulkan bahwa, ''Uang luar negeri bukanlah transfer sumberdaya yang bebas persyaratan.'' Menurut Hayter, hal-hal yang dipersyaratkan dalam pemberian utang luar negeri biasanya adalah: (a) pembelian barang dan jasa dari negara pemberi pinjaman; (b) peniadaan kebebasan dalam melakukan kebijakan ekonomi tertentu, misalnya, nasionalisasi perusahaan asing (khususnya yang dilakukan tanpa kompensasi); (c) permintaan untuk melakukan kebijakan-kebijakan ekonomi ''yang dikehendaki'' -- terutama peningkatan peran sektor swasta dan pembatasan campur tangan langsung pemerintah dalam bidang ekonomi.Berdasarkan ketiga persyaratan tersebut, menurut Hayter, ''Aid is, in general, available to those countries whose internal political arrangements, foreign policy alignments, treatment of foreign private investment, debt-servicing record, export policies, and so on, are considered desirable, potentiallly desirable, or at least acceptable, by countries or institution providing aid, and which do not appear to threaten their interest.''Selanjutnya, ketika berbicara mengenai IMF, Bank Dunia, dan USAID, Hayter secara jelas menyatakan bahwa sudut pandang ketiga lembaga tersebut dalam menetapkan kriteria dan syarat pemberian pinjaman cenderung seragam. Fokus kebijakan ketiganya, terutama IMF dan Bank Dunia, senantiasa mengarah pada pengendalian inflasi serta perintah untuk memotong investasi publik dan belanja kesejahteraan.Menurut Hayter, faktor utama di balik kecenderungan tersebut adalah posisi dominan AS pada ketiga lembaga itu. Implikasinya, walaupun tidak dinyatakan secara terbuka, dalam memberikan pinjaman, ketiga lembaga tersebut tidak hanya mengevaluasi proyek yang akan mereka biayai, tetapi juga negara yang akan menerima pinjaman tersebut.Kesimpulan Hayter yang mengkonfirmasikan keberadaan utang luar negeri sebagai sarana imperialisme itu belakangan dipertegas oleh Hudson. Menurut Hudson (2003), tujuan pemberian pinjaman oleh AS sejak 1960 bukanlah untuk membantu negara-negara penerima pinjaman, melainkan untuk meringankan tekanan terhadap neraca pembayaran negara tersebut. Kebijakan itu erat kaitannya dengan upaya pemerintah AS untuk mensubsidi peningkatan ekspor berbagai produknya ke seluruh penjuru dunia.Dalam rangka itu, sebagaimana diakui Perkins (2004), AS tidak hanya bekerja melalui mekanisme hubungan politik dan ekonomi biasa. AS secara terstruktur mengembangkan sebuah profesi yang dikenal sebagai preman ekonomi (economic hit man), yang bernaung di bawah Badan Keamanan Nasional (NSA), yaitu yang secara khusus bertugas membangkrutkan negara-negara Dunia Ketiga dengan sarana utang luar negeri.Sebagai sebuah negara yang terpuruk di bawah himpitan utang luar negeri sebesar 80 miliar dolar AS, dengan angsuran pokok dan bunga utang dalam dan luar negeri mencapai sepertiga APBN, Indonesia patut dicatat sebagai sebuah negara Dunia Ketiga yang menjadi korban para preman ekonomi seperti Perkins. Hal itu tidak hanya dikonfirmasikan oleh Perkins, tetapi diperkuat oleh berbagai fakta lain seperti keterlibatan lembaga-lembaga pemberi pinjaman dalam menyusun berbagai produk perundang-undangan di Indonesia.Masalahnya, elit ekonomi dan politik Indonesia tampaknya telanjur dipenuhi oleh para kaki tangan kaum imperialis, sehingga penderitaan rakyat di bawah himpitan beban utang sama sekali tidak menjadi halangan bagi mereka untuk terus membuat utang luar negeri baru. Jangan-jangan selama 60 tahun ini penjajahan hanya sekedar berganti gaya, tetapi secara substansial masih terus berlanjut di Indonesia? Republika.
Senin, 23 Januari 2006

Politik Utang Indonesia: Poltik Tambal Sulam
Indonesia ngutang lagi....! Ya, Indonesia kembali meminta pinjaman hutang dari forum Consultative Groups for Indonesia (CGI) yang terdiri dari 21 negara anggota, termasuk di dalamnya IMF, Bank Dunia, ADB (Asian Depelopment Bank). Dan tidak tanggung-tanggung, untuk tahun fiskal 2004 besok Indonesia mendapatkan pinjaman sebesar US $ 3,4 M (Rp 28,9 Triliyun). Pinjaman ini diajukan kembali, menurut Menteri Keuangan Budiono, untuk menutupi difisit APBN 2004 sebesar Rp 28 Triliyun.
Setelah bersidang 10-11 Desember kemarin di Jakarta dalam pertemuannya ke 13, CGI akhirnya memutuskan memberikan komitmen pinjaman kepada Insonesia sebesar US $ 2,8, terdiri dari jumlah utang US ,8 M, hibah US $ 160 juta. Dan, ADB merupakan donatur terbesar US 0 juta. Diikuti Jepang US 0 juta dan Bank Dunia Sebesar US $ 800 juta.
Kepala Badan Analisa Fiskal Anggito Abimanyu menyatakan bahwa pengajuan pinjaman kali ini lebih besar dari tahun sebelumnya US ,28 M. Target pinjaman itu terdiri dari pinjaman proyek sebesar Rp 19,7 triliyun, pinjaman program Rp 8,5 triliyun dan hibah Rp 650 M. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan biaya pembangunan dari Rp 18,9 triliyun menjadi Rp 19,7 triliyun. Selain itu, utang luar negeri yang jatuh tempo tahun depan juga naik. Sedangkan pinjamn program turun dari Rp 10,3 triliyun menjadi Rp 8,5 triliyun dan hibah mengalami kenaikan dari Rp 0,34 triliyun menjadi Rp 0,63 triliyun.
Kwik Kian Gie, Kepala BAPENAS, menegaskan bahwa beban utang luar negri Indonesia saat ini mencapai Rp 24,4T dengan cicilan utang pokok Rp 44,4T. Pembayaran bunga utang telah mencapi 92,6% dari total anggaran nasional. Sedangkan jika diperhitungkan atas bunga dan jumlah utang pokok maka beban yang harus ditanggung anggaran mencapai 185%.
CGI Tidak EfektifDan untuk kali kesekian Kwik mengkritik kebijakan pemerintah yang masih gotot menjalin “hubungan asmara” dengan lembaga donatur seperti CGI. “ Pinjaman CGI tidak efektif”, demikian tandasnya seperti diungkap Rebublika Kamis (11/12 2003) kemarin. “APBN 2004 besok, 92,67% dari seluruh anggaran sebesar Rp 70,9 triliyun itu adalah hanya unutk pembayaran bunga utang” tegasnya dengan perincian :
1. Pembayaran bunga utang dalam negeri Rp 42,4 T, sedangkan bunga utang luar negeri mencapai Rp 24,4 T. Total untuk kedua pos ini saja Rp 65,7 T.
2. Cicilan utang pokok dalam negeri yan gjatuh tempo Rp 21,2 T, sedangkan cicilan utang pokok luar negeri Rp 44,4 T. Total keseluruhan untuk pos ini Rp 65,5 T.
Sehingga, total utang secara keseluruhan sebesar Rp 131,2 T.
