<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268</id><updated>2011-04-21T13:01:40.964-07:00</updated><title type='text'>de script</title><subtitle type='html'>Succes is the earthly judge of right or wrong.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-116607926320373250</id><published>2006-12-13T22:42:00.000-08:00</published><updated>2006-12-13T22:54:23.546-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5&lt;br /&gt;AUDIT SISTEM INFORMASI MANAJEMEN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Benang merah “ yang diupayakan tampak dalam seluruh pembahasan tentang sistem informasi manajemen dalam buku ini ialah bahwa informasi sebagai salah satu resource  organisasi mutlak diperlukan oloeh setiap jenis organisasi guna mendukung keseluruhan proses manajerial dalam rangka pencapaian tujuan organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Secara implisit pernyataan di atas berarti bahwa aplikasi terpenting dari informasi tersebut ialah untuk pengambilan keputusan oleh para manajer yang menduduki berbagai eselon jabatan pimpinan dalam organisasi.&lt;br /&gt;            Seperti dimaklumi, agar informasi sebagai resource organisasi bermanfaar dalam proses manajemen, informasi tersebut harus memiliki ciri kemutakhiran, kelengkapan, keandalan, akurasi, dapat dipercaya serta tersimpan sedemikian rupa sehingga mudah ditelusuri jika diperlukan. Informasi yang memiliki ciri-ciri tersebut akan sangat mendukung pengambilan keputusan yang tepat, rasional dan cepat serta tidak lagi didasarkan pada intuisi dan pengalaman meski kedua hal itu mempunyai tempat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, informasi yang memenuhi persyaratan di atas akan memainkan peranan penting dalam peningkatan efisiensi, efektifitas, dan produktifitas kerja suatu organisasi.&lt;br /&gt;            Jelaslah bahwa agar informasi yang tersedia memenuhi ciri-ciri tersebut, sistem pengolahan data dalam organisasi tidak hanya harus berlangsung dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang setinggi mungkin, akan tetapi juga harus sedemikian rupa sehingga sistem tersebut benar-benar mampu memberikan hasil pengolahan data, yaitu informasi, yang bermutu tinggi serta sesuai dengan kebutuhan organisasi baik untuk kepentingan sekarang maupun untuk kepentingan di masa depan.&lt;br /&gt;            Guna menjamin terwujudnya kedua hal tersebut, diperlukan audit sistem pengolahan data. Topik itulah yangmenjadi fokus pembahasan dalam bab ini yang mencakup audit organisasi satuan kerja pengolahan data, audit proses pengolahan data, audit perangkat keras, audit perangkat lunak, dan audit sumber daya manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;AUDIT ORGANISASI SATUAN KERJA&lt;br /&gt;PENGOLAHAN DATA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berbagai cara dapat ditempuh untuk menetapkan bentuk pelembagaan satuan pengolahan data. Akan tetapi cara apapun yang ditempuh oleh manajemen dalam pelembagaan satuan kerja ini, prinsip yang sangat mendasar yang harus dipegang teguh ialah bahwa manajer tertinggi yang memimpin saatuan kerja tersebut haruslah sedekat mungkin dengan para pengambil keputusaqn kunci, yaitu para anggota manajemen puncak. Terdapat pula sedikitnya 3 alasan mengapa demikian halnya. Pertama: Satuan kerja pengolah data perlu diberi “status terhormat” dan berada pada eselon organisasi yang tinggi. Status demikian perlu karena diakui atau tidak, dikalangan manajemen adakalanya terdapat pandangan yang mengatakan bahwa hanya satuan kerja pelaksana tugas pokolah yang pantas diperlakukan sebgai Strategic Bisiness Unit –SBU- karena peranannya selaku profit centers sedangkan satuan-satuan kerja pelaksana tugas pendukung –termasuk satuaqn pengolah data – tidak, karena tidak memberikan kontribusi langsung kepada perolehan laba atau keuntungan. Pandangan dikotomis ini sesungguhnya tidak tepat. Bahkan dapat dikatakan salah karena sesungguhnya semua satuan kerja dalam organisasi harus diberi kesempatan untuk memainkan peranan strategis dalam rangka pencapaian tujuan. Pernyataan ini nterbukti dengan penekanan kuat pada pentingnyaq penerapan prinsip sinergi  dalam penjalankan roda organisasi. Kedua: manajer tertinggi dalam lingkungan satuan kerja pengolah data mutlak perlu mngetahui berbagai keputusan strategis yang diambil oleh manajemen puncak memahami latar belakang keputusan tersebut, bahkan diharapkan turut berperan dalam mengambil keputusan itu. Dengan demikian manajer satuan pengolah data dapat mngetahui langkah-langkah tindak lanjut apa yang akan yang akan ditempuh oleh para mnanajer yang lebih raendanh sebagai rincian dan operasionalisasi keputusan strategis tersebut. Dengan demikian, manajer satuan pengolah data dengan cepat dan tepat dapat mengidentifikasi data yang p-erlu dikumpulkan dan diolah menjadi informasi. Ketiga: dengan statusnya yang tinggi dan pengetahuan tentang implikasi berbagai keputusan yang diambil, para pimpinan berbagai komponen dan satuan kerja dalam lingkungan organisasi akan bersikap terbuka, artinya bersedia memberikan berbagai data yang diperlukan untuk diolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Konfigurasi organisasional satuan kerja pengolahan data mungkin saja berbeda dari satu organisasi ke organisasi yang lain tergantung pada berbagai faktor. Akan tetapi bagaimananpun bentauk konfigurasi tersebut, yang jelas semua aspek pengolahan data mulai dari identifikasi kebutuhan informasi dan sumber-sumbernya, analisis data, pengoperasian perangkat keras, penggunaan aneka ragam perangkat keras, penggunaan aneka ragam perangkat lunak, pengembangan sistem dan pengawasannya serta distribusi informasi memerlukan pelembagaan. Berarti bahwa jumlah manajer dan para pekerja otak (knowledge worker) dalam lingkungan satuan kerja pengolahan data tersebut tidak akan sama untuk semua jenis organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Yang tidak kalah pentingnya untuk  diperhatikan ialah pola pengambilan keputusan yang berlaku dalam organisasi. Tergantung pada gaya manajerial yang dominan dalam penerapannya, ada pola pengambilan keputusan yang sifatnya sentralistik, akan tetapi ada pula yang bersifat desentralistik. Meskipun benar bahwa dengan makin menyebarnya ketersediaan perangkat keras dan perangkat lunak dalam organisasi, berkat kehadiran berbagai komputer mikro, mini, dan bahkan komputer nano –yang salah satu implikasinya ialah makihn banyak orang yangmempunyai akses langsung terhadap teknologi informasi, kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada manajemen puncak yang terus mempertahankan penggunaan pola pengambilan keputusan yang sifatnya sentralistik. Logisnya dalam situasi terjadinya proliferasi (penyebaran) sarana pengolahan data, pola desentralisti8klah yang sesungguhnya lebih tepat digunakan. Jika pola yang sentralistik tetap diterapkan, hal demikian bisa saja terjadi karena filsafat manajerial yang dianut oleh manajemen puncak ataupun karena gaya kepemimpinannya yang cenderung otokratik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Audit manajemen pengolahan data dimaksudkan untuk meneliti dan mempelajari konfigurasi organisasional tersebut. Sasaran utamanya adalah untuk memperoleh bahan yang akurat dan faktual tentang tepat tidaknya struktur organisasi satuan kerja pengolahan data tersebut. Dasar pemikirannya disini ialah bahwa dengan struktur organisasi yang tepat, satuan kerja tersebut akan mampu menjalankan fungsinya, yaitu memberikan dukungan informasi kepada semua pihak dalam organisasi. Artinya dengan penggunaan struktur organisasi yang tepat, satuan kerja pengolahan data akan mampu bekerja dengan tingkat efisiensi, efektifitas, dan produktifitas yang setinggi mungkin. Agar sasaran efisiensi, efektifitas, dan produktifitas kerja tersebut dapat dicapai, audit manajemen pengolahan data harus pula memahami struktur organisasi perusahaan sebagai keseluruhan termasuk stratifikasi atau jenjang pengambilan keputusan yang harus didukung oleh satuan kerja pengolahan data.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;AUDIT PROSES PENGOLAHAN DATA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Telah umum diketahui bahwa proses pengolahan data pada dasarnya terdiri dari 4 langkah utama, yaitu pengumpulan data, analisis data, penyimpanan informasi sebagai hasil olahan, dan penelusuran untuk digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengumpulan Data&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Kegiatan pengumpulan data sesungguhnya bermula dari identifikasi kebutuhan informasi dalam lingkungan dan seluruh jajaran organisasi. Telah dimaklumi bahwa data merupakan bahan mentah atau bahan baku yang diolah lebih lanjut sehingga bentuknya berubah menjadi informasi. Unit pengolahan data hanya mampu menghasilkan informasi yang bermutu tinggi dan sesuai dengan kebutuhan organisasi apabila data yang dikumpulkan dan diolah juga tinggi mutunya. Oleh karena itu segala upaya harus ditempuh untuk menjamin bahwa data yang terkumpul untuk diolah memang bermutu tinggi.&lt;br /&gt;            Pengalaman dan kenyataan menunjukkan bahwa sumber data yang dapat digarap dapat bersifat internal, akan tetapi sangat mungkin juga bersifat eksternal. Oleh kareana itu langkah pertama yang yang harus diambil dalam proses pengolahan data ialah menentukan data apa yang diperlukan dan dimana data tersebut berada, apakah dalam organisasi sendiri atau harus dicari dari luar organisasi.&lt;br /&gt;            Sumber Data Internal. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa secara internal, semua komponen organisasi –dalam arti berbagai satuan kerja dan bidang-bidang fungsional- dapat menjadi sumber data. Suatu hal yang sangat penting disadari pengolah data dan sumber unternal ialah bahwa hubungan yang harus dibina antara kedua belah pihak harus bersifat simbiosis mutualis. Artinya sumber data harus terbuka terhadap para pengolah data dan dengan demikian bersedia memberikan data yang dimintanya untuk diolah lebih lanjut. Hanya dengan sifat keterbukaan itulah satuan kerja pengolah data dapat memberikan dukungan informasi yang diperlukan oleh berbagai satuan kerja lainnya dalam menyelenggarakan fungsi dan aktifitasnya. Sebaliknya, satuan kerja pengolah data harus mampu memberikan dukungan informasi yang diperlukan oleh berbagai satuan kerja dan komponen dalam organisasi.&lt;br /&gt;            Audit manajemen pengolahan data perlu meneliti hubungan timbal-balik seperti itu telah terbina atau tidak. Teknik-teknik yang dapat digunkan untuk penelitian tersebut antara lain adalah wawancara dan kuesioner.&lt;br /&gt;            Sumber Data Eksternal.  Dapat diartikan bahwa suatu organisasi memerlukan aneka ragam data dari sumber-sumber eksternal.  Pemilikan berbagai data tersebut sangat penting karena dapat mencerminkian situasi lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan yang pada umunya tidak berada pada posisi yang statis melainkan dinamis dan bahkan cair. Karena keaneka ragaman yang diperlukan, sumbernya pun pasti banyak. Contoh-contoh data yang perlu dikumpulkan dan diidentifikasi sumbernya ialah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.       Data dibidang politik dan baerbagai kebijakan pemerintah, termasuk di bidang ekonomi, industri, dan perdagangan, dapat diperoleh dari berbagai instansi pemerintah yang secara fungsional bertanggung jawab untuk bidang-bidang tersebut.&lt;br /&gt;2.       Data di bidang ekonomi, seperti arah perkembangan industri, neraca perdagangan, situasi pasar untuk produk tertentu, kondisi persaingan –baik domestik, regional maupun global- dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain kamar dagang dan industri, asosiasi perusahaan sejenis dan lembaga penelitian di lingkungan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;3.       Data di bidangpasar modal, jumlah uang beredar, tingkat pertumbuhan ekonomi nbaasional, tingkat dan laju inflasi, dan data-data dibidang keuangan lainnya dapat diperolah dari bank sentral, bursa efek, berbagai lembaga keuangan, instansi yangmenangani statistik perekonomian nasional, dan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;4.       Data di bidang permodalan yang sumbernya adalah lembaga keuangan dan perbankan, diperlukan oleh organisasi karena sangat mungkin organisasi, khususnya organisasi bisnis akan mencari modal tambahan baik untuk kepentingan investasi maupun untuk kepentingan operasioanal.&lt;br /&gt;5.       Data di bidang ketenagakerjaan dengan berbagai asapeknya, seperti tingkat pengangguran, kondisi pasaran kerja, tingkat-tingkat upah dan gaji berbagai kategori pekerja, komposisi tenaga kerja –termasuk wanita karier dan anak-anak- dapat diperoleh dari berbagaio sumber seperti departemen yang menangani ketenagakerjaan secara nasional, kamar dagang dan industri, serikat pekerja, dan asosiasi perusahaan sejenis.&lt;br /&gt;6.       Data lain yang diperlukan menyangkut bahan mentah atau bahan baku dapat diperoleh dari para pemasok, baik yang sudah menjadi mitra kerja perusahaan maupun yang belum tetapi berpotensi menjadi pemasok bahan yang diperlukan.&lt;br /&gt;7.       Data yang tidak kurang pentingnya untuk dimiliki oleh suatu perusahaan adalah data tentang konsumen, pelanggfan atau pengguna produk perusahaan yang bersangkutan. Kenyataan menunjukkan bahwa selalu terjadi perubahan yang perilaku konsumen atau pelanggan atau nasabah. Perubahan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pendidikan, peningkatan kesejahteraan, peningkatan pengahsilan, karena tersedianya produk lain sejenis yang dipandang lebih baik –misalnya dari segi mutu dan harga- atau karena tersedianya produk substitusi yang manfaatnya dinilai sama dengan produk yang biasa digunakannya. Juga mungkin karena dipasar tersedia produk yang dipandang sedang trendy, yang sering mempunyai dampak kuat terhadap selera konsumen mengingat sifat latah manusia. Data tentang perilaku dan preferensi para konsumen tersebut perlu dimiliki agar perusahaan dapat melakukan rancang bangun kembali produknya dengan 2 maksud utama, yaitu: (a)  agar konsumen lama tetap loyal kepada produk perusahaan yang selama ini sudah disenanginya, dan (b) agar produk tersebut mempunyai daya tarik bagi konsumen baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audit manajemen pengolahan data harus bisa mengungkapkan situasi yang sebenarnya dalam arti apakah semua sumber yang seharusnya digarap telah digarap dengan baik atau tidak. Jika tidak, penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyaebabnya dan memberikan sarn kepada manajemen tentang cara-cara yang mungkin ditempuh untuk mengatasinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Analisis Data&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Merupakan langkah yang sangat penting dalam kegiuatn pengolahan data. Ini karena, data hanya merupakan bahan mentah tau bahan baku yangtidak mempunyai nilai intrinsik sebagai instrumen pendukung dalam menjalankan berbagai kegiatan manajerial, terutama dalam pengambilan keputusan. Yang mempunyai nilai intrinsik hanyalah informasi. Salah satu tugasa poko satuankerja pengolah data adalah untuk enjamin bahwa bahan yang disampaikannya kepada manajemen, baik manajemen puncak maupun manajemen berbagai bidang fungsional harus berupa informasi.&lt;br /&gt;            Dengan kata lain, kegiatan analisis data dimaksudkan untuk mengubah data menjadi informasi siap pakai bagi orang lain dalam organisasi atau perusahaan. Dalam hal ini ada 3 hal penting yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;            Pertama: informasi haruslah faktual sehingga tidak bisa lagi diinterpretasikan oleh seseorang secara subjektif. Selama sesuatau masih mungkin diinterpretasikan dengan cara yang berbeda sehingga mempunyai makna yang berlainan, sesuatu itu masih berupa data yang perlu diolah lebih lanjut.&lt;br /&gt;            Kedua: para analis data perlu mengetahui siapa yang akan menjadi pengguna informasi yang dihasilkan itu. Hal ini sangat penting karena informasi yang sama sangat mungkin digunakan oleh berbagai satuan kerja dalam organisasi. Karena berbagai satuan kerja yang terdapat dalam organisasi mempunyai misi yang harus dikerjakan serta fungsi yang harus dijalankan, cara menggunakan informasi yang diperolehnya pun akan sangat berbeda dengan satuan kerja yang memiliki fungsi dan misi yang berlainan. Misalnya, informasi tentang pemasok mempunyai implikasi tertentu bagi satuan kerja yang menangani produksi, dan berlainan apabila dibandingkan dengan implikasinya bagi satuan kerja yang menangani pembelian. Disamping itu para analisi harus mengetahui untuk apa informasi tersebut digunakan.&lt;br /&gt;            Ketiga: ada informasi yang diperlukan oleh pihak-pihak tertentu dalam erganisasi sebagai bahan yang karena petimbangan tertentu masih memerlukan pengolahan atu analisis lebih lanjut.&lt;br /&gt;            Audit atas analisis data bertujuan untuk mngetahui apakah informasi yang dihasilkan memenuhi kebutuhan berbagai pihak yang memerlukannya atau tidak. Dengan kat lain untuk melihat apakah ciri-ciri yanfg disinggung dimuka terpenuhi atau tidak termasuk ketepatan waktu penyampaiannya kepada yang berkepentingan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Penyimpanan Informasi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Sebagai bagian integral dari proses pengolahan data, penyimpanan informasi penting karena paling sedikit 4 pertimbangan utama, yaitu:&lt;br /&gt;            Keamanan Informasi, ialah menjaga agar informasi yang dihasilkan terhindar dari (a) berbagai kemungkinan kerusakan –misalnya karena kebakaran atau banjir- karena tempat penyimpanan yang tidak tepat, dan (b) kemungkinan dicuri oleh orang atau pihak yang sebenarnya tidak berhak memiliki informasi tersebut. Pencurian informasi dapat dilakukan oleh orang-orang dalam terutama apabila informasi tersebut dijualnya kepada orang atau pihak lain, seperti kepada pesaing, dalam hal adanya terobosan baru atau desain produk baru, akan tetapi dapat  pula dilakukan oleh organisasi atau perusahaan lain yang ingn memilki informasi tersebut. Oleh karena itu, keamanan informasi menjadi sangat penting karena biasanya terobosan atu desain produk baru hanya tercipta setelah dilakukan penelitian dan pengembangan yang memakan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Organisasi atau perusahan yang berhasil melakukan terobosan dan desdain baru tersebut sangat mungkin meraih keunggulan komparatif. Itulah sebabnya pencurian informasi bukan hal yang mustahilterjadi. Bahwa suatau organisasi atu perusahaan melakukan kegiatan “inteligens” kiranya sudah merupakan rahasia umum.&lt;br /&gt;            Kerahasiaan Informasi.  Berkaitan erat dengan keamanan informasi ialah kerahasiaannyaq. Semua organisasi memiliki informasi dipandang bersifat rahasia. Informasi tentang hasil penelitian dan pengembangan, informasi tentang desain produk, informasi tentang volume produksi, informasi penjualan, dan informasi keuangan adalah beberapa diantaranya. Segala upaya harus dilakukan untuk menjamin bahwa informasi itu tidak jatuh ketangan atau orang atau pihak yang tidak berhak.&lt;br /&gt;            Biaya Penyimpanan Informasi. Mengenai biaya penyimpanan informasi, faktor efisiensi harus diperhatikan mengingat perusahaan  -terutama yang besar- memiliki banyak informasi yang terakumulasi berbarengan dengan perjalanan waktu, baik sebagai produk kegiatan menjalankan roda organisasi maupun yang disengaja dikumpulkan untuk kepentingan organisasi dimasa depan. Oleh karaena itu, manajemen harus secara teliti memilih sarana peyimpanan informasi. Sesungguhnya peningkatan efisiensi penyimpanan informasitidak terlalu sulit dilakukan karena banyak jenis produk yang dapat digunakan sebagai sarana penyimpanan informasi sepreti hard disc yang memang sudah dipasang di komputer, floppy disc atau disket, mikrofilm, punched cards, dan kertas. Pengalaman menunjukkan bahwa alat peyimpanan diatas kertas dewasa ini semakin kurang penggunaannya, bukan karena ruang penyimpanan yang besarakan tetapi juga karena faktor keamanan dan kerahasiaan informasi.