Untung Rugi CGI
Selain tidak efektif, bantuan-bantuan konsorsium CGI juga lebih banyak menimbulkan kerugian dari pada keuntungan buat Indonesia. Untuk lebih jelas bisa kita lihat sebagai berikut.
Keuntungan yang diperoleh:
1. Menutup defisit APBN 2. Menggerakkan sejumlah proyek pembangunan 3. Menaikkan peringkat investasi Indonesia
Sementara kerugian yang ditimbulkan 1. Lebih dari 30% dana bantuan itu tidak terserap 2. Negara-negara donatur menjadi pengatur (donor-led), sementara Indonesia tidak bisa berperan 3. Tidak efektif bagi perbaikan ekonomi nasional. Hal ini terkait dengan pembayaran utang CGI tidak melalui dana hasil investasi utang itu sendiri. Tapi menutupnya dengan pengajuan utang baru, alias tambal sulam bin gali lobang tutup lobang.
Laporan Bank Dunia dengan tema Indonesia; Beyond Macroeconomy Stability yang diajukan dalam rapat hari pertama CGI, semakin mempertegas argumentasi Kwik bahwa betapa dana-dana investasi dalam bentuk utang itu sangat tidak efektif. Bank Dunia dalam laporannya mensilnyalir bahwa program Raskin (Beras untuk rakyat miskin) hanya 18% yang sesuai sasaran. Sementara 74% nya malah jatuh ke tangan-tangan kelomok nonmiskin. Lebih jelas lagi, dari anggaran Rp 4,83 T yang dialokasikan ke Perum Bulog tahun 2003, 53% nya digunakan untuk mensubsidi nonmiskin dan 30% sisanya habis hanya untuk biaya operasional plus keuntungan Bulog. Yang lebih menyayat hati adalah dari jatah 20 Kg perkeluarga perbulannya, hanya terealisasi 6-10,4 Kg saja.
CGI Sama Dengan IMF
Di saat CGI sedang melaksanakan agenda rapat tahunannya di Jakarta, pada saat yang sama telah ditanda tangani pula Letter of Intent (LoI) terakhir antara IMF dan pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Keuangan Budiono dan Menkoekuin Dorojatun Kuncjorojakti juga di Jakarta. Dalam LoI itu IMF akan mengucurkan dana sebesar US 0 juta dengan suku bunga 2,6%. Selanjutnya total utang yang masih harus dilunasi sebelum 2009 adalah sebesar US M dari US M total keseluruhan utang yang diberikan IMF sejak awal negeri ini diterpa badai krisis tahun 1997 lalu.Jumlah Pinjaman Pemerintah kepada IMF pascakrisis
Tahun 1997: 2,92 M US $.Tahun 1998: 5,64 M US $. Tahun 1999: 1,34 M US $.Tahun 2000-2003: 4,82 M US $.
Namun demikian tahun 2007 nanti Indonesia dijadwalkan telah mencapai status 100%, karenanya Post-Program Monitoring (PPM) juga berakhir dan selanjutnya IMF berkunjung ke Indonesia secara reguler hingga 2009, tegas Dorojatun. Budiono menambahkan bahwa program Penyehatan perbankan, privatisasi BUMN, disiplik fiskal dan stabilitas moneter yang menjadi otoritas Bank Indonesia, merupakan 4 hal yang menjadi perhatian (baca; tuntutan) IMF dalam LoI terakhir tersebut.
Selain itu, program (baca ; instruksi) IMF yang masih tersisa hingga akhir Desember ini adalah :
1. Mayoritas saham pemerintah di BII dan Bank Permata,2. Mengumumkan rencana strategis untuk Bank Mandiri,3. Menyelesaikan perluasan penarikan atas wajib pajak besar hingga mencapai 35% dari total penerimaan pajak,4. Komisi anti-korupsi beroperasi penuh, dan 5. Privatisasi harus mencapi target Rp 8 T
Bukanlah menjadi rahasia umum lagi jika CGI (Consultative Group for Indonesia) merupakan lembaga donor multilateral yang merupakan kepanjangan tangan dari 3 tangan setan ekspansi global kapitalisme; IMF-Bank Dunia-WTO dan dipimpin oleh Bank Dunia. Anggotanya antara lain Bank Dunia, Australia, Belgia, Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Indonesia (sebagai penerima), Italia, Jepang, Korea, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Swiss, Swedia, Inggris dan lembaga-lembaga berikut; Asian Development Bank, European Investment, European Commission, International Finance Corporation, International Fund for Agricultural Development, IMF, Islamic Development Bank (IDB), Kuwait Fund for Arab Economic Development, Nordic Investment Bank, Organization for Economic coorporotion & Development, Saudi Fund for Development, United Nation Childern’s Fund dan UNDP (United Nation Development Programme).
Tidak ada bedanya antara CGI, IMF, Bank Dunia dan WTO. Mereka ibarat one for all and all for one. Pertemuan Indonesia dengan CGI memang tahunan dan rutin, tidak seperti IMF yang datang hanya saat krisis. Tapi karena IMF dan Bank dunia ada di dalam CGI, maka sebenarnya setiap tahun pun kita dikontrol oleh lembaga-lembaga itu.
Masih segar dalam ingatan kita ketika IMF “ngambek” pada rezim Habibie karena tidak diberikan Long Form Bank Bali, maka CGI pun turut menunda pemberian utang. Atau ketika BPPN dan Bapenas pada awal tahun ini berani berteriak-nyaring untuk anti-IMF sehubungan dengan masalah tekanan IMF dalam proses percepatan divestasi bank maka CGI pun mengancam untuk mundur dari konsorsium donor buat Indonesia. Dengan kata lain, yang penulis tegaskan pada kesempatan ini adalah menolak CGI bukan merupakan isu terpisah dengan menolak lembaga keuangan internasional lainnya yang jelas-jelas merupakan antek-antek kapitalisme.
Catatan Penutup
Persoalan utang Indonesia yang telah menghancurkan-leburkan dan mengorbankan negeri ini dari segi kedaulatan nasional, hukum dan berjuta rakyat sipil yang semakin miskin bukanlah semata kedunguan dan kesalahan pemerintah dan negara, baik dilihat dari mentalnya yang masih kental dengan unsur KKN, tidk transparan, bad governance dan lain sebagainya.
Karenanya, harus dicermati setiap pernyataan dari IMF, CGI dan Bank Dunia serta para ekonom liberal yang selalu menyalahkan pemerintah ansich, sebab memang mereka hendak menutupi kepentingan mereka yang sebenarnya. Dus, jangan pernah berharap ada upaya penghapusan kemiskinan selama globalisasi neoliberal masih trus dibiarkan berlangsung. Baik karena mekanismenya ataupun kacaunya pengelolaan utan gpemerintah Indonesia dan kita jua tidak sedang menjual bangsa ini dan menjadikan rakyat sebagai budak di negeri sendiri. Jawaban tegasnya “Hapuskan Utang Lama, Tolak Utang Baru....!!!


Direktur BI: Hindari Penjadwalan Utang

Jakarta, Sinar Harapan Direktur Luar Negeri Bank Indonesia (BI), Kusumaningtuti, mengatakan pemerintah perlu menghindari penjadwalan utang luar negeri karena opsi tersebut tidak menyelesaikan beban utang tetapi hanya menggeser yang justru dapat menimbulkan persoalan ke depan. Pemerintah juga diminta menghindari tawaran pembiayaan berbentuk pinjaman konvensional karena penggunaan dananya kurang fleksibel dan terkait proyek tertentu saja. ”Kalau memang ada indikasi, kita akan mendapat 2 tahun reschedulling (penjadwalan utang), sebenarnya reschedulling normal itu hanya menggeser beban utang. Jadi BI merasa was-was (khawatir) kalau opsi itu diterima pemerintah,” ujarnya dalam seminar ”Strategi Pendanaan Luar Negeri” di Bappenas, Jakarta, Kamis (13/1). Sebenarnya, kata Kusumaningtuti, opsi yang reasonable (masuk akal) saat ini adalah moratorium utang dalam bentuk pembatalan atau pengurangan utang. Jika tawaran moratorium berbentuk penjadwalan ulang, tidak akan mengurangi beban utang Indonesia.Menurut Kusumaningtuti, ada beberapa opsi yang bisa ditempuh pemerintah, di antaranya melalui opsi tanpa Paris Club yakni cancellation (pembatalan) atau reduction (pengurangan) utang atas kewajiban membayar untuk proyek-proyek, baik yang dibiayai kreditor bilateral maupun lembaga multilateral. Saat ini total proyek di Aceh dan di Sumatra Utara mencapai US$ 5,05 miliar. Dari jumlah tersebut jumlah proyek yang dibiayai utang luar negeri di Aceh yang bisa diajukan untuk di-cancel sebesar US$ 218,5 juta, di mana 85,2 persen di antaranya dibiayai JBIC (Japan Bank for International Cooperation). Opsi lain yang bisa diajukan pemerintah adalah melalui opsi pertukaran utang (debt swap), di mana potensial utang luar negeri Indonesia yang terbuka untuk program ini bisa mencapai US$ 818 juta.”Opsi lain yang bisa ditempuh adalah negosiasi bilateral dengan Jepang karena Jepang merupakan kreditor terbesar dari Indonesia. Dari total outstanding utang Indonesia sebesar US$ 79,9 miliar, 35,5 persen di antaranya atau sebesar US$ 28,4 miliar berasal dari Jepang,” kata Kusumaningtuti. Karena merupakan kreditor yang sangat strategis, tidak ada salahnya pemerintah meminta hibah (grant) kepada Pemerintah Jepang dalam rangka mendukung rekonstruksi Aceh. Pemerintah juga bisa mengupayakan pinjaman jangka panjang tanpa bunga kepada Pemerintah Jepang. ”Pemerintah harus menyambut tawaran grant dari kreditor dan mengadakan lobi untuk mendapatkan grant dalam jumlah maksimal. Pemerintah Jepang memang sensitif dengan isu-isu pengurangan utang. Sehingga tidak ada salahnya kalau pemerintah meminta grant kepada Jepang,” jelasnya. Ditambahkan, pemerintah sebenarnya juga bisa mengajukan moratorium utang melalui Paris Club dan dengan negosiasi yang bagus bisa saja pemerintah mendapatkan skema naples term, di mana pemerintah bisa memperoleh maksimum debt reduction (pengurangan utang) sampai 67 persen dari stok total utang luar negri non ODA yang telah dijadwal ulang dalam rangka Paris Club. Dengan skema ini pula Indonesia bisa memperoleh tingkat bunga yang lebih ringan. ”Dari opsi ini potensial moratorium utang luar negri Indonesia maksimal US$ 4,7 miliar,”kata Kusumaningtuti. Dijelaskan, posisi pinjaman pemerintah terhadap kreditor Paris Club per 30 November 2004 mencapai US$ 47,8 miliar, dari total outstanding utang luar negri Indonesia sebesar US$ 79,9 miliar.Dari US$ 47,8 miliar ke Paris Club tersebut, sebesar US$ 15,2 miliar diantaranya sudah dilakukan penjadwalan utang (rescheduling), yang terdiri dari pinjaman ODA sebesar US$ 5,4 miliar dan non-ODA sebesar US$ 7 miliar. Rekening KhususKusumaningtuti juga menambahkan, untuk mengelola bantuan kemanusiaan maupun bantuan rekonstruksi di Aceh dan Sumatra Utara perlu ada rekening khusus. Rekening khusus ini dimaksudkan agar pemerintah bisa melakukan monitoring terhadap pengunaan dana-dana tersebut. Dari sisi kreditor, mereka juga bisa melihat penggunaan dana tersebut apakah sesuai dengan kesepakatan atau tidak. Sementara di tempat yang sama Inspektorat Utama Bappenas Syahrial Loetan mengatakan, pemerintah perlu membentuk lembaga pengelola utang untuk mensinergikan pengelolaan utang yang selama ini terpisah di Bank Indonesia (BI), Bappenas dan Departemen Keuangan. Dalam jangka pendek, lembaga pengelola utang tersebut bisa berupa pembentukan komite pengelolaan utang luar negri pemerintah. ”Pemerintah juga perlu membentuk peraturan perundangan sebagai landasan pengelolaan utang luar negri pemerintah, dalam hal ini undang-undang pinjaman dan hibah luar negri,”ujarnya. (yat)



Copyright © Sinar Harapan 2003

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Penulisan
I.2. Permasalahan
Dradjad WibowoEkonom Senior INDEFDewasa ini utang luar negeri (LN) pemerintah (public foreign debt) sudah menjadi salah satu sumber ancaman bagi stabilitas ekonomi makro kita, baik melalui tekanan defisit fiskal, ketimpangan distribusi sosial dalam APBN maupun tekanan atas cadangan devisa. Sayangnya, manajemen utang Indonesia tetap tidak berubah. Keberhasilan meyakinkan kreditor untuk mengucurkan ataupun menjadwal-ulangkan utang seolah-olah menjadi tolok ukur “keberhasilan” tim ekonomi. Tidak ada upaya total untuk mengurangi tingkat utang (debt stock). Padahal, tingkat utang yang terlalu besar adalah pertanda negeri ini mempunyai beban yang berat di masa mendatang.Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah, apakah upaya yang harus ditempuh agar manajemen utang luar negeri (LN) pemerintah bisa lebih optimal? Optimal di sini dilihat dari tiga tolok ukur utama. Pertama adalah dari sisi tingkat utang. Tolok ukurnya, apakah tingkat utang sudah dikurangi sedemikian rupa, sehingga utang LN Indonesia menjadi lebih terkendali (sustainable)? Kedua, dari sisi distribusi manfaat dan biaya ekonomi APBN. Maksudnya, apakah tingkat utang dan term pembayarannya sudah diupayakan sedemikian rupa sehingga beban pembayaran utang (debt service) tidak menimbulkan ketimpangan distribusi sosial dalam APBN? Ketiga, dari sisi efektifitas pemanfaatan utang. Artinya, apakah utang luar negeri memang benar-benar dimanfaatkan untuk pembangunan sektor-sektor yang mempunyai multiplier output, pendapatan dan kesempatan kerja yang terbesar? Dan, apakah kebocoran utang sudah ditekan semaksimal mungkin?I BEBAN UTANG LUAR NEGERI PEMERINTAHUntuk mengkaji ketiga butir di atas secara obyektif, mari kita lihat fakta-fakta berikut. Pertama, pembayaran utang