&lt;br /&gt;            Audit atas penyimpanan informasi bertujuan untuk memilih teknologi tepat guna dalam rangka menghemat biaya penyimpanan.&lt;br /&gt;            `akses kepada Informasi, pada dasrnya ada 2 hal. Pertama: setiap orang yang berhak dan perlu mengakses informasi harus dapat melukannya dengan mudah dan dalam waktu yang singkat.dengan demikian informasi akan bebar-benar mendukung proses manajerial yang harus dilakukan oleh berbagai pihak dalam organisasi, termasuk kegiatan pengambilan keputusan. Penting untuk dicatat bahwa demi keamanan akses tersebut, 2 hal perlu diperhatikan, yaitu: (a) kepada berbagai pihak yang berhak memperoleh tertentu perlu diberikan password oleh satuan pengolah data dan pada umunya password tersebut diganti secara berkala dan dengan demikian terjamin bahwa hanya mereka yang berhak yang dimungkinkan mengakses informasii tertentu; (b) akses kepada informasi tidak tergantung pada hadir tidaknya karyawan yang bertanggung jawab dalam hal penyimpanan data atau informasi. Oleh karena itu harus diciptakan sistem yang andal untuk mengakses data. Kedua: Sistem mengakses informasi harus pula mengandung jaminan bahwa informasi tidak mungkin atau sangat sulit diakses oleh mereka yang tidak berhak. Salah satu cara yang biasanya ditempuh untuk membatasi akses tersebut ialah dengan menyatakan wilayah tempat penyimpanan informasi sebagai wilayah “tertutup” (restricted area) yang tidak boleh dimasuki oleh mereka yang tidak berhak atau hanya boleh dimasuki dengan izin khusus –misalnya dengan menggunakan tanda pengenal tertentu- dan selalu disetai oleh petugas yang bertanggung jawabuntuk menjaga ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Demikian pentingnya pengamanan terhadap akses informasi sehingga selalu menjadi salah satu objek audit pengolahan data. Hal ini karena suatu organisasi atau perusahan dapa tmenderita kerugian yang besar apabila sampai pencurian informasi oleh pihak lain. Dengan kata lain, upaya menciptakan informasi yang memenuhi kebutuhan informasi bukanlah tanpa biaya. Karena sifatnya yang sudah siap pakai informasi yang diambil oleh pihak lain tidak lagi harus mngeluarkan biaya untuk memperoleh informasi tersebut. Bukan hanya itu, informasi perusahan yang sesungguhnya bersifat rahasia memungkinkan pihak lain –seperti pesaing- mengetahuiu langkah-langkah strategis apa yang akan diambil oleh perusahaan di masa depan dan dengan demikian dapat “mendahului” perusahaan tersebut mengambil langkah dimaksud dan memetik keuntungan yang besar daripadanya. Misalnya dalam meluncurkan dan memasarkan produk baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Audit atas keamanan dan kerahasiaan informasi bertujuan untuk meyakinkan bahwa sistem pengamanan dan pemeliharaan rahasia organisasi atau perusahaan benar-benar dapat diandalkan. Jika ditemukan kelemahan, auditor harus pula mampu memberikan saran-saran untuk mengatasinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;AUDIT PERANGKAT KERAS&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Komponen yang sangat penting dalam pengolahan data secara elektronik ialah perangkat keras (&lt;em&gt;hardware&lt;/em&gt;). Telah diketahui secara luas bahwa industri teknologi informasi telah berhasil memproduksikan aneka ragam perangkat keras atau komputer. Ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang seperti merknya, reputasi produsennya, ukurannya, kemampuannya, kecepatan kerjanya, mutunya, harganya, distributor atau agaen penjualannya, dukungan suku cadang, dukungan pemeliharaan, dukungan pelatihan bagi pengguna, dan pelayanan purna jualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kombinasi dari berbagai faktor tersebut tercermin pada tersedianya perangkat keras yang dapat dikategorikan sebagai komputer pusat (mainframe), komputer mini, komputer mikro, dan komputer makro. Berbagai konfigurasi komputer memungkinkan suatu perusahaan memutuskan apakah pengolahan data dalam perusahaan dilakukan berdasarkan pendekatan sentralisasi atau desentralisasi atau kombinasi dari keduanya. Tidak ada pedoman yang berlaku umum mengenai hal ini. Berarti setiap perusahaan harus memutuskan sendiri pola mana  yang akan digunakannya. Akan tetapi pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa pola kombinasilah yang paling banyak digunakan. Dengan kata lain, dan terutama pada perusahaan besar- perusahaan menggunakan mainframe karena perlunya pangkalan data –data base- tunggal dan dalam pada itu memungkinkan berbagai komponen atau satuan kerja dalam perusahaan mengolah data sendiri dengan menggunakan komputer mikro atau komputer mini seperti personal computer dan notebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kecenderungan demikian semakin menonjol karena manajemen puncak tampaknya semakinm menyadari bahwa efisiensi, efektifitas, dan produktifitas perusahaan dapat ditingkatkan dengan memberikan kebebasan dan “otonomi” yang semakin besar kepada para manajer yang lebih rendah untuk mengambil keputusan sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi di lapangan.&lt;br /&gt;            Ada beberapa alasan mengapa harus dilakukan audit manajemen pengolahan data terhadap perangkat keras. Pertama: perlu diteliti alasan yang digunakan oleh manajemen puncak dalam memutuskan pola pemrosesan data dalam organisasi. Tujuannya ialah untuk mngetahui apakah alasan tersebut dpat dipertanggungjawabkan dari segi kepentingan perusahaan atau tidak. Kedua: apakah bearbagai akibat keputusan tersebut telah dipertimbangkan dengan matang. Misalnya jika perusahaan menggunakan pola yang sentralistik maka dampaknya dapat menimbulkan sikap apatis pada manajer bawahan. Ini perlu dipertimbangkan dengan cermat. Ketiga: untuk mngetahui kebijaksanaan perusahaan tentang pengadaan perangkat keras tersebut. Misalnya apakah pembeliannya dilakukan secara terpusat oleh bagian pembelian ataukah menyerahkannya kepada para pengguna perangkat keras tersebut? Ada keunggulan dan kelemahan dari cara manapun yang diterapkan. Jika pembelian secara terpusat dapat dikatakan mengabaikan atau paling sedikit kurang memperhatikan preferensi pemakianya pada eselon bawahan. Sebaliknya, jika pemberlian dilakukan dengan pola desentralisasi kelemahan utamanya terletak pada kenyataan bahwa posisi tawar pembeli menghadapi penjual relatif lemah. Disamping itu pemeliharaannya menjadi rumit dan mahal karena merek, konfigurasi, dan karakteristik lain yang berbeda-beda. Kelebihannya ialah bahwa perangkat keras yang dibeli bukan hanya sesuai dengan preferensi pengguna, akan tetapi juga sesuai denagn keterampilan pemakai yang mungkin tidak atau kurang memahami segi teknologi perangkat keras tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Singkatnya, audit perangkat keras bertujuan untuk menjamin bahwa (a)konfigurasiu perangkat keras yang dimilki perusahaan sesuai dengan kebutuhan informasi baik untuk kepentingan rutin maupun non rutin, (b) aspek psikologis penggunaan teknologi informasi diperhitungkan dengan matang, khususnya sapek pemberian kesempatan kepada para manajer eselon bawahan untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, (c) perusahaan telah mempertimbangkan bahwa usia satu generasi perangkat keras relatif makin pendek, (d) pengoperasian perangkat keras tersebut didukung oleh para pekerja otak (brainware) yang memenuhi kualifikasi yang diperlukan sehingga benar-benar mampu memberikan dukungan informasi yang diperlukan oleh berbagai komponen perusahaan, dan (e) biaya pengadaan dan pemeliharaannya sudah merupakan beban yang paling ringan sehingga tidak sulit bagi perusahaan untuk memikulnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;AUDIT PERANGKAT LUNAK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Pentingnya perangkat lunak dalam keseluruhan proses pengolahan data secara elektronik terlihat jelas pada kenyataan bahwa secanggih apapun perangkat keras yang dimilki oleh satu perusahaan, manfaat kecanggihan tersebut hanya dapat dipetik secara maksimal apabila disertai oleh perangkat lunak yang sesuai. Inti dari seluruh perangkat lunak ialah program atau instruksi yang diberikan ileh programmer kepada komputer untuk melakukan “pekerjaan” tertentu.&lt;br /&gt;            Sangat menarik untuk mengamati dan menyimak bahwa berbarengan dengan perkembangan di bidang perangkat keras, tercipta pula berbagai jenis perangkat lunak yang meungkinkan berbagai penggunaan perangkat keras tersebut. Jika perangkat lunak tertentu yang dihasilkan oleh perusahaan produsen perangkat keras, perangkat lunak tersebut biasanya digunakan untuk mengoperasikan perangkat keras yang dihasilkan oleh perusahaan yang sama. Akan tetapi, jika perangkat lunak tertentu dihasilkan oleh perusahaan yang bergerak khusus dalam bidang itu, produk tersebut biasanya bersifat compatible dalam arti dapat digunakan oleh berbagai perangkat keras lain, tidak terikat kepada merk atau perusahaan produsennya.hasil ciptaaan perangkat lunak tersebut terwujud antara lain dalam makin banyaknya bahasa komputer yang dewasa ini makin mudah memperolehnya sehingga penggunaanya tidak lagi terbatas pada aplikasi lain yang sejenis, akan tetapi juga untuk aplikasi lain yang jauh lebih canggih, seperti desain produk baru, kepentingan komunikasi, mengakses informasi di Internet, dan untuk kepentingan multimedia. Singkatnya untuk aplikasi yang dapat dikatakan tidak lagi terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Oleh kareana itu perangkat lunak merupakan salah satu objek audit manajemen pengolahan data. Tujuannya ialah untuk menemukan fakta tentang apakah perangkat lunak yang digunakan sudah merupakan perangkat yang paling tepat atau tidak, dan apakah penggunaannya sudah benar-benar untuk memenuhi kebutuhan informasi perusahaan. Selain itu penting pula diketahui apakah perangkat lunak yang digunakan diciptakan sendiri secara intern, atau diperoleh dengan jalan membelinya dari pihak lain atau vendor tertentu. Jika dibeli dari vendor, norma-norma moral dan etika menuntut agar pihak lain atau vendor adalah perusahaan yang bonafide dan tidak menjual produk bajakan. Memang benar bahwa produk bajakan mempunyai kemampuan yang sama dan harganya jauh lebih murah dari aslinya. Akan tetapi pembajakan melanggar “hak cipta “ (Intellectual Property Rights) dari pemiliknya yang sah dan dengan demikian merupakan tindakan yang tidak etis apabila perusahaan tertentu membeli dan menggunakan hasil bajakan tersebut. Audit harus mampu menemukan fakta tentang hal ini dan apabila terjadi, menyarankan kepada manajemen puncak agar hal tersebut tidak terulang lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;AUDIT PEKERJA OTAK (BRAINWARE)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Telah diketahui secara umum bahwa peranan para pekerja otak (brainware) atau  unsur manusia dalam pengolahan data tidak hanya bersifat strategis, akan tetapi sangat dominan dan menentukan. Secanggih apapun perangkat keras yang tersedia, semutakhir apapun perangkat lunak yang ada dan kebutuhan akan informasi apapun yang timbul dan harus dipenuhi, pada analisis terakhir semuanya tergantung pada unsur manusianya.&lt;br /&gt;            Seperti diketahui para pekerja otak dalam pengolahan data terdiri dari tenaga-tenaga spesialis dalam berbagai aspek informatika, baik karena latar belakang pendidikan dan pelatihan yang telah pernah ditempuhnya –yang pada gilirannya membekali merelka dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu –maupun karena  bakat, minat, dan pengalamannya. Mereka dapat dikategorikan pada berbagai jenis klasifikasi jabatan seperti: (a) mereka yang menduduki jabatan manajerial dalam satuan kerja pengolahan data, (b) pengembang sistem, (c) analis sistem, (d) pemrogram (programmers), (e) pimpinan proyek, (f) pengawas dan pengendali sistem, dan (g) operator mesin-mesin komputer danb perangkat keras lainnya.&lt;br /&gt;            Sesungguhnya persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pekerja otak ini jauh lebih berat dibandingkan dengan karyawan lain dalam perusahaan. Dikatakan demikian karena selaku pengolah data dan peyedia informasi bagi seluruh perusahaan, pekerja otak dituntut memahami dengan tepat seluk-beluk perusahaan, seperti yang menyangkut  (a) sektor industri di mana perusahaan bergerak, (b) sejarah perusahaan, (c) struktur organisasi perusahaan, (d) kultur organisasi, (e) filsafat perusahaan, (f) orientasi perusahaan, (g) produk perusahaan baik dalam arti hanya menghasilkan satu produk unggulan atau menempuh kebijakan diversefikasi produk, (h) proses produksi yang biasanya dipakai, (i) pangsa pasar yang telah dan ingin dikuasai, (j) segmen pasar yang mau dan sudah didimasauki, (k) pemasok bahan mentah atau bahan baku, (l) sifat persaingan yang dihadapi, dan (m) pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk pemilik modal, pemilik saham, manajer, pemerintah, dan karyawan. Singkatnya pengenalan yang tepat tentang seluruh seluk beluk perusahaan. Pengenalan ini mutlak perlu karena dengan demikian mereka akan mngetahui kebutuhan informasi yang harus dipenuhi dan sumber data internal dan eksternal yang perlu digarap.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu, segala upaya harus ditempuh untuk menjamin tersedianya pekerja otak yang memenuhi persyaratan pengetahuan, keterampilam, kepribadian, sikap, dan prilaku yang sesuai dengan tuntutan semua komponen perusahaan yang harus dilayani dan didukungnya. Ini berarti bahwa manajemen sumber daya manusia dalam perusahaan ahrus mengambil langkah dalam bidang fungsional yang penting ini secara tepat. Berarti semua fungsi manajemen SDM harus terselenggara sebaik mungkin  antara lain meliputi: (a) perencanaan tenaga kerja pengolah data dengan berbagai kategori dan klasifikasinya, (b) rekrutmen, (c) seleksi, (d) orientasi, (e) penempatan, (f) pelatihan dan pengembangan, (g) perencanaan dan pengembangan karier, (h) sistem imbalan yang efektif, (i) penyediaan jasa-jasa dan bantuan organisasi, (j) penilaian kinerja yang objektif dan rasional, (k) pemeliharaaan hubungan yang serasi antara tenaga kerja tersebut dengan perusahaan, dan (l) program pensiun yang memungkinkan mereka mempertahankan martabatnya sebagai manusia apabila mereka harus “turun dari panggung kekayaan”.&lt;br /&gt;            Dengan demikian diharapkan pekerja otak tersebut akan: (a) memiliki motivasi yang tinggi untuk memberikan kontribusi maksimal kepada perusahaan, (b) menampilkan sikap- yang positif terhadap perusahaan, (c) bersedia membuat komitmen yang besar, keberhasilan perusahaan mencapai tujuan dan berbagai sasarnnya, serta (d) bersedia memikul tanggung jawab yang besar yang kesemuanya akan mengejawantah dalam efisiensi, efektifitas,dan produktifitas kerja yang tinggi.&lt;br /&gt;            Audit manajemen pengolahan data dalam bidang ini bertujuan untuk mengungkapkan faqkta tentang kebijakan dan praktek perusahaan tentang perlakuan yang diberikannya kepada pekerja otak tersebut. Banyak jenis teknik audit yang dapat digunakan untuk mengungkapkan fakta-fakta tersebut seperti wawncara, kuesioner, penelitian dokumen perusahaan, dan sebagainya. Dengan asumsi bahwa penyelenggara audit  adalah tenaga profesional yang menguasai bidangnya, mereka akan dapat menentukan teknik audit apa yang paling tepat digunakan. Yang jelas ialah bahwa temuannya disampaikan kepada manajemen puncak, kepada manajer sumber daya manusia, dan kepada pekerja otak yang bersangkutan, baik untuk perbaikan apabila diperlukan, maupun demi peningkatan kinerja para pekerja otak tersebut di masa yang akan datang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-116607926320373250?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/116607926320373250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=116607926320373250' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/116607926320373250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/116607926320373250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/12/5-audit-sistem-informasi-manajemen.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-115867637689929032</id><published>2006-09-19T07:15:00.000-07:00</published><updated>2006-09-19T07:32:57.773-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Sejarah IMAKSI&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;IMAKSI adalah suatu wadah yang menyalurkan aspirasi mahasiswa Program Studi Akuntansi UPI baik dalam bidang akademik, kemahasiswaan,olahraga,minat dan bakat serta sebagai ajang bagi mahasiswa Akuntansi UPI guna mengembangkan kegiatan bersosialisasi yang baik di lingkungan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMAKSI)  didirikan pada tanggal 10 Mei 2003. Ide awalnya berangkat dari keinginan untuk membentuk suatu organisasi kemahasiswaan yang  bisa menampung berbagai aspirasi mahasiswa akuntansi UPI sekaligus menyalurkannya dalam bentuk positif yang terorganisir. Mka, di selenggarakanlah Musyawarah Mahasiswa (MUMAS) I. Terpilih sebagai Ketua Umum IMAKSI yang pertama yaitu Rani Astrianti (Ak '02) dan Gilang (Ak '02) sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa untuk periode kepengurusan 2003/2004. Pada MUMAS II IMAKSI, Rd.Bambang Seno Adi (Ak '02) menjadi ketua IMAKSI berikutnya dengan Ketua BPM, Shintanimargini (Ak '03) untuk periode 2004/2005. MUMAS III IMAKSI menetapkan kepengurusan periode 2005/2006 dengan Ketua Umum yakni Nurhayadi (Ak '03) dan Ketua BPM yakni Hari Nuraliman (Ak '02). Ketua IMAKSI yang ke-4 ialah Gugi Adiputra (Ak' 04) yang dipilih lewat MUMAS IV IMAKSI tanggal                        untuk periode 2006/2007. Ketua BPM dijabat oleh Nurhayadi (Ak '03)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-115867637689929032?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/115867637689929032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=115867637689929032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115867637689929032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115867637689929032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/09/sejarah-imaksiimaksi-adalah-suatu.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-115407631474447390</id><published>2006-07-28T01:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-28T01:45:15.126-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Rasanya Baru Kemarin...&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Puisi: KH.Mustafa Bisri&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bung Karno dan Bung Hatta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Atas nama kita menyiarkan dengan seksama&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemerdekaan kita di hadapan dunia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gaung pekik merdeka kita&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masih memantul-mantul tidak hanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari para jurkam PDIP saja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang tiada. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penerus-penerusnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang turun tahta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Taruna-taruna sudah banyak yang jadi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Petinggi negeri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menteri-menteri yang dulu suka korupsi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang meneriakkan reformasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rakyat yang selama ini terdaulat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sudah semakin pintar mendaulat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pemerintah yang tak kunjung merakyat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pun terus dihujat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sudah mulai runtuh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pelukan kasih banyak ibu-bapa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dari anak-anak kandung mereka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;banyak saudara terhadap saudaranya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ruh dan jiwa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sudah semakin tak ada harganya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikanpara penguasa berlaku sewenang-wenang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kini sudah pandai menirukan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Semakin bertambah besar pengaruhnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kepentingan sendiri dan golongan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sudah semakin melecehkan kebersamaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;RasanyaBaru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pahlawan-pahlawan idola bangsa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seperti Pangeran Diponegoro&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,dan Kura-kura Ninja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banyak orang pandai sudah semakin linglung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banyak orang bodoh sudah semakin bingung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Hari ini ingin rasanyaAku bertanya kepada mereka semuaSudahkah kalian Benar-benar merdeka?)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Negeri zamrud katulistiwaku yang manis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah terbakar nyaris habis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dilalap krisis dan anarkis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin menikmati pembangunan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banyak yang tak rela sendiri kesulitan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para oportunis pun mulai bertampilan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berebut menjadi pahlawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pensiunan-pensiunan politisi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah bangkit kembali&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Partai-partai politik sudah bermunculan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dalam reinkarnasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kini sudah pandai menembakkan kata-kata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Merdeka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin dijarah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah mulai pandai meniru menjarah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang perlu direformasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin dipaksa-paksa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah mulai berani mencoba memaksa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang selama ini tiarap ketakutan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang muncul ke permukaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin dipojokkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah mulai belajar memojokkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin terbelenggu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupaSudah mulai banyak yang lupa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tentang makna merdeka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hanya dengan meludahkan kata-kata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dakwah mengajak kebaikan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dialog dan diskusi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah digantikan peluru dan amunisi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarinMasyarakat Indonesia yang berketuhanan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah banyak yang kesetananBendera merahputih yang selama ini dibanggakanSudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Legislatif yang lama sekali non aktif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan yudikatif yang pasif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mulai pandai menyaingi eksekutif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dalam mencari insentif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah mulai kebingungan menerima orderan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pak Harto yang kemarin kita tuhankan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Atau lenyap seperti disembunyikan bumi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Habibie sudah meninggalkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Negeri menenangkan diri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gus Dur sudah meninggalkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Atau ditinggalkan partainya seorang diri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;AbdurrahmanMengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Obyek dan dipilihkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kini sudah dimerdekakan Tuhan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dapat sendiri menentukan pilihan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rakyat yang kebingungan mencari panutan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Hari ini ingin rasanyaAku bertanya kepada mereka semua&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaiman rasanyaMerdeka?)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Orangtuaku sudah lama pergi bertapa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anak-anakku sudah pergi berkelana&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku sendiri tetap menjadi tikus&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Hari inisetelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ingin rasanya aku mengajak kembali&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mereka semua yang kucinta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;untuk mensyukuri lebih dalam lagi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;rahmat kemerdekaan ini&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;diri sendiri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bagi merahmati sesama)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rasanya baru kemarin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Merdeka&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ingin rasanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku sekali lagi menguak angkasa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dengan pekik yang lebih perkasa:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Merdeka!)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Rembang, 17 Agustus 2004&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-115407631474447390?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/115407631474447390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=115407631474447390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115407631474447390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115407631474447390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/07/rasanya-baru-kemarin.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-115391724078836649</id><published>2006-07-26T05:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-26T05:34:03.136-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="ftp://192.168.4.11/data/anie/1024x768_1053182797.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="ftp://192.168.4.11/data/anie/1024x768_1053182797.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-115391724078836649?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/115391724078836649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=115391724078836649' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115391724078836649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115391724078836649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/07/blog-post_26.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-115391674997493069</id><published>2006-07-26T05:23:00.000-07:00</published><updated>2006-07-26T05:25:50.256-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1764/1263/1600/AKTIVIS%20DEMO.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1764/1263/320/AKTIVIS%20DEMO.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-115391674997493069?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/115391674997493069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=115391674997493069' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115391674997493069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/115391674997493069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/07/blog-post.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114836985021867061</id><published>2006-05-23T00:35:00.000-07:00</published><updated>2006-05-23T00:37:30.310-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;kajian ayat&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar belakang&lt;br /&gt;Banyak orang yang tidak beriman kepada al-Qur'an sekalipun mereka mengaku sebagai orang yang beriman. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan berpegang pada khayalan, dan kehidupan mereka menyalahi al-Qur'an, bahkan mereka menolak al-Qur'an sebagai pembimbing mereka. Padahal, hanya al-Qur'an yang memberikan pengetahuan yang benar dalam masa kehidupan ini kepada setiap orang, dan al-Qur'an menjelaskan rahasia-rahasia penciptaan Allah dengan penjelasan paling benar dan paling murni. Informasi apa pun yang tidak berdasarkan pada al-Qur'an adalah informasi yang tidak benar, dengan demikian informasi tersebut merupakan tipuan dan khayalan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berpegang pada al-Qur'an hidupnya dalam keadaan mengkhayal. Di akhirat, mereka akan dilaknat selama-lamanya.&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an, juga dalam shalat, perintah, larangan, dan akhlak yang baik, Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada umat manusia. Sesungguhnya semuanya ini merupakan rahasia penting, dan mata yang mau memperhatikan dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini di dalam hidupnya. Tidak ada sumber lain selain al-Qur'an yang dapat menjelaskan rahasia-rahasia ini. Al-Qur'an adalah sumber istimewa bagi rahasia-rahasia ini, sehingga siapa pun orangnya, betapapun ia orang yang cerdas dan melek huruf tidak akan pernah menemukan rahasia-rahasia ini di tempat lain.&lt;br /&gt;Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur'an, sedangkan orang lain dapat memahaminya, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyukan dalam al-Qur'an hidup dalam keadaan menderita dan berada dalam kesulitan. Ironisnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur'an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira.&lt;br /&gt;Sebabnya adalah karena al-Qur'an itu jelas, mudah, dan cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang. Dalam al-Qur'an, Allah menyatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus." (Q.s. an-Nisa': 174-75).&lt;br /&gt;Namun demikian, kebanyakan manusia, meskipun mereka sanggup memecahkan masalah yang sangat sulit, memiliki pemahaman dan mampu mempraktikkan filsafat yang sangat membingungkan, ternyata tidak mampu memahami hal-hal yang jelas dan sederhana yang terdapat dalam al-Qur'an. Sebagaimana tetah dijelaskan dalam buku ini, persoalan ini merupakan rahasia yang penting. Di samping tidak mampu memahami sifat dunia yang sementara, hari demi hari orang-orang seperti ini semakin dekat kepada kematian yang tak dapat dielakkan. Rahasia-rahasia dalam al-Qur'an merupakan rahmat bagi orang beriman, dan di sisi lain, al-Qur'an memberikan ancaman bagi orang-orang kafir, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Allah menjelaskan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu hanyalah menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim." (Q.s. al-Isra': 82).&lt;br /&gt;Buku ini membicarakan tentang persoalan-persoalan yang berhubungan dengan ayat-ayat yang telah diwahyukan Allah kepada manusia sebagai suatu rahasia. Ketika seseorang membaca ayat-ayat ini, dan perhatiannya tertuju kepada rahasia-rahasia yang terkandung dalam ayat ini, maka yang harus ia lakukan adalah berusaha mengetahui maksud Allah di balik berbagai peristiwa, lalu memikirkan segala sesuatunya berdasarkan al-Qur'an. Maka, orang-orang pun akan menyadari dengan kesadaran yang mendalam tentang rahasia-rahasia tersebut, sehingga al-Qur'an akan mengendalikan kehidupan mereka dan kehidupan orang lain.&lt;br /&gt;Semenjak orang bangun pada pagi hari, wujud dari rahasia-rahasia yang diciptakan Allah ini dapat dilihat. Untuk memahami rahasia-rahasia ini, yang ia perlukan hanyalah selalu memperhatikannya, berpaling kepada Allah, dan bertafakur. Maka, ia akan menyadari bahwa hidupnya sama sekali tidak tergantung pada hukum-hukum yang merugikan sebagaimana yang dipakai banyak orang, dan ia akan menyadari bahwa satu-satunya kekuasaan dan hukum yang dapat dipercaya hanyalah hukum Allah. Ini merupakan rahasia yang sangat penting. Tidak ada kebaikan di dalam aturan-aturan dan praktik-praktik yang digunakan kebanyakan orang selama berabad-abad yang dianggap sebagai kebenaran yang pasti. Sesungguhnya, orang-orang ini telah tertipu. Kebenaran adalah apa yang dinyatakan dalam al-Qur'an. Siapa pun yang membaca al-Qur'an dengan ikhlas, lalu memikirkan berbagai peristiwa berdasarkan al-Qur'an dan iman, dan mendekatkan diri kepada Allah, ia akan melihat dengan jelas rahasia-rahasia ini. Perbuatan inilah yang akan memberikan pemamahan yang lebih baik bahwa Allah adalah Yang Maha Esa Yang mengendalikan setiap makhluk, hati, dan pikiran, sebagaimana pernyataan Allah dalam sebuah ayat:&lt;br /&gt;"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Q.s. Fushshilat: 53).&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas maka penulis bermaksud untuk mencoba mengkaji salah satu ayat Allah yaitu Q.s.Adz-dzariyat: 2, ayat ini bercerita tentang awan yang mengandung hujan. Semoga dengan mengkaji ayat ini, kita dapat semakin meyakini tanda-tanda kekuasaan Allah dan semoga kita semakin yakin bahwa Al-Quran itu benar-benar kitab Allah yang membawa kebenaran dan kemaslahatan bagi seluruh umat di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2  Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Untuk memahami makna yang terkandung pada surat Adz-dzariyat ayat 2 ini, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:&lt;br /&gt;1.      Terjemahan dari Q.s.Adz-dzariyat: 2&lt;br /&gt;2.      Telaah tafsir dari Q.s.Adz-dzariyat: 2&lt;br /&gt;3.      Kajian keilmuan tentang awan,hujan dan proses terjadinya hujan&lt;br /&gt;4.      Ayat-ayat lain yang mendukung seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3  Tujuan&lt;br /&gt;Tujuan penulis mengkaji Q.s.Adz-dzariyat: 2 adalah:&lt;br /&gt;1.      Memenuhi salah satu tugas Tutorial Agama Islam.&lt;br /&gt;2.      Memahami isi dan kandungan dari Q.s.Adz-dzariyat: 2&lt;br /&gt;3.      Mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mengkaji salah satu ayatnya, yaitu Q.s.Adz-dzariyat: 2, tentang awan yang mengandung hujan.&lt;br /&gt;4.      Menambah keyakinan dan ketaqwaan kepada Allah s.w.t. dengan mengetahui tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya dalam mengatur alam semesta sehingga alam ini dapat berguna bagi manusia sebagai makhluk ciptaanya yang paling sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4  Sistematika Makalah&lt;br /&gt;KAJIAN  AYAT  AL-QUR’AN  SURAT  ADZ-DZARIAT  AYAT  2&lt;br /&gt;BAB I  PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1  Latar Belakang&lt;br /&gt;1.2  Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1.3  Tujuan&lt;br /&gt;1.4  Sistematika Makalah&lt;br /&gt;BAB II  ISI&lt;br /&gt;2.1 Terjemah Q.s.Adz-dzariyat: 2&lt;br /&gt;2.2 Telaah Tafsir Q.s.Adz-dzariyat: 2&lt;br /&gt;2.3 Ayat-ayat lain yang mendukung Q.s.Adz-dzariyat: 2&lt;br /&gt;2.4 Kajian Keilmuan&lt;br /&gt;BAB III  PENUTUP&lt;br /&gt;3.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;3.2 Saran&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114836985021867061?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114836985021867061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114836985021867061' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114836985021867061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114836985021867061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/kajian-ayatbab-i-pendahuluan-1.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114836957254452259</id><published>2006-05-23T00:29:00.000-07:00</published><updated>2006-05-23T00:32:52.966-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Teori kepribadian Abraham Maslow&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Abraham Harold Maslow lahir pada tanggal 1 April 1908 di Brooklyn, New York. Dia anak pertama dari tujuh bersaudara. Kedua orangtuanya adalah penganut yahudi tidak berpendidikan yang berimigrasi dari Rusia. Karena sangat berharap anak-anaknya berhasil di dunia baru, kedua orang tuanya memaksa Maslow dan saudara-saudaranya belajar keras agar meraih keberhasilan di bidang akademik. Tidak heran jika semasa kanak-kanak dan remaja, Maslow menjadi anak penyendiri dan menghabiskan hari-harinya dengan buku.&lt;br /&gt;Maslow mendapat kedudukan dari departemen psikologi di Branders dari 1951 sampai 1969. disitu dia bertemu Kurt Goldstein, yang memberi ide atau pikiran tentang aktualisasi diri dalam bukunya yang terkenal, The Organism (1934). Disini juga dia memulai mengenalkan psikologi humanistik – sesuatu yang besar yang lebih penting untuk dia daripada teori yang dibuatnya.&lt;br /&gt;Maslow mengembangkan gagasan ini lebih lanjut dan dikenal dengan sebutan hirearki kebutuhan:      &lt;br /&gt;Kebutuhan fisiologis. Ini termasuk kebutuhan akan oksigen, air, protein, garam, gula, kalsium, dan lainnya seperti mineral dan vitamin. Ini juga, termasuk kebutuhan untuk menjaga PH agar seimbang dan suhu yang sesuai. Dan juga, ada kebutuhan untuk aktif, istirahat, tidur, untuk melepaskan diri dari yang tidak dibutuhkan ( CO2, keringat, air kencing, dan kotoran ), untuk menjaga agar tidak sakit dan untuk memenuhi seks.&lt;br /&gt;Kebutuhan rasa aman. Kalau kebutuhan fisiologis sudah diperhatikan, barulah lapisan kebutuhan kedua ini muncul. Anda akan semakin ingin menemukan situasi dan kondisi yang aman, stabil dan terlindung. Anda perlahan – lahan akan menginginkan struktur dan tatanan. Sebaliknya, jika kebutuhan lapisan kedua ini dilihat secara negatif, perhatian anda akan terfokus bukan pada persoalan lapar dan haus, tapi pada rasa takut dan kecemasan. Dikalangan orang-orang dewasa di amerika, kebutuhan ini akan terwujud dalam keinginan mereka yang sangat kuat untuk tinggal berdekatan dengan tetangga yang baik, pekerjaan yang aman, perencanaan masa pension yang matang, asuransi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Kebutuhan cinta dan rindu (kebutuhan untuk dimiliki atau memiliki). Ketika kebutuhan fisiologis  dan rasa aman sudah terpenuhi , kebutuhan lapisan ketiga pun muncul. Anda mulai merasa butuh teman, kekasih, anak dan bentuk hubungan berdasarkan perasaan Lainnya. Dilihat secara negative, anda akan semakin mencemaskan kesendirian dan kesepian. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ini dapat berbentuk keinginan untuk menikah, memiliki keluarga, menjadi bagian dari satu kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;4.  Kebutuhan harga diri. Setelah itu kita akan mencari harga diri. Maslow mengatakan bahwa ada dua bentuk kebutuhan terhadap harga diri ini : bentuk yang lemah dan yang kuat. Bentuk yang lemah adalah kebutuhan kita untuk dihargai orang lain, kebutuhan terhadap status, kemuliaan, kehormatan, perhatian, reputasi, apresiasi bahkan dominasi. Sementara yang kuat adalah kebutuhan kita untuk percaya diri, kompetensi, kesuksesan, independensi dan kebebasan. Bentuk kedua ini lebih kuat karena sekali didapat kita tidak melepaskannya, berbeda dengan kebutuhan kita akan penghargaan orang lain.&lt;br /&gt;Bentuk negative dari kebutuhan akan harga diri ini adalah rendah diri dan kompleks inferioritas. Maslow mwmbenarkan Adler ketika mengatakan bahwa masala inlah yang menjadi dasar masalah-masalah psikologis. Di Negara-negara modern, sebagian besar orang hanya mementingkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Sering orang tidak terlalu memedulikan kebutuhan mereka akan cinta dan kerinduan.