luar negeri pemerintah ternyata memakan porsi yang besar dari APBN. Pada tahun 2000, sekitar 15,4% penerimaan dalam negeri pemerintah dipakai untuk membayar pokok dan bunga utang luar negeri, setelah dikurangi dengan nilai utang yang dijadwal ulang. Pada periode 2001-2003, rasio ini tidak mengalami penurunan yang signifikan, berkisar 13-15%. Sementara itu, sebagai porsi dari total penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN), foreign debt service tetap berada pada level 20-26%., atau sekitar 1/5 hingga ¼ dari PPh dan PPN.Perlu dicatat, sejak 2003 semakin banyak utang-utang yang dijadwal ulang melalui Paris Club 1 (September 1998) dan Paris Club 2 (April 2000) yang habis masa jeda bayar utangnya (grace period). Pada tahun 2005, utang yang dijadwal ulang melalui Paris Club 3 juga mulai habis masa grace period nya. Konsekwensinya, beban pembayaran pokok utang pada tahun-tahun mendatang akan meningkat. Dengan demikian, tanpa perubahan manajemen utang LN secara radikal, sulit mengharapkan rasio di atas akan membaik secara signifikan.TABEL 1 BEBAN PEMBAYARAN UTANG (DEBT SERVICE)SEBAGAI RASIO TERHADAP PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2001-20032001 2002 2003A. Bunga utang LN 28.9 29.0 25.8B. Pembayaran Netto 10.2 16.7 16.7C. Total A+B 39.1 45.7 42.5D. Penerimaan DN 300.5 301.9 327.8E. PPh + PPN 176.0 174.6 206.8Rasio C/D 13.0% 15.1% 13.0%Rasio C/E 22.2% 26.2% 20.5%Catatan: pembayaran netto adalah selisih antara utang jatuh tempoDengan nilai yang dijadwal ulang.Kedua, karena besarnya utang dalam negeri, di masa mendatang kemampuan pemerintah membayar utang-utangnya cenderung menurun, atau pemerintah semakin tergantung kepada penjadwalan ulang melalui Paris Club. Tahun 2003, misalnya, pemerintah merencanakan alokasi Rp 116,3 triliun untuk membayar pokok dan bunga utang luar negeri, ditambah dengan bunga utang dalam negeri (termasuk obligasi rekap), pembayaran pokok dan pembelian kembali (buy back). Ini setara dengan 56,2% dari penerimaan PPh dan PPN. Dengan kata lain, lebih dari separuh PPh dan PPn yang susah payah dibebankan kepada masyarakat harus dihabiskan hanya untuk membayar utang pemerintah. Padahal, hasil London Club, Paris Club 1-3, dan reprofiling obligasi rekap sudah dimasukkan.Karena pemerintah mengandalkan penjadwalan ulang terus menerus, gambaran di atas tampaknya akan terus dirasakan Indonesia hingga beberapa tahun mendatang. Bahkan dengan reprofiling, kondisi di atas akan terjadi hingga tahun 2018. Ini berarti, ketimpangan distribusi sosial dalam APBN akan terus dialami Indonesia hingga 15 tahun ke depan. Kesalahan manajemen utang pada masa sekarang membuat dua generasi bangsa Indonesia harus menanggungnya.Mungkin kita dapat mengandalkan pertumbuhan PDB untuk mengurangi beban rasio debt service di atas. Namun, yang sering dilupakan adalah, dengan beban rasio debt service yang tinggi, APBN tidak lagi optimal sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi. Bahkan, tingkat penyedotan dana (withdrawals) yang besar dari masyarakat, baik melalui kenaikan pajak maupun pengurangan subsidi, justru ikut menekan potensi eprtumbuhan ekonomi. Akibatnya, kuat dugaan bahwa beban debt service justru telah memperbesar kesenjangan PDB (GDP gap) antara PDB potensial dan aktual.Ketiga, tingkat utang luar negeri jangka panjang Indonesia ternyata sudah melampaui batas aman. Angka psikologis aman adalah 30-40% PDB. Sebelum krisis, tahun 1996 kondisi kita sudah buruk (57%), lalu naik menjadi 113%, dan turun menjadi sekitar 71% pada tahun 2002.Sebagai perbandingan, utang jangka panjang negara-negara Amerika Latin pada saat puncak krisis "hanya"lah 43% PDB (1983-85). Padahal mereka tertolong oleh FDI yang positip 5,5%- 11,3% PDB. Sementara Indonesia justru mengalami defisit FDI, yang mungkin mencapai sekitar 1.5-2% PDB.Keempat, Indonesia perlu waktu puluhan tahun untuk melunasi utang luar negeri pemerintahnya. Saat ini tingkat utang sekitar US$­­ 67 milyar, atau kurang lebih Rp 600 trilyun. Kemampuan pemerintah membayar cicilan utang LN antara Rp 15-20 triliun per tahun. Artinya, diperlukan 30-40 tahun lagi agar seluruh utang tersebut lunas. Ini pun dengan asumsi yang "muskil", yaitu pemerintah tidak wajib membayar bunga dan tidak menambah utang baru.Kelima, utang luar negeri pemerintah memakan porsi yang besar dari cadangan devisa. Setiap tahun, tanpa penjadwalan ulang, utang LN pemerintah yang jatuh tempo mencapai sekitar US$­­ 4-5 milyar. Ditambah dengan beban utang swasta, total kewajiban LN jangka pendek Indonesia diperkirakan US$­­ 7-9 milyar per tahun. Ini setara dengan 1/3-1/4 cadangan devisa Indonesia. Akibatnya, terdapat potensi tekanan permintaan valas yang cukup kuat. Ini membuat rentan stabilitas makro Indonesia.Keenam, selama 1995-97 (sebelum krisis), sebenarnya utang LN sudah menjadi net capital drain out. Artinya, nilai utang yang diterima sudah di bawah pembayaran pokok dan bunganya. Ini tercermin dari negatifnya lalu lintas modal publik sebesar USD 200-800 juta/ tahun.Jadi, tingkat utang LN pemerintah Indonesia memang sudah pada tingkat yang sulit dikelola. Lalu apakah strategi penjadwalan ulang cukup memadai untuk mengatasinya? Jelas tidak. Penjadwalan ulang hanya memindahkan persoalan ke waktu yang lebih lama. Tapi bebannya tetap saja sama. Sebagai misal, Jepang setuju menjadwal ulang utang senilai US$­­ 2.8 milyar, hingga setidaknya tahun 2016. Padahal, selama 2016-2018 terdapat beban utang dalam negeri sekitar Rp 140 triliun/tahun. Jelas ini membuat beban hutang APBN tahun tersebut akan membengkak. Oleh sebab itu, selain penjadwalan ulang, diperlukan strategi lain yang lebih radikal agar manajemen utang LN pemerintah bisa lebih optimal. II MANAJEMEN UTANG KLASIKSecara teoretis, ekonomi makro klasik mengenal konsep yang disebut Ricardian Equivalence (RE). Premis dasarnya, utang pemerintah bersifat netral, tidak mempunyai efek terhadap suku bunga, investasi, perdagangan, inflasi dan Produk Domestik Bruto (PDB). Konsekwensinya, tidak terdapat efek redistribusi pendapatan. Ini memunculkan pameo "there is no burden of the national debt".Dalam konteks utang LN, teori ini berpandangan, kalau pembangunan tidak dibiayai dengan utang LN, maka sumber dana diambil dari dalam negeri. Artinya, masyarakat harus membayar pajak yang lebih tinggi, sehingga pendapatan disposabel merosot. Akibatnya, konsumsi domestik berkurang. Karena konsumsi menyumbang 50-70% pertumbuhan, maka pertumbuhan pun terhambat. Secara