&lt;br /&gt;kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengenal realita. Jadi manusia memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui, memahami buka saja tentang dirinya, tetapi juga diluar dirinya.&lt;br /&gt;aktualisasi diri.Tingkat terakhir ini agak sedikit berbeda dengan empat tingkat sebelumnya. Maslow menyebut tingkat ini dengan istilah berbeda-beda: motivasi pertumbuhan (sebagai lawan dari motivasi devisit), kebutuhan-kebutuhan untuk ada (being-needs) atau B-Needs (sebagai lawan dari D-Needs). B-Needs adalah kebutuhan untuk aktualisasi-Diri.      Kebutuhan-kebutuhan aktualisasi diri ini tidak memerlukan penyeimbangan atau homeostatis. Sekali diperoleh, dia akan terus dirasakan. Kebutuhan ini memang akan meningkat kalau kita “menyebarkannya”. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat untuk terus-menerus mewujudkan potensi-potensi diri, keinginan untuk “menjadi apa yang anda bisa”. Kebutuhan ini lebih merupakan persoalan menjadi yang sempurna, menjadi “Anda” yang sebenarnya. Oleh karena itulah kebutuhan ini disebut aktualisasi-diri.&lt;br /&gt;Meta Kebutuhan dan Mega Patologi&lt;br /&gt;Cara lain yang ditempuh Maslow untuk mengetahui apakah sesungguhnya aktualisasi-diri adalah dengan menyelidiki apa yang menjadi kebutuhan paling dasar (B-needs) orang-orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Kebutuhan-kebutuhan yang ingin mereka penuhi demi kebahagiaan adalah:&lt;br /&gt;Kebenaran, bukan kepalsuan.&lt;br /&gt;Kebaikan, bukan kejahatan .&lt;br /&gt;Keindahan, bukan sesuatu yang jelek atau vulgar.&lt;br /&gt; Kesatuan, kemenyeluruhan dan penghilangan oposisi biner, bukan pilihan-pilihan  sekehendak hati.&lt;br /&gt;Kehidupan yang hidup, bukan kematian atau kehidupan bagai mesin.&lt;br /&gt;Keunikan, bukan keseragaman.&lt;br /&gt;Kesempurnaan  dan kepastian, bukan hal yang asal-asalan, ketidakkonsistenan atau kebetulan.&lt;br /&gt;Penyelesaian, bukan keterbengkalaian.&lt;br /&gt;Keadilan dan keteraturan, bukan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.&lt;br /&gt;Kesederhanaan, kerumitan-kerumitan yang tidak perlu.&lt;br /&gt;Kebercukupan sumber daya, bukan lingkungan yang miskin.&lt;br /&gt;Kewajaran, bukan sesuatu ynag didasarkan pada paksaan.&lt;br /&gt;Keriangan dan Kegembiraan, bukan sesuatu yang kasar dan mekanistik, kering tanpa humor.&lt;br /&gt;Kemandirian, bukan ketergantungan.&lt;br /&gt;Kebermaknaan, bukan kehampaan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114836957254452259?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114836957254452259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114836957254452259' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114836957254452259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114836957254452259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/teori-kepribadian-abraham-maslow.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114829170298164907</id><published>2006-05-22T02:50:00.000-07:00</published><updated>2006-05-22T02:55:03.080-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Beban Bunga Utang Indonesia Cuma 1,3 persen.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Selasa, 03 Mei 2005  20:25 WIB&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan (Depkeu) Mulia Nasution menyatakan pemerintah telah menerima draft nota kesepahaman (MoU) dari sekretariat Paris Club. Pemerintah juga menyatakan menerima beban bunga utang yang dikenakan Jepang sebesar 1,3 persen. "Kami sudah menerima draft dari sekretariat Paris Club dan kami diminta untuk memberi tanggapan. Pada prinsipnya kami menyetujui,"kata Mulia di Depkeu Jakarta, Selasa (3/5). Disetujuinya beban bunga itu, karena Jepang telah menurunkan beban bunga dari sebelumnya. Sebelum direstrukturisasi beban bunga yang ditawarkan adalah 2,4 persen hingga menjadi 1,3 persen. Adapun dana dari US$ 2,6 miliar utang yang masuk skema moratorium, utang Indonesia kepada Jepang sebesar US$ 1,6 miliar. Pemerintah juga terikat dengan ketentuan yang ada dalam MoU tersebut. Dalam nota kesepahaman itu ditegaskan beban bunga ditentukan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing negara. "Satu negara satu tingkat bunga dan tingkat bunga nggak mungkin sama, bisa berbeda-beda,"ujarnya.Meskipun pemerintah telah menyetujui beban bunga yang ditetapkan Jepang, pemerintah tetap mengupayakan agar Indonesia tetap mendapatkan bunga nol persen (zero interest) terhadap negara anggota Paris ClubBahkan dari beberapa negara anggota Paris Club, meskipun belum secara resmi menyampaikan saat ini sudah terdapat beberapa negara yang membuka kesempatan untuk memberikan bunga zero interest. Kami belum menerima secara resmi dari Perancis dan Inggris. Tapi kemungkinannya mereka akan memberikan zero interest,"kata Mulia.Selain mengenai beban bunga yang ditetapkan, dalam MoU tersebut, Mulia juga dijelaskan mengenai mekanisme pembayaran utang. Dalam nota kesepahaman itu dikatakan pembayaran akan dilakukan selama tujuh kali terhitung mulai Desember 2006 hingga 2009. "Semua dibayar dua kali setahun kecuali 2006 hanya satu kali pada 1 Desember 2006. utnuk tahun berikutnya akan dibayar pada Juli dan Desember,"ujarnya.&lt;br /&gt;Suryani Ika Sari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114829170298164907?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114829170298164907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114829170298164907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829170298164907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829170298164907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/beban-bunga-utang-indonesia-cuma-13.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114829140283019767</id><published>2006-05-22T02:44:00.000-07:00</published><updated>2006-05-22T02:50:02.940-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sekali Lagi Utang dan Imperialisme&lt;/strong&gt; Wednesday, Jan 25 2006, 2:34am&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh : Revrisond Baswir &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kritik terhadap utang luar negeri belakangan ini cenderung semakin meningkat. Kritik tak hanya muncul sehubungan dengan efektivitas serta implikasi sosial dan politiknya, namun meluas hingga mencakup sisi kelembagaan dan ideologinya.&lt;br /&gt;Pada sisi efektivitasnya, secara internal, utang luar negeri tidak hanya dipandang telah menjadi penghambat tumbuhnya kemandirian ekonomi negara-negara Dunia Ketiga. Ia juga diyakini menjadi pemicu terjadinya kontraksi belanja sosial, merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan ekonomi (Pearson, 1969; Kindleberger dan Herrick, 1977; Todaro, 1987).Sedangkan secara eksternal, utang luar negeri diyakini menjadi pemicu meningkatnya ketergantungan negara-negara Dunia Ketiga pada pasar luar negeri, arus masuk modal asing, dan terjadinya ketergantungan pada utang luar negeri secara berkesinambungan (Payer, 1974; Gelinas, 1998).Pada sisi implikasi sosial dan politik, utang luar negeri tidak hanya dipandang sebagai sarana yang sengaja dikembangkan oleh negara-negara pemberi pinjaman, untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman. Secara tidak langsung ia juga diyakini turut bertanggungjawab terhadap munculnya rezim diktator, kerusakan lingkungan, meningkatnya tekanan migrasi dan perdagangan obat-obat terlarang, serta terhadap terjadinya konflik dan peperangan (Gilpin, 1987; Goerge, 1992; Hanlon, 2000).Pada sisi kelembagaan, lembaga-lembaga keuangan multilateral yang berperan sebagai penyalur utang luar negeri, seperti Bank Dunia dan IMF, tidak hanya dipandang telah bersikap tidak transparan dan tidak akuntabel, keduanya diyakini telah bekerja sebagai kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama yang menjadi pemegang saham utama mereka (Rich, 1999; Stiglitz, 2002; Pincus dan Winters, 2004).Sedangkan pada sisi ideologi, utang luar negeri diyakini telah dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman, terutama Amerika Serikat (AS), sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia. Dengan dipakainya utang luar negeri sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal, berarti utang luar negeri telah dengan sengaja dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari seluruh penjuru dunia (Erler, 1989).Menyimak berbagai kritik tersebut, mudah dimengerti bila berkembang pemikiran yang mencoba melusuri jejak utang luar negeri sebagai sarana imperialisme negara-negara Dunia Pertama. Studi pertama yang secara khusus melakukan hal itu adalah yang dilakukan oleh Teresa Hayter. Berangkat dari hasil penelitiannya yang dibiayai oleh Bank Dunia di empat negara Amerika Latin, Columbia, Chile, Brasil, dan Peru, tahun 1971, Hayter kemudian menerbitkan sebuah buku dengan judul Aid as Imperialism. Dalam buku setebal 222 halaman tersebut, Hayter secara tegas menyimpulkan bahwa, ''Uang luar negeri bukanlah transfer sumberdaya yang bebas persyaratan.'' Menurut Hayter, hal-hal yang dipersyaratkan dalam pemberian utang luar negeri biasanya adalah: (a) pembelian barang dan jasa dari negara pemberi pinjaman; (b) peniadaan kebebasan dalam melakukan kebijakan ekonomi tertentu, misalnya, nasionalisasi perusahaan asing (khususnya yang dilakukan tanpa kompensasi); (c) permintaan untuk melakukan kebijakan-kebijakan ekonomi ''yang dikehendaki'' -- terutama peningkatan peran sektor swasta dan pembatasan campur tangan langsung pemerintah dalam bidang ekonomi.Berdasarkan ketiga persyaratan tersebut, menurut Hayter, ''Aid is, in general, available to those countries whose internal political arrangements, foreign policy alignments, treatment of foreign private investment, debt-servicing record, export policies, and so on, are considered desirable, potentiallly desirable, or at least acceptable, by countries or institution providing aid, and which do not appear to threaten their interest.''Selanjutnya, ketika berbicara mengenai IMF, Bank Dunia, dan USAID, Hayter secara jelas menyatakan bahwa sudut pandang ketiga lembaga tersebut dalam menetapkan kriteria dan syarat pemberian pinjaman cenderung seragam. Fokus kebijakan ketiganya, terutama IMF dan Bank Dunia, senantiasa mengarah pada pengendalian inflasi serta perintah untuk memotong investasi publik dan belanja kesejahteraan.Menurut Hayter, faktor utama di balik kecenderungan tersebut adalah posisi dominan AS pada ketiga lembaga itu. Implikasinya, walaupun tidak dinyatakan secara terbuka, dalam memberikan pinjaman, ketiga lembaga tersebut tidak hanya mengevaluasi proyek yang akan mereka biayai, tetapi juga negara yang akan menerima pinjaman tersebut.Kesimpulan Hayter yang mengkonfirmasikan keberadaan utang luar negeri sebagai sarana imperialisme itu belakangan dipertegas oleh Hudson. Menurut Hudson (2003), tujuan pemberian pinjaman oleh AS sejak 1960 bukanlah untuk membantu negara-negara penerima pinjaman, melainkan untuk meringankan tekanan terhadap neraca pembayaran negara tersebut. Kebijakan itu erat kaitannya dengan upaya pemerintah AS untuk mensubsidi peningkatan ekspor berbagai produknya ke seluruh penjuru dunia.Dalam rangka itu, sebagaimana diakui Perkins (2004), AS tidak hanya bekerja melalui mekanisme hubungan politik dan ekonomi biasa. AS secara terstruktur mengembangkan sebuah profesi yang dikenal sebagai preman ekonomi (economic hit man), yang bernaung di bawah Badan Keamanan Nasional (NSA), yaitu yang secara khusus bertugas membangkrutkan negara-negara Dunia Ketiga dengan sarana utang luar negeri.Sebagai sebuah negara yang terpuruk di bawah himpitan utang luar negeri sebesar 80 miliar dolar AS, dengan angsuran pokok dan bunga utang dalam dan luar negeri mencapai sepertiga APBN, Indonesia patut dicatat sebagai sebuah negara Dunia Ketiga yang menjadi korban para preman ekonomi seperti Perkins. Hal itu tidak hanya dikonfirmasikan oleh Perkins, tetapi diperkuat oleh berbagai fakta lain seperti keterlibatan lembaga-lembaga pemberi pinjaman dalam menyusun berbagai produk perundang-undangan di Indonesia.Masalahnya, elit ekonomi dan politik Indonesia tampaknya telanjur dipenuhi oleh para kaki tangan kaum imperialis, sehingga penderitaan rakyat di bawah himpitan beban utang sama sekali tidak menjadi halangan bagi mereka untuk terus membuat utang luar negeri baru. Jangan-jangan selama 60 tahun ini penjajahan hanya sekedar berganti gaya, tetapi secara substansial masih terus berlanjut di Indonesia? Republika.&lt;br /&gt; Senin, 23 Januari 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114829140283019767?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114829140283019767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114829140283019767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829140283019767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829140283019767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/sekali-lagi-utang-dan-imperialisme.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114829043416287282</id><published>2006-05-22T02:32:00.000-07:00</published><updated>2006-05-22T02:33:55.650-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Politik Utang Indonesia: Poltik Tambal Sulam&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;Indonesia ngutang lagi....! Ya, Indonesia kembali meminta pinjaman hutang dari forum Consultative Groups for Indonesia (CGI) yang terdiri dari 21 negara anggota, termasuk di dalamnya IMF, Bank Dunia, ADB (Asian Depelopment Bank). Dan tidak tanggung-tanggung, untuk tahun fiskal 2004 besok Indonesia mendapatkan pinjaman sebesar US $ 3,4 M (Rp 28,9 Triliyun). Pinjaman ini diajukan kembali, menurut Menteri Keuangan Budiono, untuk menutupi difisit APBN 2004 sebesar Rp 28 Triliyun.&lt;br /&gt;Setelah bersidang 10-11 Desember kemarin di Jakarta dalam pertemuannya ke 13, CGI akhirnya memutuskan memberikan komitmen pinjaman kepada Insonesia sebesar US $ 2,8, terdiri dari jumlah utang US ,8 M, hibah US $ 160 juta. Dan, ADB merupakan donatur terbesar US 0 juta. Diikuti Jepang US 0 juta dan Bank Dunia Sebesar US $ 800 juta.&lt;br /&gt;Kepala Badan Analisa Fiskal Anggito Abimanyu menyatakan bahwa pengajuan pinjaman kali ini lebih besar dari tahun sebelumnya US ,28 M. Target pinjaman itu terdiri dari pinjaman proyek sebesar Rp 19,7 triliyun, pinjaman program Rp 8,5 triliyun dan hibah Rp 650 M. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan biaya pembangunan dari Rp 18,9 triliyun menjadi Rp 19,7 triliyun. Selain itu, utang luar negeri yang jatuh tempo tahun depan juga naik. Sedangkan pinjamn program turun dari Rp 10,3 triliyun menjadi Rp 8,5 triliyun dan hibah mengalami kenaikan dari Rp 0,34 triliyun menjadi Rp 0,63 triliyun.&lt;br /&gt;Kwik Kian Gie, Kepala BAPENAS, menegaskan bahwa beban utang luar negri Indonesia saat ini mencapai Rp 24,4T dengan cicilan utang pokok Rp 44,4T. Pembayaran bunga utang telah mencapi 92,6% dari total anggaran nasional. Sedangkan jika diperhitungkan atas bunga dan jumlah utang pokok maka beban yang harus ditanggung anggaran mencapai 185%.&lt;br /&gt;CGI Tidak EfektifDan untuk kali kesekian Kwik mengkritik kebijakan pemerintah yang masih gotot menjalin “hubungan asmara” dengan lembaga donatur seperti CGI. “ Pinjaman CGI tidak efektif”, demikian tandasnya seperti diungkap Rebublika Kamis (11/12 2003) kemarin. “APBN 2004 besok, 92,67% dari seluruh anggaran sebesar Rp 70,9 triliyun itu adalah hanya unutk pembayaran bunga utang” tegasnya dengan perincian :&lt;br /&gt;1. Pembayaran bunga utang dalam negeri Rp 42,4 T, sedangkan bunga utang luar negeri mencapai Rp 24,4 T. Total untuk kedua pos ini saja Rp 65,7 T.&lt;br /&gt;2. Cicilan utang pokok dalam negeri yan gjatuh tempo Rp 21,2 T, sedangkan cicilan utang pokok luar negeri Rp 44,4 T. Total keseluruhan untuk pos ini Rp 65,5 T.&lt;br /&gt;Sehingga, total utang secara keseluruhan sebesar Rp 131,2 T.&lt;br /&gt;Untung Rugi CGI&lt;br /&gt;Selain tidak efektif, bantuan-bantuan konsorsium CGI juga lebih banyak menimbulkan kerugian dari pada keuntungan buat Indonesia. Untuk lebih jelas bisa kita lihat sebagai berikut.&lt;br /&gt;Keuntungan yang diperoleh:&lt;br /&gt;1. Menutup defisit APBN 2. Menggerakkan sejumlah proyek pembangunan 3. Menaikkan peringkat investasi Indonesia&lt;br /&gt;Sementara kerugian yang ditimbulkan 1. Lebih dari 30% dana bantuan itu tidak terserap 2. Negara-negara donatur menjadi pengatur (donor-led), sementara Indonesia tidak bisa berperan 3. Tidak efektif bagi perbaikan ekonomi nasional. Hal ini terkait dengan pembayaran utang CGI tidak melalui dana hasil investasi utang itu sendiri. Tapi menutupnya dengan pengajuan utang baru, alias tambal sulam bin gali lobang tutup lobang.&lt;br /&gt;Laporan Bank Dunia dengan tema Indonesia; Beyond Macroeconomy Stability yang diajukan dalam rapat hari pertama CGI, semakin mempertegas argumentasi Kwik bahwa betapa dana-dana investasi dalam bentuk utang itu sangat tidak efektif. Bank Dunia dalam laporannya mensilnyalir bahwa program Raskin (Beras untuk rakyat miskin) hanya 18% yang sesuai sasaran. Sementara 74% nya malah jatuh ke tangan-tangan kelomok nonmiskin. Lebih jelas lagi, dari anggaran Rp 4,83 T yang dialokasikan ke Perum Bulog tahun 2003, 53% nya digunakan untuk mensubsidi nonmiskin dan 30% sisanya habis hanya untuk biaya operasional plus keuntungan Bulog. Yang lebih menyayat hati adalah dari jatah 20 Kg perkeluarga perbulannya, hanya terealisasi 6-10,4 Kg saja.&lt;br /&gt;CGI Sama Dengan IMF&lt;br /&gt;Di saat CGI sedang melaksanakan agenda rapat tahunannya di Jakarta, pada saat yang sama telah ditanda tangani pula Letter of Intent (LoI) terakhir antara IMF dan pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Keuangan Budiono dan Menkoekuin Dorojatun Kuncjorojakti juga di Jakarta. Dalam LoI itu IMF akan mengucurkan dana sebesar US 0 juta dengan suku bunga 2,6%. Selanjutnya total utang yang masih harus dilunasi sebelum 2009 adalah sebesar US M dari US M total keseluruhan utang yang diberikan IMF sejak awal negeri ini diterpa badai krisis tahun 1997 lalu.Jumlah Pinjaman Pemerintah kepada IMF pascakrisis&lt;br /&gt;Tahun 1997: 2,92 M US $.Tahun 1998: 5,64 M US $. Tahun 1999: 1,34 M US $.Tahun 2000-2003: 4,82 M US $.&lt;br /&gt;Namun demikian tahun 2007 nanti Indonesia dijadwalkan telah mencapai status 100%, karenanya Post-Program Monitoring (PPM) juga berakhir dan selanjutnya IMF berkunjung ke Indonesia secara reguler hingga 2009, tegas Dorojatun. Budiono menambahkan bahwa program Penyehatan perbankan, privatisasi BUMN, disiplik fiskal dan stabilitas moneter yang menjadi otoritas Bank Indonesia, merupakan 4 hal yang menjadi perhatian (baca; tuntutan) IMF dalam LoI terakhir tersebut.&lt;br /&gt;Selain itu, program (baca ; instruksi) IMF yang masih tersisa hingga akhir Desember ini adalah :&lt;br /&gt;1. Mayoritas saham pemerintah di BII dan Bank Permata,2. Mengumumkan rencana strategis untuk Bank Mandiri,3. Menyelesaikan perluasan penarikan atas wajib pajak besar hingga mencapai 35% dari total penerimaan pajak,4. Komisi anti-korupsi beroperasi penuh, dan 5. Privatisasi harus mencapi target Rp 8 T&lt;br /&gt;Bukanlah menjadi rahasia umum lagi jika CGI (Consultative Group for Indonesia) merupakan lembaga donor multilateral yang merupakan kepanjangan tangan dari 3 tangan setan ekspansi global kapitalisme; IMF-Bank Dunia-WTO dan dipimpin oleh Bank Dunia. Anggotanya antara lain Bank Dunia, Australia, Belgia, Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Indonesia (sebagai penerima), Italia, Jepang, Korea, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Swiss, Swedia, Inggris dan lembaga-lembaga berikut; Asian Development Bank, European Investment, European Commission, International Finance Corporation, International Fund for Agricultural Development, IMF, Islamic Development Bank (IDB), Kuwait Fund for Arab Economic Development, Nordic Investment Bank, Organization for Economic coorporotion &amp;amp; Development, Saudi Fund for Development, United Nation Childern’s Fund dan UNDP (United Nation Development Programme).&lt;br /&gt;Tidak ada bedanya antara CGI, IMF, Bank Dunia dan WTO. Mereka ibarat one for all and all for one. Pertemuan Indonesia dengan CGI memang tahunan dan rutin, tidak seperti IMF yang datang hanya saat krisis. Tapi karena IMF dan Bank dunia ada di dalam CGI, maka sebenarnya setiap tahun pun kita dikontrol oleh lembaga-lembaga itu.&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita ketika IMF “ngambek” pada rezim Habibie karena tidak diberikan Long Form Bank Bali, maka CGI pun turut menunda pemberian utang. Atau ketika BPPN dan Bapenas pada awal tahun ini berani berteriak-nyaring untuk anti-IMF sehubungan dengan masalah tekanan IMF dalam proses percepatan divestasi bank maka CGI pun mengancam untuk mundur dari konsorsium donor buat Indonesia. Dengan kata lain, yang penulis tegaskan pada kesempatan ini adalah menolak CGI bukan merupakan isu terpisah dengan menolak lembaga keuangan internasional lainnya yang jelas-jelas merupakan antek-antek kapitalisme.&lt;br /&gt;Catatan Penutup&lt;br /&gt;Persoalan utang Indonesia yang telah menghancurkan-leburkan dan mengorbankan negeri ini dari segi kedaulatan nasional, hukum dan berjuta rakyat sipil yang semakin miskin bukanlah semata kedunguan dan kesalahan pemerintah dan negara, baik dilihat dari mentalnya yang masih kental dengan unsur KKN, tidk transparan, bad governance dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Karenanya, harus dicermati setiap pernyataan dari IMF, CGI dan Bank Dunia serta para ekonom liberal yang selalu menyalahkan pemerintah ansich, sebab memang mereka hendak menutupi kepentingan mereka yang sebenarnya. Dus, jangan pernah berharap ada upaya penghapusan kemiskinan selama globalisasi neoliberal masih trus dibiarkan berlangsung. Baik karena mekanismenya ataupun kacaunya pengelolaan utan gpemerintah Indonesia dan kita jua tidak sedang menjual bangsa ini dan menjadikan rakyat sebagai budak di negeri sendiri. Jawaban tegasnya “Hapuskan Utang Lama, Tolak Utang Baru....!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114829043416287282?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114829043416287282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114829043416287282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829043416287282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829043416287282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/politik-utang-indonesia-poltik-tambal.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114829022431590696</id><published>2006-05-22T02:29:00.000-07:00</published><updated>2006-05-22T02:30:24.396-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Direktur BI: Hindari Penjadwalan Utang&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Sinar Harapan Direktur Luar Negeri Bank Indonesia (BI), Kusumaningtuti, mengatakan pemerintah perlu menghindari penjadwalan utang luar negeri karena opsi tersebut tidak menyelesaikan beban utang tetapi hanya menggeser yang justru dapat menimbulkan persoalan ke depan. Pemerintah juga diminta menghindari tawaran pembiayaan berbentuk pinjaman konvensional karena penggunaan dananya kurang fleksibel dan terkait proyek tertentu saja. ”Kalau memang ada indikasi, kita akan mendapat 2 tahun reschedulling (penjadwalan utang), sebenarnya reschedulling normal itu hanya menggeser beban utang. Jadi BI merasa was-was (khawatir) kalau opsi itu diterima pemerintah,” ujarnya dalam seminar ”Strategi Pendanaan Luar Negeri” di Bappenas, Jakarta, Kamis (13/1). Sebenarnya, kata Kusumaningtuti, opsi yang reasonable (masuk akal) saat ini adalah moratorium utang dalam bentuk pembatalan atau pengurangan utang. Jika tawaran moratorium berbentuk penjadwalan ulang, tidak akan mengurangi beban utang Indonesia.Menurut Kusumaningtuti, ada beberapa opsi yang bisa ditempuh pemerintah, di antaranya melalui opsi tanpa Paris Club yakni cancellation (pembatalan) atau reduction (pengurangan) utang atas kewajiban membayar untuk proyek-proyek, baik yang dibiayai kreditor bilateral maupun lembaga multilateral. Saat ini total proyek di Aceh dan di Sumatra Utara mencapai US$ 5,05 miliar. Dari jumlah tersebut jumlah proyek yang dibiayai utang luar negeri di Aceh yang bisa diajukan untuk di-cancel sebesar US$ 218,5 juta, di mana 85,2 persen di antaranya dibiayai JBIC (Japan Bank for International Cooperation). Opsi lain yang bisa diajukan pemerintah adalah melalui opsi pertukaran utang (debt swap), di mana potensial utang luar negeri Indonesia yang terbuka untuk program ini bisa mencapai US$ 818 juta.”Opsi lain yang bisa ditempuh adalah negosiasi bilateral dengan Jepang karena Jepang merupakan kreditor terbesar dari Indonesia. Dari total outstanding utang Indonesia sebesar US$ 79,9 miliar, 35,5 persen di antaranya atau sebesar US$ 28,4 miliar berasal dari Jepang,” kata Kusumaningtuti. Karena merupakan kreditor yang sangat strategis, tidak ada salahnya pemerintah meminta hibah (grant) kepada Pemerintah Jepang dalam rangka mendukung rekonstruksi Aceh. Pemerintah juga bisa mengupayakan pinjaman jangka panjang tanpa bunga kepada Pemerintah Jepang. ”Pemerintah harus menyambut tawaran grant dari kreditor dan mengadakan lobi untuk mendapatkan grant dalam jumlah maksimal. Pemerintah Jepang memang sensitif dengan isu-isu pengurangan utang. Sehingga tidak ada salahnya kalau pemerintah meminta grant kepada Jepang,” jelasnya. Ditambahkan, pemerintah sebenarnya juga bisa mengajukan moratorium utang melalui Paris Club dan dengan negosiasi yang bagus bisa saja pemerintah mendapatkan skema naples term, di mana pemerintah bisa memperoleh maksimum debt reduction (pengurangan utang) sampai 67 persen dari stok total utang luar negri non ODA yang telah dijadwal ulang dalam rangka Paris Club. Dengan skema ini pula Indonesia bisa memperoleh tingkat bunga yang lebih ringan. ”Dari opsi ini potensial moratorium utang luar negri Indonesia maksimal US$ 4,7 miliar,”kata Kusumaningtuti. Dijelaskan, posisi pinjaman pemerintah terhadap kreditor Paris Club per 30 November 2004 mencapai US$ 47,8 miliar, dari total outstanding utang luar negri Indonesia sebesar US$ 79,9 miliar.Dari US$ 47,8 miliar ke Paris Club tersebut, sebesar US$ 15,2 miliar diantaranya sudah dilakukan penjadwalan utang (rescheduling), yang terdiri dari pinjaman ODA sebesar US$ 5,4 miliar dan non-ODA sebesar US$ 7 miliar. Rekening KhususKusumaningtuti juga menambahkan, untuk mengelola bantuan kemanusiaan maupun bantuan rekonstruksi di Aceh dan Sumatra Utara perlu ada rekening khusus. Rekening khusus ini dimaksudkan agar pemerintah bisa melakukan monitoring terhadap pengunaan dana-dana tersebut. Dari sisi kreditor, mereka juga bisa melihat penggunaan dana tersebut apakah sesuai dengan kesepakatan atau tidak. Sementara di tempat yang sama Inspektorat Utama Bappenas Syahrial Loetan mengatakan, pemerintah perlu membentuk lembaga pengelola utang untuk mensinergikan pengelolaan utang yang selama ini terpisah di Bank Indonesia (BI), Bappenas dan Departemen Keuangan. Dalam jangka pendek, lembaga pengelola utang tersebut bisa berupa pembentukan komite pengelolaan utang luar negri pemerintah. ”Pemerintah juga perlu membentuk peraturan perundangan sebagai landasan pengelolaan utang luar negri pemerintah, dalam hal ini undang-undang pinjaman dan hibah luar negri,”ujarnya. (yat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © Sinar Harapan 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114829022431590696?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114829022431590696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114829022431590696' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829022431590696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829022431590696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/direktur-bi-hindari-penjadwalan-utang.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114829004735423662</id><published>2006-05-22T02:25:00.000-07:00</published><updated>2006-05-22T02:27:27.593-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;I.1. Latar Belakang Penulisan&lt;br /&gt;I.2. Permasalahan&lt;br /&gt;Dradjad WibowoEkonom Senior INDEFDewasa ini utang luar negeri (LN) pemerintah (public foreign debt) sudah menjadi salah satu sumber ancaman bagi stabilitas ekonomi makro kita, baik melalui tekanan defisit fiskal, ketimpangan distribusi sosial dalam APBN maupun tekanan atas cadangan devisa. Sayangnya, manajemen utang Indonesia tetap tidak berubah. Keberhasilan meyakinkan kreditor untuk mengucurkan ataupun menjadwal-ulangkan utang seolah-olah menjadi tolok ukur “keberhasilan” tim ekonomi. Tidak ada upaya total untuk mengurangi tingkat utang (debt stock). Padahal, tingkat utang yang terlalu besar adalah pertanda negeri ini mempunyai beban yang berat di masa mendatang.Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah, apakah upaya yang harus ditempuh agar manajemen utang luar negeri (LN) pemerintah bisa lebih optimal? Optimal di sini dilihat dari tiga tolok ukur utama. Pertama adalah dari sisi tingkat utang. Tolok ukurnya, apakah tingkat utang sudah dikurangi sedemikian rupa, sehingga utang LN Indonesia menjadi lebih terkendali (sustainable)? Kedua, dari sisi distribusi manfaat dan biaya ekonomi APBN. Maksudnya, apakah tingkat utang dan term pembayarannya sudah diupayakan sedemikian rupa sehingga beban pembayaran utang (debt service) tidak menimbulkan ketimpangan distribusi sosial dalam APBN? Ketiga, dari sisi efektifitas pemanfaatan utang. Artinya, apakah utang luar negeri memang benar-benar dimanfaatkan untuk pembangunan sektor-sektor yang mempunyai multiplier output, pendapatan dan kesempatan kerja yang terbesar? Dan, apakah kebocoran utang sudah ditekan semaksimal mungkin?I BEBAN UTANG LUAR NEGERI PEMERINTAHUntuk mengkaji ketiga butir di atas secara obyektif, mari kita lihat fakta-fakta berikut. Pertama, pembayaran utang luar negeri pemerintah ternyata memakan porsi yang besar dari APBN. Pada tahun 2000, sekitar 15,4% penerimaan dalam negeri pemerintah dipakai untuk membayar pokok dan bunga utang luar negeri, setelah dikurangi dengan nilai utang yang dijadwal ulang. Pada periode 2001-2003, rasio ini tidak mengalami penurunan yang signifikan, berkisar 13-15%. Sementara itu, sebagai porsi dari total penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN), foreign debt service tetap berada pada level 20-26%., atau sekitar 1/5 hingga ¼ dari PPh dan PPN.Perlu dicatat, sejak 2003 semakin banyak utang-utang yang dijadwal ulang melalui Paris Club 1 (September 1998) dan Paris Club 2 (April 2000) yang habis masa jeda bayar utangnya (grace period). Pada tahun 2005, utang yang dijadwal ulang melalui Paris Club 3 juga mulai habis masa grace period nya. Konsekwensinya, beban pembayaran pokok utang pada tahun-tahun mendatang akan meningkat. Dengan demikian, tanpa perubahan manajemen utang LN secara radikal, sulit mengharapkan rasio di atas akan membaik secara signifikan.TABEL 1 BEBAN PEMBAYARAN UTANG (DEBT SERVICE)SEBAGAI RASIO TERHADAP PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2001-20032001 2002 2003A. Bunga utang LN 28.9 29.0 25.8B. Pembayaran Netto 10.2 16.7 16.7C. Total A+B 39.1 45.7 42.5D. Penerimaan DN 300.5 301.9 327.8E. PPh + PPN 176.0 174.6 206.8Rasio C/D 13.0% 15.1% 13.0%Rasio C/E 22.2% 26.2% 20.5%Catatan: pembayaran netto adalah selisih antara utang jatuh tempoDengan nilai yang dijadwal ulang.Kedua, karena besarnya utang dalam negeri, di masa mendatang kemampuan pemerintah membayar utang-utangnya cenderung menurun, atau pemerintah semakin tergantung kepada penjadwalan ulang melalui Paris Club. Tahun 2003, misalnya, pemerintah merencanakan alokasi Rp 116,3 triliun untuk membayar pokok dan bunga utang luar negeri, ditambah dengan bunga utang dalam negeri (termasuk obligasi rekap), pembayaran pokok dan pembelian kembali (buy back). Ini setara dengan 56,2% dari penerimaan PPh dan PPN. Dengan kata lain, lebih dari separuh PPh dan PPn yang susah payah dibebankan kepada masyarakat harus dihabiskan hanya untuk membayar utang pemerintah. Padahal, hasil London Club, Paris Club 1-3, dan reprofiling obligasi rekap sudah dimasukkan.Karena pemerintah mengandalkan penjadwalan ulang terus menerus, gambaran di atas tampaknya akan terus dirasakan Indonesia hingga beberapa tahun mendatang. Bahkan dengan reprofiling, kondisi di atas akan terjadi hingga tahun 2018. Ini berarti, ketimpangan distribusi sosial dalam APBN akan terus dialami Indonesia hingga 15 tahun ke depan. Kesalahan manajemen utang pada masa sekarang membuat dua generasi bangsa Indonesia harus menanggungnya.Mungkin kita dapat mengandalkan pertumbuhan PDB untuk mengurangi beban rasio debt service di atas. Namun, yang sering dilupakan adalah, dengan beban rasio debt service yang tinggi, APBN tidak lagi optimal sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi. Bahkan, tingkat penyedotan dana (withdrawals) yang besar dari masyarakat, baik melalui kenaikan pajak maupun pengurangan subsidi, justru ikut menekan potensi eprtumbuhan ekonomi. Akibatnya, kuat dugaan bahwa beban debt service justru telah memperbesar kesenjangan PDB (GDP gap) antara PDB potensial dan aktual.Ketiga, tingkat utang luar negeri jangka panjang Indonesia ternyata sudah melampaui batas aman. Angka psikologis aman adalah 30-40% PDB. Sebelum krisis, tahun 1996 kondisi kita sudah buruk (57%), lalu naik menjadi 113%, dan turun menjadi sekitar 71% pada tahun 2002.Sebagai perbandingan, utang jangka panjang negara-negara Amerika Latin pada saat puncak krisis "hanya"lah 43% PDB (1983-85). Padahal mereka tertolong oleh FDI yang positip 5,5%- 11,3% PDB. Sementara Indonesia justru mengalami defisit FDI, yang mungkin mencapai sekitar 1.5-2% PDB.Keempat, Indonesia perlu waktu puluhan tahun untuk melunasi utang luar negeri pemerintahnya. Saat ini tingkat utang sekitar US$&amp;shy;&amp;shy; 67 milyar, atau kurang lebih Rp 600 trilyun. Kemampuan pemerintah membayar cicilan utang LN antara Rp 15-20 triliun per tahun. Artinya, diperlukan 30-40 tahun lagi agar seluruh utang tersebut lunas. Ini pun dengan asumsi yang "muskil", yaitu pemerintah tidak wajib membayar bunga dan tidak menambah utang baru.Kelima, utang luar negeri pemerintah memakan porsi yang besar dari cadangan devisa. Setiap tahun, tanpa penjadwalan ulang, utang LN pemerintah yang jatuh tempo mencapai sekitar US$&amp;shy;&amp;shy; 4-5 milyar. Ditambah dengan beban utang swasta, total kewajiban LN jangka pendek Indonesia diperkirakan US$&amp;shy;&amp;shy; 7-9 milyar per tahun. Ini setara dengan 1/3-1/4 cadangan devisa Indonesia. Akibatnya, terdapat potensi tekanan permintaan valas yang cukup kuat. Ini membuat rentan stabilitas makro Indonesia.Keenam, selama 1995-97 (sebelum krisis), sebenarnya utang LN sudah menjadi net capital drain out. Artinya, nilai utang yang diterima sudah di bawah pembayaran pokok dan bunganya. Ini tercermin dari negatifnya lalu lintas modal publik sebesar USD 200-800 juta/ tahun.Jadi, tingkat utang LN pemerintah Indonesia memang sudah pada tingkat yang sulit dikelola. Lalu apakah strategi penjadwalan ulang cukup memadai untuk mengatasinya? Jelas tidak. Penjadwalan ulang hanya memindahkan persoalan ke waktu yang lebih lama. Tapi bebannya tetap saja sama. Sebagai misal, Jepang setuju menjadwal ulang utang senilai US$&amp;shy;&amp;shy; 2.8 milyar, hingga setidaknya tahun 2016. Padahal, selama 2016-2018 terdapat beban utang dalam negeri sekitar Rp 140 triliun/tahun. Jelas ini membuat beban hutang APBN tahun tersebut akan membengkak. Oleh sebab itu, selain penjadwalan ulang, diperlukan strategi lain yang lebih radikal agar manajemen utang LN pemerintah bisa lebih optimal. II MANAJEMEN UTANG KLASIKSecara teoretis, ekonomi makro klasik mengenal konsep yang disebut Ricardian Equivalence (RE). Premis dasarnya, utang pemerintah bersifat netral, tidak mempunyai efek terhadap suku bunga, investasi, perdagangan, inflasi dan Produk Domestik Bruto (PDB). Konsekwensinya, tidak terdapat efek redistribusi pendapatan. Ini memunculkan pameo "there is no burden of the national debt".Dalam konteks utang LN, teori ini berpandangan, kalau pembangunan tidak dibiayai dengan utang LN, maka sumber dana diambil dari dalam negeri. Artinya, masyarakat harus membayar pajak yang lebih tinggi, sehingga pendapatan disposabel merosot. Akibatnya, konsumsi domestik berkurang. Karena konsumsi menyumbang 50-70% pertumbuhan, maka pertumbuhan pun terhambat. Secara teori argumen di atas dibantah oleh analisis "there is a burden of the national debt". Maksudnya, utang pemerintah mencerminkan pengeluaran yang dibiayai defisit anggaran, sehingga konsumsi domestik naik berlebihan. Ketika konsumsi domestik melebihi tingkat lestari, suku bunga dan inflasi jangka panjang naik. Selain itu, investasi lebih rendah, defisit perdagangan meningkat dan potensi PDB lebih rendah.Karena good governance tidak berjalan, sementara para kreditor, terutama Bank Dunia, gagal menerapkan prinsip prudensial, tingkat kebocoran pun tinggi. Akibatnya, untuk negara miskin seperti Indonesia, RE cenderung tidak cocok.Manajemen Utang LN a la IMF dan Bank Dunia. Kepercayaan terhadap RE melahirkan manajemen utang klasik a la IMF dan Bank Dunia. Secara ringkas, manajemen klasik ini mengandung beberapa butir kunci, yaitu:a. Percepatan pertumbuhan ekonomi, baik melalui penambahan utang baru, penjagaan stabilitas makro (tanpa memperhatikan efek sosialnya), dan perbaikan iklim investasi. Dengan pertumbuhan ekonomi, debt ratio (rasio utang terhadap PDB) diharapkan turun, dan utang menjadi lebih sustainable. b. Peningkatan surplus primer. Ini ditempuh melalui peningkatan penerimaan pajak, pengurangan subsidi besar-besaran, dan perbaikan efisiensi dalam pengeluaran pembangunan. Dengan kata lain, terdapat net withdrawal dari masyarakat.c. Maksimisasi pembiayaan di luar utang (non-debt financing). Ini meliputi sumber pembiayaan dari privatisasi dan penjualan aset-aset lainnya, termasuk aset BPPN dalam kasus Indonesia.d. Pengelolaan profil pembayaran utang, melalui terutama penjadawalan ulang dan reprofiling. e. Pengelolaan resiko fiskal, terutama yang bersumber dari sisi pengeluaran seperti kewajiban non-bujeter dan Dana Alokasi Umum dan Khusus dalam rangka desentralisasi. Dalam manajemen klasik, tolok ukur yang dipakai pun klasik, yaitu debt ratio. Intinya, jika debt ratio terlalu tinggi, maka utang lama dijadwal ulang. Tapi untuk menutup defisit fiskal, dibuat utang baru lewat forum CGI. Prakondisinya, stabilitas makro harus dijamin.Gaya manajemen di atas diklaim Menteri Keuangan, IMF dan Bank Dunia berhasil menurunkan debt ratio menjadi 71%. Jadi, klaim mereka, utang pemerintah lebih sustainable, sehingga manajemen utang pemerintah sudah benar. Bahasa teorinya, sudah optimal dan memenuhi RE.Klaim di atas sangat tidak sahih karena beberapa alasan. Pertama, bukan manajemen utang yang berperan besar menurunkan debt ratio, tapi apresiasi Rupiah terhadap US dolar. Ini adalah resultante dari stabilitas politik dan depresiasi US dolar terhadap mata uang lain selama 2002.Kedua, “prestasi” di atas dicapai dengan biaya sosial yang tinggi. Ini merupakan konsekwensi intrinsik dari manajemen utang klasik. Sebagai contoh, agar peningkatan surplus primer tercapa, anggaran untuk sektor sosial (pendidikan dan kesehatan), sektor stratejik (pertahanan dan keamanan) dan sektor produksi riil (pertanian, kehutanan dan sebagainya) harus dijadikan korban. Ini terlihat dari jumlah pembayaran pokok dan bunga utang yang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Contoh lain, “prestasi” di atas juga dicapai dengan menjual obral saham BUMN dan aset BPPN, yang sangat merusak future earnings Indonesia dan mengganggu kepentingan stratejik. Ini cerminan dari butir “c”, yaitu memaksimumkan non-debt financing. Selain itu, pengurangan subsidi dilakukan besar-besaran, dengan resiko merusak modal utama berupa stabilitas politik.III OPTIMALISASI MANAJEMEN UTANGManajemen utang klasik sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Yang salah adalah, fokus yang berlebihan terhadap komponen-komponen manajemen utang klasik tersebut, tanpa memperhatikan efek distribusi sosialnya. Ini diperburuk oleh kecenderungan pendukungnya untuk menafikan alternatif lain, yang dianggap seolah-olah “tidak mempunyai landasan teori”. Di sinilah letak kesalahan