teori argumen di atas dibantah oleh analisis "there is a burden of the national debt". Maksudnya, utang pemerintah mencerminkan pengeluaran yang dibiayai defisit anggaran, sehingga konsumsi domestik naik berlebihan. Ketika konsumsi domestik melebihi tingkat lestari, suku bunga dan inflasi jangka panjang naik. Selain itu, investasi lebih rendah, defisit perdagangan meningkat dan potensi PDB lebih rendah.Karena good governance tidak berjalan, sementara para kreditor, terutama Bank Dunia, gagal menerapkan prinsip prudensial, tingkat kebocoran pun tinggi. Akibatnya, untuk negara miskin seperti Indonesia, RE cenderung tidak cocok.Manajemen Utang LN a la IMF dan Bank Dunia. Kepercayaan terhadap RE melahirkan manajemen utang klasik a la IMF dan Bank Dunia. Secara ringkas, manajemen klasik ini mengandung beberapa butir kunci, yaitu:a. Percepatan pertumbuhan ekonomi, baik melalui penambahan utang baru, penjagaan stabilitas makro (tanpa memperhatikan efek sosialnya), dan perbaikan iklim investasi. Dengan pertumbuhan ekonomi, debt ratio (rasio utang terhadap PDB) diharapkan turun, dan utang menjadi lebih sustainable. b. Peningkatan surplus primer. Ini ditempuh melalui peningkatan penerimaan pajak, pengurangan subsidi besar-besaran, dan perbaikan efisiensi dalam pengeluaran pembangunan. Dengan kata lain, terdapat net withdrawal dari masyarakat.c. Maksimisasi pembiayaan di luar utang (non-debt financing). Ini meliputi sumber pembiayaan dari privatisasi dan penjualan aset-aset lainnya, termasuk aset BPPN dalam kasus Indonesia.d. Pengelolaan profil pembayaran utang, melalui terutama penjadawalan ulang dan reprofiling. e. Pengelolaan resiko fiskal, terutama yang bersumber dari sisi pengeluaran seperti kewajiban non-bujeter dan Dana Alokasi Umum dan Khusus dalam rangka desentralisasi. Dalam manajemen klasik, tolok ukur yang dipakai pun klasik, yaitu debt ratio. Intinya, jika debt ratio terlalu tinggi, maka utang lama dijadwal ulang. Tapi untuk menutup defisit fiskal, dibuat utang baru lewat forum CGI. Prakondisinya, stabilitas makro harus dijamin.Gaya manajemen di atas diklaim Menteri Keuangan, IMF dan Bank Dunia berhasil menurunkan debt ratio menjadi 71%. Jadi, klaim mereka, utang pemerintah lebih sustainable, sehingga manajemen utang pemerintah sudah benar. Bahasa teorinya, sudah optimal dan memenuhi RE.Klaim di atas sangat tidak sahih karena beberapa alasan. Pertama, bukan manajemen utang yang berperan besar menurunkan debt ratio, tapi apresiasi Rupiah terhadap US dolar. Ini adalah resultante dari stabilitas politik dan depresiasi US dolar terhadap mata uang lain selama 2002.Kedua, “prestasi” di atas dicapai dengan biaya sosial yang tinggi. Ini merupakan konsekwensi intrinsik dari manajemen utang klasik. Sebagai contoh, agar peningkatan surplus primer tercapa, anggaran untuk sektor sosial (pendidikan dan kesehatan), sektor stratejik (pertahanan dan keamanan) dan sektor produksi riil (pertanian, kehutanan dan sebagainya) harus dijadikan korban. Ini terlihat dari jumlah pembayaran pokok dan bunga utang yang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Contoh lain, “prestasi” di atas juga dicapai dengan menjual obral saham BUMN dan aset BPPN, yang sangat merusak future earnings Indonesia dan mengganggu kepentingan stratejik. Ini cerminan dari butir “c”, yaitu memaksimumkan non-debt financing. Selain itu, pengurangan subsidi dilakukan besar-besaran, dengan resiko merusak modal utama berupa stabilitas politik.III OPTIMALISASI MANAJEMEN UTANGManajemen utang klasik sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Yang salah adalah, fokus yang berlebihan terhadap komponen-komponen manajemen utang klasik tersebut, tanpa memperhatikan efek distribusi sosialnya. Ini diperburuk oleh kecenderungan pendukungnya untuk menafikan alternatif lain, yang dianggap seolah-olah “tidak mempunyai landasan teori”. Di sinilah letak kesalahan utamanya. Fanatisme terhadap manajemen utang klasik membutakan pundukungnya terhadap kreatifitas alternatif. Padahal, kreatifitas tersebut bukannya tanpa preseden empirik, karena bentuk dasar dari kreatifitas itu sudah pernah diterapkan di negara lain dan/atau di dalam kasus utang swasta. Fanatisme di atas juga membuat pendukungnya memmpunyai spektrum yang sempit dalam renegosiasi utang dengan para kreditor. Ini karena mereka hanya mengandalkan argumen- argumen teknis ekonomis saja. Padahal dalam praktek, negara-negara yang memperoleh keringanan utang LN yang sangat besar justru mereka yang menggunakan argumen geopolitik dan stratejik. Dengan argumen di atas, agar manajemen utang LN pemerintah lebih optimal, beberapa butir berikut perlu dilakukan.1. Indikator TambahanManajemen klasik biasanya menggunakan rasio dari outstanding utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau debt ratio, sebagai indikator utamanya. Ini berlaku bagi utang jangka pendek, jangka panjang, domestik maupun luar negeri. Untuk peubah “kemampuan membayar utang”, dipakai debt service ratio yang membandingkan kewajiban pembayaran utang, baik pokok dan bunganya, dengan penerimaan ekspor.Pendekatan di atas mengabaikan fakta bahwa pembayaran utang pemerintah mempunyai konsekwensi keadilan sosial, baik antar kelompok masyarakat dalam satu generasi (intra- generational equity) maupun antar generasi sekarang dengan generasi mendatang (inter- generational equity). Setiap Rupiah yang dialokasikan untuk membayar pokok dan bunga utang mempunyai biaya oportunitas sosial (social opportunity costs). Ini karena setiap Rupiah tersebut bisa direalokasikan untuk program padat karya, kesehatan, pendidikan, investasi infrastruktur, pengurangan pajak dan berbagai alternatif pos penerimaan dan pengeluaran fiskal lainnya. Trade off atau efek distribusi dari pembayaran utang ini sama sekali diabaikan.Oleh sebab itu, sejak Desember 2001 penulis mulai menggunakan sebuah indikator tambahan, yaitu rasio antara kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang (debt services) terhadap penerimaan pajak atau penerimaan APBN. Ini merupakan debt service ratio to fiscal revenues (DSRFR). Kalau rasio ini dibandingkan dengan proprosi pos penerimaan dan/atau pengeluaran fiskal lainnya, maka diperoleh gambaran mengenai seberapa terakomodasinya aspek keadilan sosial dalam manajemen utang. Untuk kasus Indonesia, rasio ini juga semakin menunjukkan perlunya reorientasi manajemen utang pemerintah, dengan re-fokus kepada pengurangan debt stock, bukan pengalihan utang ke generasi mendatang dan/atau penambahan utang baru.Ini juga membawa konsekwensi tambahan, yaitu utang baru seyognyanya tidak digunakan untuk sisi konsumsi dalam APBN. Tapi justru lebih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur seperti listrik, jalan dan komunikasi.2 Pengurangan Pokok UtangBeberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:a. Penghapusan utang melalui kombinasi rekayasa keuangan dan renegosiasi komersial dengan kreditor. Salah satu cara yang bisa dipakai adalah melalui berbagai bentuk rekayasa keuangan seperti debt to equity swap. Sebagai contoh, sebuah perusahaan asing akan menanam modal senilai US$­­ 70 juta. Melalui renegosiasi komersial, utang pemerintah bisa diperdagangkan di pasar sekunder dengan diskon, katakanlah, 30%. Broker perusahaan tersebut akan membeli utang pemerintah senilai US$­­ 100 juta dengan harga US$­­ 70 juta (diskon 30%). Pemerintah setuju membayar Rupiah senilai, katakanlah, US$­­ 80 juta, kepada perusahaan. Bisa juga hanya senilai US$­­ 70 juta, tapi dikompensasi dengan kemudahan pajak. Hasilnya, utang senilai US$­­ 100 juta terbayar, FDI masuk senilai US$­­ 70-80 juta, sementara utang pemerintah terhapus 20-30%. Memang ada resiko inflatoir, terutama kalau dana pemerintah diperoleh dari pencetakan uang. Makanya, kita perlu BI yang independen sehingga hal ini tidak terjadi. Solusi di atas memang perlu renegosiasi yang ruwet. Tapi, ada baiknya kita belajar dari kriris utang Meksiko Agustus 1982. Solusi awal yang diusulkan mirip dengan strategi IMF di Indonesia. Yaitu, percepatan pertumbuhan ekonomi melalui penyesuaian struktural dan reformasi ekonomi. Kue PDB yang membesar diharapkan menurunkan rasio utang/PDB, sehingga debitor lebih layak kredit dan bisa memperoleh kucuran utang lagi. Konsep yang dikenal dengan “Rencana Baker 1985" ini gagal total karena gagalnya reformasi ekonomi, serta adanya time lag antara reformasi dengan pertumbuhan PDB. Rencana Baker diganti dengan “Rencana Brady”, di mana kreditor AS dapat menghapus utang, ditukar obligasi Brady. Teknik swap ini membuat Meksiko bisa menghapus utang US$­­ 29,4 milyar, dan menghemat pembayaran utang US$­­ 3,8 milyar per tahun. Tentunya, selain dengan obligasi, utang bisa ditukar dengan ekuitas, likuiditas mata uang domestik, atau konservasi sumber daya alam (debt-for-nature swap). Konversi utang menjadi ekuitas bisa dilakukan dalam kerangka privatisasi, sehingga diperoleh sinergi yang mampu mendongkrak harga pasar.Salah satu usulan Tim Independen tentang Obligasi Rekap adalah tukar guling antara utang luar negeri dengan obligasi rekap. Dalam kasus ini, utang luar negeri tetap tidak berkurang, hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur. Namun, pemerintah memperoleh keuntungan berupa berkurangnya public domestic debt stocks.b. Pengurangan debt stock melalui arbitrase internasionalSolusi ini memerlukan sinerji dan pembangunan jaringan yang kuat dengan NGOs di negara- negara maju. Ide dasarnya, pihak kreditor multilateral (Bank Dunia dll) dan bilateral ikut bertanggungjawab atas kegagalan mereka menjamin tercapainya good governance dalam manajemen utang para debitor. Sehingga, muncullah wacana mengenai odious debt, atau utang najis, di mana kreditor memberikan kemudahan dan hair cut untuk mengkompensasi utang najis tersebut. Kalangan NGOs dalam dan luar negeri sangat antusias dengan alternatif ini. Walaupun belum ada preseden yang signifikan, tidak ada salahnya negara-nagara debitor seperti Indonesia mencoba alternatif ini.c. Negosiasi utang LN pemerintah pada level geopolitik dan stratejikIde dasar alternatif ini sudah disampaikan dalam Laporan Tim Indonesia Bangkit, di mana saya adalah salah satu penulisnya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat hasil Paris Club. Pemerintah dan Bank Dunia mengklaim, Indonesia memperoleh terms yang semakin baik dalam Paris Club (PC) 3, dibandingkan PC1. Masa jatuh tempo misalnya, naik dari 11 tahun ke 18 tahun untuk utang non-ODA. Masa tenggang (grace period) naik dari 5 tahun ke 10 tahun untuk ODA, dan ada penjadwalan ulang terhadap bunga.Namun, berdasarkan laporan European Network on Debt and Development (EURODAD), terms yang diperoleh Indonesia lebih jelek dari negara lain. Indonesia hanya diberikan Houston Term. Padahal kalau memperoleh Naples Term, Indonesia bisa meminta pengampunan hingga 67% dari total utang non-ODA. Untuk utang ODA, bahkan bisa memperoleh masa tenggang 16 tahun, dengan tingkat bunga yang didiskon selama 40 tahun.Sebagai bandingan, Pakistan memperoleh pemotongan 30% dari net present value (NPV) utang ODA dan non-ODA. Sisa utang ODA dijadwal ulang 38 tahun, dengan masa tenggang 15 tahun. Yugoslavia memperoleh potongan 66,7% dari NPV utangnya, sementara Polandia dikurangi 50% dari total utang.Kenapa demikian? Alasan utamanya, Indonesia terjebak dalam argumen teknis ekonomis, sementara negara-negara di atas menggunakan argumen geopolitik dan stratejik. Jadi, kita harus mengubah strategi negosiasi utang, dengan memanfaatkan berbagai faktor non-teknis ekonomis.d. Renegosiasi bilateral, terutama dengan JepangSekitar 1/3 dari debt outstanding Indonesia adalah dengan Jepang. Kepentingan stratejik Jepang, baik dalam membendung ambisi geopolitik China, dalam restrukturisasi multinasionalnya hingga keinginan menahan serbuan produk China ke pasar domestik Indonesia, merupakan potensi negosiasi. Jepang bahkan berpotensi untuk berperan seperti AS terhadap Meksiko kalau skema serupa Brady Bonds diterapkan bagi Indonesia. Kesalahan Indonesia adalah belum apa-apa sudah meminta hair cut. Ini dilakukan tanpa terlebih dulu mengembangkan skema-skema rekayasa keuangan yang mengkombinasikan berbagai bentuk swap dengan kepentingan geopolitik, stratejik, dan ekonomi Jepang di kawasan Asia Tenggara. Padahal, kita semestinya bisa mendesain skema penyelesaian utang bilateral yang dikaitkan dengan, katakanlah, insentif investasi dan pasar bagi multinasional Jepang relatif terhadap China.3. Pengendalian debt service sebagai rasio penerimaan negara(Ini merupakan bagian dari tulisan saya bulan Desember 2001). Dalam era globalisasi saat ini, tidak sedikit negara yang berlindung di balik Undang-Undang dalam negeri untuk melindungi kepentingannya. Sebagai misal, AS tidak jarang mengancam penggunaan Undang-Undang yang dikenal sebagai Super 301 untuk membatasi impor dari negara-negara yang dianggap merugikan kepentingan AS. UU Bioterorisme adalah contoh yang lain. Negara-negara Eropa juga