utamanya. Fanatisme terhadap manajemen utang klasik membutakan pundukungnya terhadap kreatifitas alternatif. Padahal, kreatifitas tersebut bukannya tanpa preseden empirik, karena bentuk dasar dari kreatifitas itu sudah pernah diterapkan di negara lain dan/atau di dalam kasus utang swasta. Fanatisme di atas juga membuat pendukungnya memmpunyai spektrum yang sempit dalam renegosiasi utang dengan para kreditor. Ini karena mereka hanya mengandalkan argumen- argumen teknis ekonomis saja. Padahal dalam praktek, negara-negara yang memperoleh keringanan utang LN yang sangat besar justru mereka yang menggunakan argumen geopolitik dan stratejik. Dengan argumen di atas, agar manajemen utang LN pemerintah lebih optimal, beberapa butir berikut perlu dilakukan.1. Indikator TambahanManajemen klasik biasanya menggunakan rasio dari outstanding utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau debt ratio, sebagai indikator utamanya. Ini berlaku bagi utang jangka pendek, jangka panjang, domestik maupun luar negeri. Untuk peubah “kemampuan membayar utang”, dipakai debt service ratio yang membandingkan kewajiban pembayaran utang, baik pokok dan bunganya, dengan penerimaan ekspor.Pendekatan di atas mengabaikan fakta bahwa pembayaran utang pemerintah mempunyai konsekwensi keadilan sosial, baik antar kelompok masyarakat dalam satu generasi (intra- generational equity) maupun antar generasi sekarang dengan generasi mendatang (inter- generational equity). Setiap Rupiah yang dialokasikan untuk membayar pokok dan bunga utang mempunyai biaya oportunitas sosial (social opportunity costs). Ini karena setiap Rupiah tersebut bisa direalokasikan untuk program padat karya, kesehatan, pendidikan, investasi infrastruktur, pengurangan pajak dan berbagai alternatif pos penerimaan dan pengeluaran fiskal lainnya. Trade off atau efek distribusi dari pembayaran utang ini sama sekali diabaikan.Oleh sebab itu, sejak Desember 2001 penulis mulai menggunakan sebuah indikator tambahan, yaitu rasio antara kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang (debt services) terhadap penerimaan pajak atau penerimaan APBN. Ini merupakan debt service ratio to fiscal revenues (DSRFR). Kalau rasio ini dibandingkan dengan proprosi pos penerimaan dan/atau pengeluaran fiskal lainnya, maka diperoleh gambaran mengenai seberapa terakomodasinya aspek keadilan sosial dalam manajemen utang. Untuk kasus Indonesia, rasio ini juga semakin menunjukkan perlunya reorientasi manajemen utang pemerintah, dengan re-fokus kepada pengurangan debt stock, bukan pengalihan utang ke generasi mendatang dan/atau penambahan utang baru.Ini juga membawa konsekwensi tambahan, yaitu utang baru seyognyanya tidak digunakan untuk sisi konsumsi dalam APBN. Tapi justru lebih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur seperti listrik, jalan dan komunikasi.2 Pengurangan Pokok UtangBeberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:a. Penghapusan utang melalui kombinasi rekayasa keuangan dan renegosiasi komersial dengan kreditor. Salah satu cara yang bisa dipakai adalah melalui berbagai bentuk rekayasa keuangan seperti debt to equity swap. Sebagai contoh, sebuah perusahaan asing akan menanam modal senilai US$&amp;shy;&amp;shy; 70 juta. Melalui renegosiasi komersial, utang pemerintah bisa diperdagangkan di pasar sekunder dengan diskon, katakanlah, 30%. Broker perusahaan tersebut akan membeli utang pemerintah senilai US$&amp;shy;&amp;shy; 100 juta dengan harga US$&amp;shy;&amp;shy; 70 juta (diskon 30%). Pemerintah setuju membayar Rupiah senilai, katakanlah, US$&amp;shy;&amp;shy; 80 juta, kepada perusahaan. Bisa juga hanya senilai US$&amp;shy;&amp;shy; 70 juta, tapi dikompensasi dengan kemudahan pajak. Hasilnya, utang senilai US$&amp;shy;&amp;shy; 100 juta terbayar, FDI masuk senilai US$&amp;shy;&amp;shy; 70-80 juta, sementara utang pemerintah terhapus 20-30%. Memang ada resiko inflatoir, terutama kalau dana pemerintah diperoleh dari pencetakan uang. Makanya, kita perlu BI yang independen sehingga hal ini tidak terjadi. Solusi di atas memang perlu renegosiasi yang ruwet. Tapi, ada baiknya kita belajar dari kriris utang Meksiko Agustus 1982. Solusi awal yang diusulkan mirip dengan strategi IMF di Indonesia. Yaitu, percepatan pertumbuhan ekonomi melalui penyesuaian struktural dan reformasi ekonomi. Kue PDB yang membesar diharapkan menurunkan rasio utang/PDB, sehingga debitor lebih layak kredit dan bisa memperoleh kucuran utang lagi. Konsep yang dikenal dengan “Rencana Baker 1985" ini gagal total karena gagalnya reformasi ekonomi, serta adanya time lag antara reformasi dengan pertumbuhan PDB. Rencana Baker diganti dengan “Rencana Brady”, di mana kreditor AS dapat menghapus utang, ditukar obligasi Brady. Teknik swap ini membuat Meksiko bisa menghapus utang US$&amp;shy;&amp;shy; 29,4 milyar, dan menghemat pembayaran utang US$&amp;shy;&amp;shy; 3,8 milyar per tahun. Tentunya, selain dengan obligasi, utang bisa ditukar dengan ekuitas, likuiditas mata uang domestik, atau konservasi sumber daya alam (debt-for-nature swap). Konversi utang menjadi ekuitas bisa dilakukan dalam kerangka privatisasi, sehingga diperoleh sinergi yang mampu mendongkrak harga pasar.Salah satu usulan Tim Independen tentang Obligasi Rekap adalah tukar guling antara utang luar negeri dengan obligasi rekap. Dalam kasus ini, utang luar negeri tetap tidak berkurang, hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur. Namun, pemerintah memperoleh keuntungan berupa berkurangnya public domestic debt stocks.b. Pengurangan debt stock melalui arbitrase internasionalSolusi ini memerlukan sinerji dan pembangunan jaringan yang kuat dengan NGOs di negara- negara maju. Ide dasarnya, pihak kreditor multilateral (Bank Dunia dll) dan bilateral ikut bertanggungjawab atas kegagalan mereka menjamin tercapainya good governance dalam manajemen utang para debitor. Sehingga, muncullah wacana mengenai odious debt, atau utang najis, di mana kreditor memberikan kemudahan dan hair cut untuk mengkompensasi utang najis tersebut. Kalangan NGOs dalam dan luar negeri sangat antusias dengan alternatif ini. Walaupun belum ada preseden yang signifikan, tidak ada salahnya negara-nagara debitor seperti Indonesia mencoba alternatif ini.c. Negosiasi utang LN pemerintah pada level geopolitik dan stratejikIde dasar alternatif ini sudah disampaikan dalam Laporan Tim Indonesia Bangkit, di mana saya adalah salah satu penulisnya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat hasil Paris Club. Pemerintah dan Bank Dunia mengklaim, Indonesia memperoleh terms yang semakin baik dalam Paris Club (PC) 3, dibandingkan PC1. Masa jatuh tempo misalnya, naik dari 11 tahun ke 18 tahun untuk utang non-ODA. Masa tenggang (grace period) naik dari 5 tahun ke 10 tahun untuk ODA, dan ada penjadwalan ulang terhadap bunga.Namun, berdasarkan laporan European Network on Debt and Development (EURODAD), terms yang diperoleh Indonesia lebih jelek dari negara lain. Indonesia hanya diberikan Houston Term. Padahal kalau memperoleh Naples Term, Indonesia bisa meminta pengampunan hingga 67% dari total utang non-ODA. Untuk utang ODA, bahkan bisa memperoleh masa tenggang 16 tahun, dengan tingkat bunga yang didiskon selama 40 tahun.Sebagai bandingan, Pakistan memperoleh pemotongan 30% dari net present value (NPV) utang ODA dan non-ODA. Sisa utang ODA dijadwal ulang 38 tahun, dengan masa tenggang 15 tahun. Yugoslavia memperoleh potongan 66,7% dari NPV utangnya, sementara Polandia dikurangi 50% dari total utang.Kenapa demikian? Alasan utamanya, Indonesia terjebak dalam argumen teknis ekonomis, sementara negara-negara di atas menggunakan argumen geopolitik dan stratejik. Jadi, kita harus mengubah strategi negosiasi utang, dengan memanfaatkan berbagai faktor non-teknis ekonomis.d. Renegosiasi bilateral, terutama dengan JepangSekitar 1/3 dari debt outstanding Indonesia adalah dengan Jepang. Kepentingan stratejik Jepang, baik dalam membendung ambisi geopolitik China, dalam restrukturisasi multinasionalnya hingga keinginan menahan serbuan produk China ke pasar domestik Indonesia, merupakan potensi negosiasi. Jepang bahkan berpotensi untuk berperan seperti AS terhadap Meksiko kalau skema serupa Brady Bonds diterapkan bagi Indonesia. Kesalahan Indonesia adalah belum apa-apa sudah meminta hair cut. Ini dilakukan tanpa terlebih dulu mengembangkan skema-skema rekayasa keuangan yang mengkombinasikan berbagai bentuk swap dengan kepentingan geopolitik, stratejik, dan ekonomi Jepang di kawasan Asia Tenggara. Padahal, kita semestinya bisa mendesain skema penyelesaian utang bilateral yang dikaitkan dengan, katakanlah, insentif investasi dan pasar bagi multinasional Jepang relatif terhadap China.3. Pengendalian debt service sebagai rasio penerimaan negara(Ini merupakan bagian dari tulisan saya bulan Desember 2001). Dalam era globalisasi saat ini, tidak sedikit negara yang berlindung di balik Undang-Undang dalam negeri untuk melindungi kepentingannya. Sebagai misal, AS tidak jarang mengancam penggunaan Undang-Undang yang dikenal sebagai Super 301 untuk membatasi impor dari negara-negara yang dianggap merugikan kepentingan AS. UU Bioterorisme adalah contoh yang lain. Negara-negara Eropa juga sering berlindung di balik Undang-Undang tentang lingkungan, misalnya tentang produk transgenetik, untuk memproteksi produk-produk pertaniannya. Dengan tingkat utang yang sangat tinggi, sementara di lain pihak terdapat pasar domestik yang sangat besar, tingkat upah yang kompetitif dan sumber daya alam yang besar, Indonesia sebenarnya memiliki potensi posisi tawar yang tinggi. Tingkat utang yang terlalu besar membuat credit exposure dan default risks kreditor utama Indonesia sangat tinggi. Ini sangat relevan bagi Jepang, yang merupakan kreditor terbesar Indonesia dengan tingkat piutang USD 45 milyar, dan kepentingan ekonomi regional yang besar.Pemberlakuan batas maksimum bagi pembayaran utang pemerintah, terutama hutang luar negeri, jelas akan membuat sumber daya dan dana yang tersedia bagi perekonomian domestik makin besar. Seandainya pembayaran utang luar negeri pemerintah dipatok maksimum 10% dari total penerimaan negara, maka pada tahun 2002 setidaknya terdapat Rp 42,94 triliun dana RAPBN 2002 yang belum dipakai.Pengelolaan dana tersebut harus dilakukan dengan transparansi maksimum, dan diawasi oleh sebuah Forum Multi-Stakeholder yang melibatkan publik secara luas. Dana tersebut bisa tetap menjadi bagian dari APBN, atau dimasukkan ke dalam sebuah Trust Fund, yang tidak boleh digunakan untuk berinvestasi di pasar modal dan pasar uang. Dana tersebut seyogyanya diprioritaskan untuk (antara lain):1. program padat karya di pedesaan, 2. subsidi kredit program bagi pemulihan sektor riil yang berbasis pada UKM dan sektor- sektor prioritas, terutama infrastruktur, pertanian dan industri dengan multiplier tinggi dan/ atau yang meningkatkan kapasitas teknologi bangsa.3. Pembiayaan sektor sosial, terutama pendidikan dan kesehatan.Penetapan batas maksimum di atas perlu didasarkan pada sebuah Undang-Undang, sehingga pemerintah bisa menggunakannya sebagai dasar hukum dan sekaligus alat negosiasi dengan para kreditor. Butir-butir utamanya antara lain:1. Pembatasan jumlah maksimum pembayaran utang LN pemerintah dalam setiap tahun anggaran, misalnya 10% dari total penerimaan negara yang berasal dari pajak dan non-pajak. Hal yang sama bisa diberlakukan bagi utang domestik.2. Pengaturan terms yang harus digunakan pemerintah dalam negosiasi dengan para kreditor.3. Pengaturan mengenai pengelolaan dana yang semestinya dipakai untuk membayar hutang luar negeri, baik dalam APBN maupun trust fund. Transparansi maksimum dan Forum Multi- Stakeholder menjadi bagian tak terpisahkan dari pengelolaan dana ini.4. Pengaturan mengenai prioritas penggunaan dana tersebut5. Pengaturan mengenai pembatasan jumlah utang baru yang boleh diambil pemerintah, dikaitkan dengan cash flow pemerintah pada saat utang jatuh tempo.6. Pengaturan mengenai tingkat maksimum kenaikan pajak dan penurunan subsidi, sehingga total penerimaan negara benar-benar dihitung secara reasonable. Ini memperkecil peluang bagi IMF dan Bank Dunia untuk menekan pemerintah agar memperbesar jumlah pembayaran utang dengan jalan memperbesar target penerimaan negara.Ide alternatif di atas bukannya tanpa resiko dan potensi dampak negatif. Komunikasi dan negosiasi intensif dengan kreditor utama, khususnya Jepang, diharapkan dapat memperkecil resiko dan dampak negatif tersebut. Karena itu, pemerintah perlu lebih pro-aktif dalam melakukan negosiasi ekonomi, tapi dengan tujuan yang berbeda dengan pada masa lalu. Di masa lalu, tujuannya adalah memperoleh utang baru. Dengan UU ini, tujuannya adalah membatasi pembayaran utang, sehingga utang baru dari CGI mungkin tidak dibutuhkan lagi.PenutupAlternatif di atas sebenarnya masih bisa dikembangkan dengan berbagai variasi. Sayangnya, UU Keuangan Negara yang baru disetujui DPR kembali menggunakan paradigma klasik dalam manajemen utang. Di sini, indikator yang digunakan hanya debt ratio yang dibatasi 60% PDB. Padahal, UU ini semestinya bisa memasukkan pembatasan debt service sebesar masing-masing 10% penerimaan negara untuk utang luar dan dalam negeri, dengan konsep yang diuraikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayar Utang Merampas Masa Depan&lt;br /&gt;Oleh Peter Rosler Garcia&lt;br /&gt;BAGIAN terbesar utang luar negeri Indonesia berasal dari koruptor Indonesia dan mungkin juga dari rencana strategis Amerika Serikat yang dibongkar belum lama berselang. Namun, beberapa minggu lalu Argentina sudah mendapat penghapusan utang luar negeri yang luar biasa besar. Bisakah Indonesia mengikuti contoh Argentina itu? Jika tidak, adakah jalan lain untuk Indonesia?&lt;br /&gt;Dengan&gt;small 0&lt; 190 miliar dollar AS, utang total Indonesia sudah melebihi produk domestik bruto (PDB) yang di tahun 2004 bertumbuh menjadi 182 miliar dollar AS. Jumlah utang itu terdiri dari utang luar negeri pemerintah (78,7 miliar dollar AS), utang luar negeri BUMN (4,8 miliar dollar AS), utang luar negeri swasta (45,5 miliar dollar AS), dan utang pemerintah dalam negeri (kira-kira 60 miliar dollar AS).&lt;br /&gt;Setiap tahun pembayaran pokok dan bunga utang luar dan dalam negeri memakan hampir separuh dari semua penerimaan pajak Pemerintah Indonesia. Sisanya tidak cukup untuk dana membangun negara RI serta untuk memperbaiki pendidikan, kesehatan, dan keadaan kehidupan bangsa. Sesuai dengan angka-angka Bank Dunia, kira-kira 60 persen dari semua penduduk Indonesia miskin atau di ambang garis kemiskinan. Apakah mungkin negara bisa maju dalam situasi itu?&lt;br /&gt;Membayar utang negara kepada luar negeri berarti merampas masa depan Indonesia. Membayar semua utang luar negeri menjadi perbuatan jahat terhadap kaum muda dan generasi-generasi berikut bangsa Indonesia. Hanya dari segi itu, tiada pemerintah luar negeri atau lembaga multinasional yang bisa menentang hak Indonesia atas pengurangan utang luar negeri yang cukup besar. Tetapi, juga ada dua alasan lain, yaitu korupsi Orde Baru dan rencana strategis AS untuk menaikkan beban utang negara berkembang dan ketergantungan perekonomian mereka kepada luar negeri yang berjalan sejak masa Orde Baru.&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia dan pemimpin-pemimpin Indonesia masa kini tidak bertanggung jawab atas korupsi besar Orde Baru dan juga tidak atas utang yang berasal dari korupsi itu. Bagian terbesar utang Indonesia terhadap luar negeri berasal dari masa itu. Terkenal sekali nama- nama semua pemimpin dan pegawai negara Orde Baru yang menjadi kaya raya dalam jabatan mereka, antara lain, melalui uang dari perusahaan swasta yang mau menerima pesanan negara atau BUMN besar. Sementara tuntutan dan pengadilan para koruptor yang diberitakan pers itu pun terkatung-katung.&lt;br /&gt;MENDAPAT uang korupsi lebih gampang lagi jika pembiayaan datang dari bank-bank multinasional. Dulu di sana harga-harga proyek tidak diperiksa dengan teliti. Sebagian uang bank multinasional ditransfer oleh perusahaan swasta kepada rekening si pegawai Indonesia di Singapura atau Swiss, misalnya, setelah mendapat pesanan. Sampai juga ada proyek yang hanya diciptakan untuk memuaskan ketamakan pegawai korup.&lt;br /&gt;Dengan begitu, semua harga proyek, semua argumentasi penciptaan proyek masa Orde Baru sebenarnya harus diperiksa lagi. Tentu saja, usulan itu kurang realistis. Banyak tokoh korup sudah pensiun dan bukti tiada lagi. Juga, kolusi mitra dari beberapa negara sangat sulit bisa dibuktikan. Dan apa yang terjadi dengan pinjaman uang baru yang dipakai untuk membayar utang lama? Yang adil hanya satu: Memotong sebagian terbesar atau semuanya utang Orde Baru dan juga utang baru yang mengganti utang Orde Baru.&lt;br /&gt;Korupsi Orde Baru sudah mendapat pasangan di luar negeri yang melengkapinya. Sesuai dengan buku Confessions of an Economic Hit Man (Pengakuan Seorang Preman Ekonomi), bekas anggota dinas rahasia khusus AS John Perkins menuliskan kegiatannya di Indonesia tahun 1971. Jika isi buku itu benar, terbaca ada rencana strategis AS untuk menaikkan ketergantungan perekonomian negara berkembang melalui jumlah besar pinjaman luar negeri. Di samping itu, kegiatan mereka menguntungkan perusahaan besar AS yang mendapat banyak pesanan besar.&lt;br /&gt;Kelompok "Preman Ekonomi" semacam John Perkins melaksanakan rencana AS itu. Sebagai penasihat resmi mereka menipu negara berkembang, supaya negara itu menerima pinjaman-pinjaman besar yang kemudian dikirimkan ke perusahaan swasta AS dalam bentuk pesanan. Pinjaman itu berasal dari pemerintah (misalnya USAID) atau dari bank dan lembaga multinasional. Antara lain alat mereka adalah laporan pembiayaan yang bersifat menipu, pemilihan umum yang dipalsukan, pembayaran uang suap, pemerasan, seks, dan pembunuhan tokoh negara berkembang yang tidak mau bekerja sama (Berrett-Koehler Publishers, Inc, San Francisco, ISBN 1-57675- 301-8).&lt;br /&gt;SAMPAI sekarang Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Asian Development Bank dikuasai oleh negara maju. IMF, misalnya, tidak hanya suka mendikte penghematan yang terlalu tegas dan kurang peduli kepada keadaan kehidupan dan sosial bangsa. Juga ada contoh resep lembaga itu membunuh si sakit, misalnya, dalam kasus Argentina. Dan juga, banyak kali IMF bekerja sama sampai berkolusi dengan pemimpin negara korup atau mahakorup. Contohnya juga Argentina, yaitu pemerintah korup Presiden Menem.&lt;br /&gt;Saat ini Argentina bisa bersorak-sorai. Lebih dari tiga perempat kreditor swasta negara itu sudah memotong 70 persen dari utang negara sebesar 100 miliar dollar AS. Itulah pertama kali dalam sejarah suatu negara mendapat penghapusan utang luar negeri yang begitu besar. Tentu saja, para kreditor swasta tidak melepaskan uang mereka secara sukarela. Mereka tidak punya pilihan yang lain: Pemerintah Argentina tidak mau berkompromi dan tiada pemerintah luar negeri yang mau mendukung kreditor swasta tersebut.&lt;br /&gt;Di sinilah terletak perbedaan yang paling besar antara Argentina dan Indonesia. Hampir semua utang Pemerintah Indonesia terhadap luar negeri, yaitu 94 persen dari 78,7 miliar dollar AS, terdiri dari pinjaman pemerintah luar negeri atau pinjaman lembaga dan bank multinasional. Lain di Argentina, di mana obligasi negara yang dibeli oleh bank-bank dan investor swasta berjumlah dua pertiga utang luar negeri. Dan posisi seorang investor swasta luar negeri lemah sekali jika pemerintahnya tidak berbuat apa pun.&lt;br /&gt;Kebanyakan kreditor luar negeri Argentina adalah warga negara AS, Italia, dan Jerman. Pemerintah AS tidak mau turun tangan oleh karena mereka takut ada bahaya radikalisasi dan Presiden Argentina bisa mengikuti jejak Presiden Venezuela. Pemerintah Italia menuduh bank-bank swasta menjualkan obligasi Argentina kepada penabung-penabung kecil Italia waktu bank itu sudah tahu Argentina akan runtuh. Itu alasannya Pemerintah Italia memilih tidak berpihak.&lt;br /&gt;Pemerintah lain, misalnya, Jerman dan Spanyol, sangat sadar bahwa Argentina tidak pernah bisa membayar utang luar negeri yang begitu besar tanpa pengorbanan sosial yang mahatinggi. IMF, yang ikut bertanggung jawab atas kemelut ekonomi Argentina, juga memilih tutup mulut.