sering berlindung di balik Undang-Undang tentang lingkungan, misalnya tentang produk transgenetik, untuk memproteksi produk-produk pertaniannya. Dengan tingkat utang yang sangat tinggi, sementara di lain pihak terdapat pasar domestik yang sangat besar, tingkat upah yang kompetitif dan sumber daya alam yang besar, Indonesia sebenarnya memiliki potensi posisi tawar yang tinggi. Tingkat utang yang terlalu besar membuat credit exposure dan default risks kreditor utama Indonesia sangat tinggi. Ini sangat relevan bagi Jepang, yang merupakan kreditor terbesar Indonesia dengan tingkat piutang USD 45 milyar, dan kepentingan ekonomi regional yang besar.Pemberlakuan batas maksimum bagi pembayaran utang pemerintah, terutama hutang luar negeri, jelas akan membuat sumber daya dan dana yang tersedia bagi perekonomian domestik makin besar. Seandainya pembayaran utang luar negeri pemerintah dipatok maksimum 10% dari total penerimaan negara, maka pada tahun 2002 setidaknya terdapat Rp 42,94 triliun dana RAPBN 2002 yang belum dipakai.Pengelolaan dana tersebut harus dilakukan dengan transparansi maksimum, dan diawasi oleh sebuah Forum Multi-Stakeholder yang melibatkan publik secara luas. Dana tersebut bisa tetap menjadi bagian dari APBN, atau dimasukkan ke dalam sebuah Trust Fund, yang tidak boleh digunakan untuk berinvestasi di pasar modal dan pasar uang. Dana tersebut seyogyanya diprioritaskan untuk (antara lain):1. program padat karya di pedesaan, 2. subsidi kredit program bagi pemulihan sektor riil yang berbasis pada UKM dan sektor- sektor prioritas, terutama infrastruktur, pertanian dan industri dengan multiplier tinggi dan/ atau yang meningkatkan kapasitas teknologi bangsa.3. Pembiayaan sektor sosial, terutama pendidikan dan kesehatan.Penetapan batas maksimum di atas perlu didasarkan pada sebuah Undang-Undang, sehingga pemerintah bisa menggunakannya sebagai dasar hukum dan sekaligus alat negosiasi dengan para kreditor. Butir-butir utamanya antara lain:1. Pembatasan jumlah maksimum pembayaran utang LN pemerintah dalam setiap tahun anggaran, misalnya 10% dari total penerimaan negara yang berasal dari pajak dan non-pajak. Hal yang sama bisa diberlakukan bagi utang domestik.2. Pengaturan terms yang harus digunakan pemerintah dalam negosiasi dengan para kreditor.3. Pengaturan mengenai pengelolaan dana yang semestinya dipakai untuk membayar hutang luar negeri, baik dalam APBN maupun trust fund. Transparansi maksimum dan Forum Multi- Stakeholder menjadi bagian tak terpisahkan dari pengelolaan dana ini.4. Pengaturan mengenai prioritas penggunaan dana tersebut5. Pengaturan mengenai pembatasan jumlah utang baru yang boleh diambil pemerintah, dikaitkan dengan cash flow pemerintah pada saat utang jatuh tempo.6. Pengaturan mengenai tingkat maksimum kenaikan pajak dan penurunan subsidi, sehingga total penerimaan negara benar-benar dihitung secara reasonable. Ini memperkecil peluang bagi IMF dan Bank Dunia untuk menekan pemerintah agar memperbesar jumlah pembayaran utang dengan jalan memperbesar target penerimaan negara.Ide alternatif di atas bukannya tanpa resiko dan potensi dampak negatif. Komunikasi dan negosiasi intensif dengan kreditor utama, khususnya Jepang, diharapkan dapat memperkecil resiko dan dampak negatif tersebut. Karena itu, pemerintah perlu lebih pro-aktif dalam melakukan negosiasi ekonomi, tapi dengan tujuan yang berbeda dengan pada masa lalu. Di masa lalu, tujuannya adalah memperoleh utang baru. Dengan UU ini, tujuannya adalah membatasi pembayaran utang, sehingga utang baru dari CGI mungkin tidak dibutuhkan lagi.PenutupAlternatif di atas sebenarnya masih bisa dikembangkan dengan berbagai variasi. Sayangnya, UU Keuangan Negara yang baru disetujui DPR kembali menggunakan paradigma klasik dalam manajemen utang. Di sini, indikator yang digunakan hanya debt ratio yang dibatasi 60% PDB. Padahal, UU ini semestinya bisa memasukkan pembatasan debt service sebesar masing-masing 10% penerimaan negara untuk utang luar dan dalam negeri, dengan konsep yang diuraikan di atas.

Membayar Utang Merampas Masa Depan
Oleh Peter Rosler Garcia
BAGIAN terbesar utang luar negeri Indonesia berasal dari koruptor Indonesia dan mungkin juga dari rencana strategis Amerika Serikat yang dibongkar belum lama berselang. Namun, beberapa minggu lalu Argentina sudah mendapat penghapusan utang luar negeri yang luar biasa besar. Bisakah Indonesia mengikuti contoh Argentina itu? Jika tidak, adakah jalan lain untuk Indonesia?
Dengan>small 0< 190 miliar dollar AS, utang total Indonesia sudah melebihi produk domestik bruto (PDB) yang di tahun 2004 bertumbuh menjadi 182 miliar dollar AS. Jumlah utang itu terdiri dari utang luar negeri pemerintah (78,7 miliar dollar AS), utang luar negeri BUMN (4,8 miliar dollar AS), utang luar negeri swasta (45,5 miliar dollar AS), dan utang pemerintah dalam negeri (kira-kira 60 miliar dollar AS).
Setiap tahun pembayaran pokok dan bunga utang luar dan dalam negeri memakan hampir separuh dari semua penerimaan pajak Pemerintah Indonesia. Sisanya tidak cukup untuk dana membangun negara RI serta untuk memperbaiki pendidikan, kesehatan, dan keadaan kehidupan bangsa. Sesuai dengan angka-angka Bank Dunia, kira-kira 60 persen dari semua penduduk Indonesia miskin atau di ambang garis kemiskinan. Apakah mungkin negara bisa maju dalam situasi itu?
Membayar utang negara kepada luar negeri berarti merampas masa depan Indonesia. Membayar semua utang luar negeri menjadi perbuatan jahat terhadap kaum muda dan generasi-generasi berikut bangsa Indonesia. Hanya dari segi itu, tiada pemerintah luar negeri atau lembaga multinasional yang bisa menentang hak Indonesia atas pengurangan utang luar negeri yang cukup besar. Tetapi, juga ada dua alasan lain, yaitu korupsi Orde Baru dan rencana strategis AS untuk menaikkan beban utang negara berkembang dan ketergantungan perekonomian mereka kepada luar negeri yang berjalan sejak masa Orde Baru.
Bangsa Indonesia dan pemimpin-pemimpin Indonesia masa kini tidak bertanggung jawab atas korupsi besar Orde Baru dan juga tidak atas utang yang berasal dari korupsi itu. Bagian terbesar utang Indonesia terhadap luar negeri berasal dari masa itu. Terkenal sekali nama- nama semua pemimpin dan pegawai negara Orde Baru yang menjadi kaya raya dalam jabatan mereka, antara lain, melalui uang dari perusahaan swasta yang mau menerima pesanan negara atau BUMN besar. Sementara tuntutan dan pengadilan para koruptor yang diberitakan pers itu pun terkatung-katung.
MENDAPAT uang korupsi lebih gampang lagi jika pembiayaan datang dari bank-bank multinasional. Dulu di sana harga-harga proyek tidak diperiksa dengan teliti. Sebagian uang bank multinasional ditransfer oleh perusahaan swasta kepada rekening si pegawai Indonesia di Singapura atau Swiss, misalnya, setelah mendapat pesanan. Sampai juga ada proyek yang hanya diciptakan untuk memuaskan ketamakan pegawai korup.
Dengan begitu, semua harga proyek, semua argumentasi penciptaan proyek masa Orde Baru sebenarnya harus diperiksa lagi. Tentu saja, usulan itu kurang realistis. Banyak tokoh korup sudah pensiun dan bukti tiada lagi. Juga, kolusi mitra dari beberapa negara sangat sulit bisa dibuktikan. Dan apa yang terjadi dengan pinjaman uang baru yang dipakai untuk membayar utang lama? Yang adil hanya satu: Memotong sebagian terbesar atau semuanya utang Orde Baru dan juga utang baru yang mengganti utang Orde Baru.
Korupsi Orde Baru sudah mendapat pasangan di luar negeri yang melengkapinya. Sesuai dengan buku Confessions of an Economic Hit Man (Pengakuan Seorang Preman Ekonomi), bekas anggota dinas rahasia khusus AS John Perkins menuliskan kegiatannya di Indonesia tahun 1971. Jika isi buku itu benar, terbaca ada rencana strategis AS untuk menaikkan ketergantungan perekonomian negara berkembang melalui jumlah besar pinjaman luar negeri. Di samping itu, kegiatan mereka menguntungkan perusahaan besar AS yang mendapat banyak pesanan besar.
Kelompok "Preman Ekonomi" semacam John Perkins melaksanakan rencana AS itu. Sebagai penasihat resmi mereka menipu negara berkembang, supaya negara itu menerima pinjaman-pinjaman besar yang kemudian dikirimkan ke perusahaan swasta AS dalam bentuk pesanan. Pinjaman itu berasal dari pemerintah (misalnya USAID) atau dari bank dan lembaga multinasional. Antara lain alat mereka adalah laporan pembiayaan yang bersifat menipu, pemilihan umum yang dipalsukan, pembayaran uang suap, pemerasan, seks, dan pembunuhan tokoh negara berkembang yang tidak mau bekerja sama (Berrett-Koehler Publishers, Inc, San Francisco, ISBN 1-57675- 301-8).
SAMPAI sekarang Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Asian Development Bank dikuasai oleh negara maju. IMF, misalnya, tidak hanya suka mendikte penghematan yang terlalu tegas dan kurang peduli kepada keadaan kehidupan dan sosial bangsa. Juga ada contoh resep lembaga itu membunuh si sakit, misalnya, dalam kasus Argentina. Dan juga, banyak kali IMF bekerja sama sampai berkolusi dengan pemimpin negara korup atau mahakorup. Contohnya juga Argentina, yaitu pemerintah korup Presiden Menem.
Saat ini Argentina bisa bersorak-sorai. Lebih dari tiga perempat kreditor swasta negara itu sudah memotong 70 persen dari utang negara sebesar 100 miliar dollar AS. Itulah pertama kali dalam sejarah suatu negara mendapat penghapusan utang luar negeri yang begitu besar. Tentu saja, para kreditor swasta tidak melepaskan uang mereka secara sukarela. Mereka tidak punya pilihan yang lain: Pemerintah Argentina tidak mau berkompromi dan tiada pemerintah luar negeri yang mau mendukung kreditor swasta tersebut.
Di sinilah terletak perbedaan yang paling besar antara Argentina dan Indonesia. Hampir semua utang Pemerintah Indonesia terhadap luar negeri, yaitu 94 persen dari 78,7 miliar dollar AS, terdiri dari pinjaman pemerintah luar negeri atau pinjaman lembaga dan bank multinasional. Lain di Argentina, di mana obligasi negara yang dibeli oleh bank-bank dan investor swasta berjumlah dua pertiga utang luar negeri. Dan posisi seorang investor swasta luar negeri lemah sekali jika pemerintahnya tidak berbuat apa pun.
Kebanyakan kreditor luar negeri Argentina adalah warga negara AS, Italia, dan Jerman. Pemerintah AS tidak mau turun tangan oleh karena mereka takut ada bahaya radikalisasi dan Presiden Argentina bisa mengikuti jejak Presiden Venezuela. Pemerintah Italia menuduh bank-bank swasta menjualkan obligasi Argentina kepada penabung-penabung kecil Italia waktu bank itu sudah tahu Argentina akan runtuh. Itu alasannya Pemerintah Italia memilih tidak berpihak.
Pemerintah lain, misalnya, Jerman dan Spanyol, sangat sadar bahwa Argentina tidak pernah bisa membayar utang luar negeri yang begitu besar tanpa pengorbanan sosial yang mahatinggi. IMF, yang ikut bertanggung jawab atas kemelut ekonomi Argentina, juga memilih tutup mulut.
Kreditor luar negeri Indonesia paling besar adalah Jepang (20,6 miliar dollar AS), IMF (9,4 miliar dollar AS), Bank Dunia (8,8 miliar dollar AS), dan Asian Development Bank (8,5 miliar dollar AS). Mereka bukan investor swasta. Itu alasannya Indonesia tidak bisa mengikuti jejak Argentina. Namun, demi keadilan dan demi masa depan negara, Pemerintah Indonesia tidak bisa lain dari berunding dengan semua kreditor bilateral dan multilateral negara dengan maksud mendapat potongan utang luar negeri yang harusnya masih lebih besar dari Argentina.
Peter Rosler Garcia Ahli Politik dan Ekonomi Luar Negeri, Hamburg, Jerman

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV
KEPUSTAKAAN

BAB V
LAMPIRAN

Thursday, April 06, 2006

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu WijayaSeorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum."Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung."Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?""Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujungtombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."Pengacara muda itu tersenyum."Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.""Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa."Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."Pengacara tua itu meringis."Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.""Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"Pengacara tua itu tertawa."Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf."Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang."Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.""Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.""Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan."Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.""Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran."Bagaimana Anda tahu?"Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."Pengacara muda sekarang menarik napas panjang."Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti."Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?""Antara lain.""Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu."Jadi langkahku sudah benar?"Orang tua itu kembali mengelus janggutnya."Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?""Tidak! Sama sekali tidak!""Bukan juga karena uang?!""Bukan!""Lalu karena apa?"Pengacara muda itu tersenyum."Karena aku akan membelanya.""Supaya dia menang?""Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."Pengacara tua termenung."Apa jawabanku salah?"Orang tua itu menggeleng."Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.""Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.""Tapi kamu akan menang.""Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.""Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."Pengacara muda itu tertawa kecil."Itu pujian atau peringatan?""Pujian.""Asal Anda jujur saja.""Aku jujur.""Betul?""Betul!"Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi."Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?""Bukan! Kenapa mesti takut?!""Mereka tidak mengancam kamu?""Mengacam bagaimana?""Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?""Tidak."Pengacara tua itu terkejut."Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?""Tidak.""Wah! Itu tidak profesional!"Pengacara muda itu tertawa."Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!""Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"Pengacara muda itu terdiam."Bagaimana kalau dia sampai menang?""Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!""Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"Pengacara muda itu tak menjawab."Berarti ya!""Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya."Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.""Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.""Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?""Betul.""Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan."Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan."Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.""Tapi..."Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda."Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik."Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu."Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***