&lt;br /&gt;Kreditor luar negeri Indonesia paling besar adalah Jepang (20,6 miliar dollar AS), IMF (9,4 miliar dollar AS), Bank Dunia (8,8 miliar dollar AS), dan Asian Development Bank (8,5 miliar dollar AS). Mereka bukan investor swasta. Itu alasannya Indonesia tidak bisa mengikuti jejak Argentina. Namun, demi keadilan dan demi masa depan negara, Pemerintah Indonesia tidak bisa lain dari berunding dengan semua kreditor bilateral dan multilateral negara dengan maksud mendapat potongan utang luar negeri yang harusnya masih lebih besar dari Argentina.&lt;br /&gt;Peter Rosler Garcia Ahli Politik dan Ekonomi Luar Negeri, Hamburg, Jerman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;LAMPIRAN&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114829004735423662?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114829004735423662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114829004735423662' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829004735423662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114829004735423662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/05/bab-i-pendahuluan-i.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114433217008986716</id><published>2006-04-06T06:59:00.000-07:00</published><updated>2006-04-06T07:02:50.410-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Peradilan Rakyat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Putu WijayaSeorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum."Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung."Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?""Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujungtombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."Pengacara muda itu tersenyum."Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.""Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa."Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."Pengacara tua itu meringis."Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.""Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"Pengacara tua itu tertawa."Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf."Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang."Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.""Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.""Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan."Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.""Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran."Bagaimana Anda tahu?"Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."Pengacara muda sekarang menarik napas panjang."Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti."Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?""Antara lain.""Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu."Jadi langkahku sudah benar?"Orang tua itu kembali mengelus janggutnya."Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?""Tidak! Sama sekali tidak!""Bukan juga karena uang?!""Bukan!""Lalu karena apa?"Pengacara muda itu tersenyum."Karena aku akan membelanya.""Supaya dia menang?""Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."Pengacara tua termenung."Apa jawabanku salah?"Orang tua itu menggeleng."Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.""Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.""Tapi kamu akan menang.""Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.""Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."Pengacara muda itu tertawa kecil."Itu pujian atau peringatan?""Pujian.""Asal Anda jujur saja.""Aku jujur.""Betul?""Betul!"Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi."Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?""Bukan! Kenapa mesti takut?!""Mereka tidak mengancam kamu?""Mengacam bagaimana?""Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?""Tidak."Pengacara tua itu terkejut."Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?""Tidak.""Wah! Itu tidak profesional!"Pengacara muda itu tertawa."Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!""Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"Pengacara muda itu terdiam."Bagaimana kalau dia sampai menang?""Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!""Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"Pengacara muda itu tak menjawab."Berarti ya!""Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya."Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.""Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.""Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?""Betul.""Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan."Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan."Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.""Tapi..."Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda."Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik."Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu."Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114433217008986716?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114433217008986716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114433217008986716' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114433217008986716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114433217008986716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/04/peradilan-rakyat-cerpen-putu.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114208698773540632</id><published>2006-03-11T06:21:00.000-08:00</published><updated>2006-03-11T06:23:13.116-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;"Is that to say we are against Free Trade? No, we are for Free Trade, because by Free Trade all economical laws, with their most astounding contradictions, will act upon a larger scale, upon the territory of the whole earth; and because from the uniting of all these contradictions in a single group, where they will stand face to face, will result the struggle which will itself eventuate in the empancipation of the proletariat".&lt;br /&gt;Writing in the Chartist newspaper, 1847. (Marx Engels Collected Works Vol 6, pg 290).&lt;br /&gt;"We are ruthless and ask no quarter from you. When our turn comes we shall not disguise our terrorism."&lt;br /&gt;Marx-Engels Gesamt-Ausgabe, vol. vi pp 503-5&lt;br /&gt;"Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people."&lt;br /&gt;Alternative translation: "It is the opiate of the masses."&lt;br /&gt;Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right (1843)&lt;br /&gt;"It is clear that the arm of criticism cannot replace the criticism of arms. Material force can only be overthrown by material force, but theory itself becomes a material force when it has seized the masses. Theory is capable of seizing the masses when it demonstrates ad hominem, and it demonstrates ad hominem as soon as it becomes radical. To be radical is to grasp things by the root. But for man the root is man himself. What proves beyond doubt the radicalism of German theory, and thus its practical energy, is that it begins from the resolute positive abolition of religion. The criticism of religion ends with the doctrine that man is the supreme being for man. It ends, therefore, with the categorical imperative to overthrow all those conditions in which man is an abased, enslaved, abandoned, contemptible being—conditions which can hardly be better described than in the exclamation of a Frenchman on the occasion of a proposed tax upon dogs: 'Wretched dogs! They want to treat you like men!'"&lt;br /&gt;Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right (1843)&lt;br /&gt;"Every emancipation is a restoration of the human world and of human relationships to a man himself."&lt;br /&gt;"&lt;/span&gt;&lt;a title="w:On_the_Jewish_Question" href="http://en.wikipedia.org/wiki/On_the_Jewish_Question"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Zur Judenfrage&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;" ("On the Jewish Question"), in Deutsch-Französische Jahrbücher (1843)&lt;br /&gt;"Very well then! Emancipation from huckstering and money, consequently from practical, real Judaism, would be the self-emancipation of our time. An organization of society [such as communism] which would abolish the preconditions for huckstering, and therefore the possibility of huckstering, would make [this] Jew impossible. His religious consciousness would be dissipated like a thin haze in the real, vital air of society. On the other hand, if the Jew recognizes that this practical nature of his is futile and works to abolish it, he extricates himself from his previous development and works for human emancipation as such and turns against the supreme practical expression of human self-estrangement."&lt;br /&gt;"Zur Judenfrage" (1843)&lt;br /&gt;"History is not like some individual person, which uses men to achieve its ends. History is nothing but the actions of men in pursuit of their ends."&lt;br /&gt;Die Heilige Familie (1845)&lt;br /&gt;"The philosophers have only interpreted the world, in various ways. The point, however, is to change it."&lt;br /&gt;"Theses on Feuerbach" (1845), Thesis 11&lt;br /&gt;"Hegel remarks somewhere that history tends to repeat itself. He forgot to add: the first time as tragedy, the second time as farce."&lt;br /&gt;Alternative translation: "The first time as a tragedy, the second time as a comedy."&lt;br /&gt;The Eighteenth Brumiare of Louis Bonaparte (1852)&lt;br /&gt;"Men make their own history, but they do not make it just as they please; they do not make it under circumstances chosen by themselves, but under circumstances directly encountered, given and transmitted from the past."&lt;br /&gt;The Eighteenth Brumaire of Louis Napoleon (1852)&lt;br /&gt;"It is a bad thing to perform menial duties even for the sake of freedom; to fight with pinpricks, instead of with clubs. I have become tired of hypocrisy, stupidity, gross arbitrariness, and of our bowing and scraping, dodging, and hair-splitting over words. Consequently, the government has given me back my freedom."&lt;br /&gt;Letter from Marx to Arnold Ruge on 25 January 1843, after the &lt;/span&gt;&lt;a title="w:Prussia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Prussia"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Prussian&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt; government dissolved the newspaper Rheinische Zeitung, of which Marx was the editor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The first premise of all human history is, of course, the existence of living human individuals. Thus the first fact to be established is the physical organisation of these individuals and their consequent relation to the rest of nature."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="w:The_German_Ideology" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_German_Ideology"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Die deutsche Ideologie&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt; (The German Ideology) (1845-46), Volume I; Part 1; "Feuerbach. Opposition of the Materialist and Idealist Outlook"; Section A, "Idealism and Materialism"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nicht das Bewußtsein bestimmt das Leben, sondern das Leben bestimmt das Bewußtsein."&lt;br /&gt;English: "It is in fact not the consciousness dominating life but the very life dominating consciousness."&lt;br /&gt;Die deutsche Ideologie, Volume III, 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sprache entsteht, wie das Bewußtsein, erst aus dem Bedürfnis, der Notdurft des Verkehrs mit anderen Menschen."&lt;br /&gt;English: "The language comes into being, like consciousness, from the basic need, from the scantiest intercourse with other human."&lt;br /&gt;Die deutsche Ideologie Marx-Engels-Werke/MEW, vol. III, 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Die Gesellschaft besteht nicht aus Individuen, sondern drückt die Summe der Beziehungen, Verhältnisse aus, worin diese Individuen zueinander stehn."&lt;br /&gt;English: "Any society does not consist of individuals but expresses the sum of relationships [and] conditions that the individual actor is forming."&lt;br /&gt;"Grundrisse der Kritik der politischen Ökonomie/Rohentwurf" (A Contribution to the Critique of Political Economy" [draft]) (1857)&lt;br /&gt;"From each according to his abilities, to each according to his needs."&lt;br /&gt;The Criticism of the Gotha Program (1875)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="Die_Deutsche_Ideologie"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Die Deutsche Ideologie    (written 1845/46), by Karl Marx and Friedrich Engels&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The first premise of all human history is, of course, the existence of living human individuals. Thus the first fact to be established is the physical organisation of these individuals and their consequent relation to the rest of nature."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="w:The_German_Ideology" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_German_Ideology"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Die deutsche Ideologie&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt; (The German Ideology) (1845-46), Volume I; Part 1; "Feuerbach. Opposition of the Materialist and Idealist Outlook"; Section A, "Idealism and Materialism"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nicht das Bewußtsein bestimmt das Leben, sondern das Leben bestimmt das Bewußtsein."&lt;br /&gt;English: "It is in fact not the consciousness dominating life but the very life dominating consciousness."&lt;br /&gt;Die deutsche Ideologie, Marx-Engels-Werke/MEW, vol. III, 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sprache entsteht, wie das Bewußtsein, erst aus dem Bedürfnis, der Notdurft des Verkehrs mit anderen Menschen."&lt;br /&gt;English: "The language comes into being, like consciousness, from the basic need, from the scantiest intercourse with other human."&lt;br /&gt;Die deutsche Ideologie Marx-Engels-Werke/MEW, vol. III, 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="The_Communist_Manifesto"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;The Communist Manifesto&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="w:The_Communist_Manifesto" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Communist_Manifesto"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;The Communist Manifesto&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt; (1848), by Karl Marx and Friedrich Engels&lt;br /&gt;"The proletarians of the world have nothing to lose but their chains. They have a world to win. Workers of all countries: Unite!"&lt;br /&gt;"The theory of Communism may be summed up in the single sentence: Abolition of private property."&lt;br /&gt;"Constant revolutionizing of production, uninterrupted disturbance of all social conditions, everlasting uncertainty and agitation distinguish the bourgeosis epoch from all earlier ones."&lt;br /&gt;"It [the bourgeosie] has pitilessly torn asunder the motley of ties that bound man to his 'natural superiors', and left remaining no other nexus between man and man than naked self interest, than callous 'cash payment'."&lt;br /&gt;"The history of all hitherto existing society is the history of class struggles."&lt;br /&gt;"A spectre is haunting Europe; the spectre of Communism."&lt;br /&gt;"What the bourgeoisie therefore produces, above all, are its own grave-diggers. Its fall and the victory of the proletariat are equally inevitable."&lt;br /&gt;"Communism deprives no man of the ability to appropriate the fruits of his labour. The only thing it deprives him of is the ability to enslave others by means of such appropriations."&lt;br /&gt;"But every class struggle is a political struggle."&lt;br /&gt;"Law, morality, religion, are to him so many bourgeois prejudicies, behind which lurk in ambush just as many bourgeois intrests."&lt;br /&gt;"All that we want to do away with is the miserable character of this appropriation, under which the labourer lives meraly to increase capital, and allowed to live only so far as the intrest to the ruling class requires it."&lt;br /&gt;"When people speak of ideas that revolutionize society, they do but express the fact that within the old society, the elements of a new one have been created."&lt;br /&gt;"The Communist revolution is the most radical rupture with traditional property relations; no wonder that its development invloves the most radical rupture with traditional ideas."&lt;br /&gt;"The working men have no country. We cannot take away from them what they have not got."&lt;br /&gt;"Of all the classes that stand face to face with the bourgeoisie today, the proletariat alone is a really revolutionary class."&lt;br /&gt;"No sooner is the exploitation of the labourer by the manufacturer, so far, at an end, that he recives his wages in cash, than he is set upon by the other portions of the bourgeoisie, the landlord, the shopkeeper, the pawnbroker, etc."&lt;br /&gt;"In place of the bourgeois society, with its classes and class antagonisms, shall we have an association, in which the free development of each is the condition for the free development of all."&lt;br /&gt;"A class of labourers, who live only so long as they find work, and who find work only so long as their labour increase capital. These labourers, who must sell themselves piecemeal, are a comodity, like every other article of commerce, and are consequently exposed to all the vicissitudes of competition, to all the fluctuations of the market."&lt;br /&gt;"He becomes an appendage of the machine, and it is only the most simple, most monotonous, and most easily acquired knack, that is required of him. Hence, the cost of production of a workman is restricted, almost entirely, to the means of subsistance that he requires for his maintenance."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="Grundrisse"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Grundrisse&lt;br /&gt;"Die Gesellschaft besteht nicht aus Individuen, sondern drückt die Summe der Beziehungen, Verhältnisse aus, worin diese Individuen zueinander stehn."&lt;br /&gt;English: "Any society does not consist of individuals but expresses the sum of relationships [and] conditions that the individual actor is forming."&lt;br /&gt;(source: "Grundrisse der Kritik der politischen Ökonomie/Rohentwurf" (A Contribution to the Critique of Political Economy" [draft]) (1857)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Die Natur baut keine Maschinen, keine Lokomotiven, Eisenbahnen, electric telegraphs, selfacting mules etc. Sie sind Produkte der menschlichen Industrie; natürliches Material, verwandelt in Organe des menschlichen Willens über die Natur oder seiner Betätigung in der Natur. Sie sind von der menschlichen Hand geschaffene Organe des menschlichen Hirns; vergegenständliche Wissenskraft. Die Entwicklung des capital fixe zeigt an, bis zu welchem Grade das allgemeine gesellschaftliche Wissen, knowledge, zur unmittelbaren Produktivkraft geworden ist und daher die Bedingungen des gesellschaftlichen Lebensprozesses selbst unter die Kontrolle des general intellect gekommen, und ihm gemäß umgeschaffen sind." (Karl Marx: Grundrisse der Kritik der politischen Ökonomie (Rohentwurf) [1857/58], Berlin (DDR): Dietz Verlag, 1974², p. 594)&lt;br /&gt;&gt;&gt;English: "Nature does not build machines, no locomotives, railways, electric telegraphs, (selfacting?) mules etc. They are products of the human industry; " (please, continue...)&lt;&lt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="Das_Kapital"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Das Kapital&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="w:Das_Kapital" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Das_Kapital"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Das Kapital&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt; (Capital: A Critique of Political Economy) (1867)&lt;br /&gt;"The commodity is first of all, an external object, a thing which through its qualities satisfies human needs of whatever kind. The nature of these needs, whether they arise, for example, from the stomach, or the imagination, makes no difference. Nor does it matter here how the thing satisfies man’s need, whether directly as a means of subsistence, i.e. an object of consumption, or indirectly as a means of production"&lt;br /&gt;I, 1, 126&lt;br /&gt;"Capital is money, capital is commodities. By virtue of it being value, it has acquired the occult ability to add value to itself. It brings forth living offspring, or, at the least, lays golden eggs."&lt;br /&gt;"A spider conducts operations that resemble those of a weaver, and a bee puts to shame many an architect in the construction of her cells. But what distinguishes the worst architect from the best of bees is this, that the architect raises his structure in imagination before he erects it in reality."&lt;br /&gt;Volume I, Chapter 7&lt;br /&gt;"Capital is dead labor, which, vampire-like, lives only by sucking living labor, and lives the more, the more labor it sucks."&lt;br /&gt;Volume I, Chapter 10&lt;br /&gt;"Die Technologie enthüllt das aktive Verhalten des Menschen zur Natur, den unmittelbaren Produktionsprozesss seines Lebens, damit auch seiner gesellschaftlichen Lebensverhältnisse und der ihnen entquellenden geistigen Vorstellungen."&lt;br /&gt;English: "Technology discloses the active relation of man towards nature, as well as the direct process of production of his very life, and thereby the process of production of his basic societal relations, of his own mentality, and his images of society, too."&lt;br /&gt;Das Kapital Volume I, Chapter 13: "Machinery and Big Industry"&lt;br /&gt;"Capitalist production, therefore, develops technology, and the combining together of various processes into a social whole, only by sapping the original sources of all wealth — the soil and the labourer."&lt;br /&gt;Volume I, Chapter 13 (last sentence)&lt;br /&gt;"The battle of competition is fought by the cheapening of commodities."&lt;br /&gt;Volume II, Chapter 10&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="Attributed"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Attributed&lt;br /&gt;"I am not a Marxist."&lt;br /&gt;"Democracy is the road to socialism."&lt;br /&gt;"Despite all its shortcomings, this Constitution looms against the background of Russian, Prussian and Austrian barbarism as the only work of liberty which Eastern Europe has ever created independently, and it emerged exclusively from the privileged class, from the nobility. The history of the world has never seen another example of such nobility of the nobility."&lt;br /&gt;on the &lt;/span&gt;&lt;a title="Polish Constitution of May 3, 1791" href="http://en.wikiquote.org/wiki/Polish_Constitution_of_May_3%2C_1791"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Polish Constitution of May 3, 1791&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Go on, get out. Last words are for fools who haven't said enough."&lt;br /&gt;Marx's purported last words&lt;br /&gt;"I do not like money, money is the reason we fight."&lt;br /&gt;Landlords, like all other men, love to reap where they never sowed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The oppressed are allowed once every few years to decide which particular representatives of the oppressing class are to represent and repress them."&lt;br /&gt;"The product of mental labor — science — always stands far below its value, because the labor-time necessary to reproduce it has no relation at all to the labor-time required for its original production."&lt;br /&gt;"The rich will do anything for the poor but get off their backs."&lt;br /&gt;"Religion is the opiate of the masses."&lt;br /&gt;"You will!"&lt;br /&gt;Apocryphal retort to a heckler asking who would clean the floors after the revolution&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114208698773540632?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114208698773540632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114208698773540632' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114208698773540632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114208698773540632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/03/is-that-to-say-we-are-against-free.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-114010235659538736</id><published>2006-02-16T07:02:00.000-08:00</published><updated>2006-02-16T07:05:57.930-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>SOKRATES&lt;br /&gt;Sokrates lahir di Athena tahun 470 S.M. dan meninggal tahun 399 S.M. Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sofisme di Athena. Pada hari tuanya Sokrates melihat kota tumpah darahnya mulai mundur, setelah mencapai puncak kebesaran yang gilang-gemilang. Sokrates bergaul dengan semua orang, tua dan muda, kaya dan miskin. Ia seorang filsuf dengan keunikannya sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Menurut teman-temannya: Sokrates demikian adilnya, sehingga ia tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Ia demikian cerdiknya, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang baik dan buruk.&lt;br /&gt;Sokrates mempunyai tujuan, mengajar orang mencari kebenaran. Sikapnya itu adalah suatu reaksi terhadap ajaran sofisme yang merajalela waktu itu. Guru-guru sofis mengajarkan bahwa "kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai." Sebab itu tiap-tiap pendirian dapat "dibenarkan" dengan jalan retorika. Dengan daya kata dicoba memperoleh persetujuan orang banyak. Apabila orang banyak sudah setuju, itu dianggap sudah benar. Dengan cara demikian, pengetahuan menjadi dangkal.&lt;br /&gt;Terhadap aliran yang mendangkalkan pengetahuan dan melemahkan rasa tanggungjawab itulah, Sokrates memberontak. Dengan filosofinya yang diamalkan dengan cara hidupnya, ia mencoba memperbaiki masyarakat yang rusak. Orang diajak memperhitungkan tanggung jawabnya. Ia selalu berkata, yang ia ketahui cuma satu, yaitu bahwa ia tak tahu. Karena itu ia bertanya. Tanya jawab adalah jalan baginya untuk memperoleh pengetahuan. Sesungguhnya inilah permulaan dialektik. Dialektik asal katanya dialog, artinya bersoal jawab antara dua orang.&lt;br /&gt;Guru-guru sofis yang mengobral "ilmu" di tengah-tengah pasar ditantangnya dengan cara ia berguru. Ia sebagai yang tidak tahu itu lalu ingin tahu dan bertanya. Tiap jawaban atas pertanyaannya disusul dengan pertanyaan baru. Demikianlah seterusnya. Pertanyaan itu makin lanjut makin mendesak. Akhirnya guru sofis tidak sanggup lagi menjawab dan mengaku tidak tahu. Lalu Sokrates mengunci tanya-jawab tadi dengan berkata: "Demikianlah adanya, kita kedua-duanya sama-sama tidak tahu."&lt;br /&gt;Dengan caranya yang berani dan jujur itu Sokrates banyak memperoleh kawan. Pemuda Athena sangat cinta kepadanya. Tetapi sebaliknya, lawannya juga banyak, terutama guru-guru sofis serta pengikut-pengikutnya yang berpolitik, yang memperoleh kemenangan dengan jalan retorika. Akhirnya Sokrates diajukan ke muka pengadilan rakyat dengan dua macam tuduhan. Pertama, bahwa ia meniadakan dewa-dewa yang diakui oleh negara, dan mengemukakan dewa-dewa baru. Kedua, bahwa ia menyesatkan dan merusak fiil (tingkah laku, perangai) pemuda.&lt;br /&gt;Namun, pun dalam pembelaannya Sokrates tetap tegas. Melihat susunan mahkamah rakyat itu, sudah terang ia akan disalahkan dan dihukum. Tetapi pantang baginya akan menjilat, beriba-iba mengambil hati para hakim supaya hukumannya diperingan. Dengan tangkas ia mengatakan, bahwa ia tidak bersalah melainkan berjasa pada pemuda dan masyarakat Athena. Bukan hukuman, melainkan upah yang harus diterimanya.&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya kawan-kawannya mendengarkan ucapannya itu. Para hakim tercengang, perasaan mereka tersinggung. Dengan suara terbanyak ia dihukum mati dengan meminum racun. Sokrates sedikitpun tidak gentar. Ia berkata dengan suara tenang, bahwa ia siap dan bersedia menjalani hukumannya.&lt;br /&gt;Dengan hati yang tetap pula ia menolak semua bujukan kawan-kawannya untuk lari dari penjara dan menyingkir ke kota lain. Sokrates, yang selalu patuh kepada undang-undang, tidak mau durhaka pada saat ia akan meninggal. Cara matinya juga memberikan contoh, betapa seorang filsuf setia kepada ajarannya.&lt;br /&gt;Sokrates, seperti tersebut di atas, tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Filosofinya mencari kebenaran. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.&lt;br /&gt;Karena Sokrates tidak menuliskan filosofinya, maka sulit sekali mengetahui ajaran otentiknya. Ajarannya itu hanya dikenal dari catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Catatan Xenephon kurang bisa diyakini, karena ia sendiri bukan filsuf. Untuk mengetahui ajaran Sokrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Tetapi kesukarannya ialah bahwa Plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya sendiri ke dalam mulut Sokrates. Dalam uraian-uraiannya, yang kebanyakan berbentuk dialog, hampir selalu Sokrates yang dikemukakannya. Ia memikir, tetapi keluar seolah-olah Sokrates yang berkata.&lt;br /&gt;Meskipun murid-murid Sokrates memberi isi sendiri-sendiri kepada ajaran gurunya, ada satu hal yang mereka sepakat, yaitu tentang metode Sokrates. Tujuan filosofi Sokrates adalah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sinilah letak perbedaannya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan bahwa semuanya relatif dan subjektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Seokrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap adanya dan harus dicari.&lt;br /&gt;Dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan setiap kali ia berdua dengan orang lain, dengan tanya-jawab. Orang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawan, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama mencari kebenaran. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang.&lt;br /&gt;Sokrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap dari segala sesuatu. Karena itu ia selalu bertanya: Apa itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil? Pertanyaan tentang "apa itu" harus lebih dahulu daripada "apa sebab". Ini biasa bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya dengan "apa itu". Oleh karena jawab tentang "apa itu", dicarilah dengan tanya-jawab yang makin meningkat dan mendalam, maka Sokrates diakui pula - sejak keterangan Arsitoteles - sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya-jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis.&lt;br /&gt;Oleh karena Sokrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya-jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya adalah metode induksi dan definsi. Induksi menjadi dasar definisi.&lt;br /&gt;Induksi di sini berlainan artinya dengan induksi sekarang. Menurut induksi paham sekarang, penyelidikan dimulai dengan memperhatikan yang spesifik dan dari sana - dengan mengumpulkan - dibentuk pengertian yang berlaku umum. Induksi yang menjadi metode Sokrates adalah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai yang umum dari yang spesifik. Ia mencoba mencapai definisi dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut di atas, dari kawan bersoal-jawabnya, yang masing-masing terkenal sebagai ahli dalam vak-nya sendiri-sendiri, dikehendakinya definisi tentang "berani", "indah", dan sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu pengertian itu tidak mencukupi, maka dari ujian itu dicari perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara itu diuji kembali untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikian seterusnya.&lt;br /&gt; Contoh Sokrates bekerja ini dapat diketahui dari dialog-dialog Plato yang mula-mula, di mana caranya berfilosofi masih dekat sekali dengan Sokrates.&lt;br /&gt;Dengan jalan itu, induksi kepada definisi, hasil yang dicapai tidak lagi takluk kepada paham subjektif seperti yang diajarkan kaum sofis, melainkan umum sifatnya dan berlaku untuk selama-lamanya. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.&lt;br /&gt;Dengan caranya itu, Sokrates membangun dalam jiwa orang bahwa kebenaran tidak diperoleh begitu saja, melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh barang yang tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu terlaksana pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Sebab itu, kata Sokrates, budi ialah tahu. Manusia yang dirusak oleh ajaran sofisme mau dibentuknya kembali.&lt;br /&gt;Budi ialah tahu. Inilah intisari dari etika Sokrates. Maksudnya, budi baik timbul dengan pengetahuan. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Maka, siapa yang mengetahui hukum tentulah bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu. Tak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan perbuatan. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan, maka budi itu dapat dipelajari. Nyatalah bahwa etika Sokrates intelektual sifatnya, disamping juga rasional. Apabila budi ialah tahu, maka tak ada orang yang sengaja, atas kemauannya sendiri, bebuat jahat. Apabila budi adalah tahu, berdasarkan pertimbangan yang benar, maka "jahat" hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak memiliki pertimbangan atau penglihatan yang benar. Orang yang tersesat adalah korban dari kekhilafannya sendiri. Tersesat bukanlah perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas kemauannya sendiri.&lt;br /&gt;Oleh karena budi ialah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat baik. Untuk itu orang pandai perlu menguasai diri dalam segala keadaan. Dalam suka mupun duka. Dan apa yang pada hakikatnya baik, adalah juga baik bagi diri kita sendiri. Jadi, menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt;Apa itu "kebahagiaan hidup", tidak pernah dipersoalkan oleh Sokrates, sehingga murid-muridnya memberi pendapat mereka sendiri-sendiri yang bertentangan.&lt;br /&gt;Menurut Sokrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan segala sesuatu yang ada itu ada tujuannya, begitu juga hidup manusia. Apa misalnya tujuan meja? Kekuatannya, kebaikannya. Begitu juga dengan manusia. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya.&lt;br /&gt;Dari pandangan etika yang rasional itu, Sokrates sampai kepada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagaamaan. Menurut keyakinannya, menderita kezaliman lebih baik daripada berbuat zalim. Sikap itu diperlihatkannya, dengan kata dan perbuatan, dalam pembelaannya di muka hakim. Sokrates adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Alam ini teratur susunannya menurut ujud yang tertentu. Itu, katanya, adalah tanda perbuatan Tuhan. Kepada Tuhan dipercayakannya segala-galanya yang tak terduga oleh otak manusia. Jiwa manusia itu dipandangnya sebagai bagian dari Tuhan yang menyusun alam. Sering pula dikemukakannya, bahwa Tuhan itu dirasakannya sebagai suara dari dalam, yang menjadi bimbingan baginya dalam segala perbuatannya. Itulah yang disebutnya "daimonion". Bukan ia saja yang dapat demikian, katanya. Semua orang dapat mendengarkan suara daimonion (suara batin) itu dari dalam jiwanya, apabila ia mau.&lt;br /&gt;Juga dalam segi pandangan Sokrates yang berisi keagamaan, terdapat pengaruh paham rasionalisme. Semua itu menunjukkan kebulatan, keutuhan, konsistensi ajarannya, yang menjadikan ia seorang filsuf yang terutama seluruh masa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-114010235659538736?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/114010235659538736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=114010235659538736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114010235659538736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/114010235659538736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2006/02/sokrates-sokrates-lahir-di-athena.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112834558510974135</id><published>2005-10-03T06:18:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T06:19:45.110-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Uji Dapur Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita muda bertanya kepada ayahnya, mengapa belakangan ini hidupnya sengsara dan semakin sulit. Mendengar hal itu si ayah tak banyak komentar. Anehnya ia malah membimbing sang putri masuk dapur. Setelah menyalakan kompor, ia menaruh tiga panci berisi air. Tidak berapa lama, ia cemplungkan wortel kedalam panci pertama, sebutir telur kedalam panci kedua, dan dua sendok bubuk kopi kedalam panci ketiga. Setelah air di ketiga panci itu mendidih, sang ayah menuang isinya kedalam tiga mangkok yang berbeda. Sang putri disuruh memotong telur, wortel, serta menghirup aroma wangi kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bisa menyembunyikan rasa heran dan penasaran, sang putri segera bertanya, “ apa maksud semua ini pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Setiap makanan,” ujar sang ayah, “mengajarkan kepada kita tentang bagaimana harus bersikap menghadapi keaneka ragaman, seperti yang dicontohkan oleh air mendidih itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dimasukkan kedalam air mendidih, wortel itu masih keras tapi ketika dikeluarkan , wortel itu sudah lunak dan empuk. Sebaliknya, telur itu dimasukkan dalam keadaan masih mentah dan mudah pecah. Sementara bubuk kopi itu mengubah air menjadi minuman yang wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nah, dalam menghadapi kehidupan ini kamu memilih seperti yang mana?” tanya sang ayah. “ Apakah kamu akan menyerah, menjadi keras, atau akan mengubah dan ‘memasak’ keanekaragaman itu menjadi sebuah kemenangan? Sebagai koki atas kehidupanmu, apa yang akan kamu sajikan di meja makan?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112834558510974135?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112834558510974135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112834558510974135' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112834558510974135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112834558510974135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/10/uji-dapur-kehidupan-seorang-wanita.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112834542143632591</id><published>2005-10-03T06:10:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T06:17:01.443-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Perbedaan Bodoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu seorang gembala sedang menggembalakan kawanan dombanya di padang rumput. Sambil bermain seruling seperti biasa ia menghibur hatinya, duduk diatas sebuah batu besar. Seorang yang lewat berkata,” kawanan dombamu bagus, boleh saya bertanya tentangn hewan-hewan itu?”&lt;br /&gt;“ tentu”, jawab penggembala.&lt;br /&gt;“ berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap harinya?”.&lt;br /&gt;“ yang mana, yang putih atau yang hitam?”.&lt;br /&gt;” Yang putih?”.&lt;br /&gt;“ oh, yang putih berjalan sekitar 6 kilometer setiap hari.”&lt;br /&gt;“ kalo yang hitam?”&lt;br /&gt;“yang hitam juga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ lalu berapa banyak rumput yang mereka makan setiap harinya?”&lt;br /&gt;“ yang mana, yang hitam atau yang putih?”&lt;br /&gt;“ yang putih?”&lt;br /&gt;“ yang putih makan sekitar 4 pon rumput setiap hari”&lt;br /&gt;“ kalo yang hitam?”&lt;br /&gt;“ yang hitam juga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahunnya?”&lt;br /&gt;“ yang mana, yang putih atau yang hitam?”&lt;br /&gt;“ yang putih”&lt;br /&gt;“ oh, menurut perkiraan saya, yang putih menghasilkan sekitar 6 pon bulu setiap tahun kalo mereka dicukur.”&lt;br /&gt;“ dan yang hitam?”&lt;br /&gt;“ yang hitam juga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu yang bertanya menjadi penasaran. “ mengapa engkau mempunyai kebiasaan aneh, selalu membedakan dombamu yang putih dan yang hitam setiap kali menjawab pertanyaanku?”. Dengan kalem sang gembala menjawab, “ tentu saja yang putih milik saya”. “ oh begitu, kalau yang hitam?”. “ yang hitam juga” jawab sang gembala tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah manusia. Pikirannya selalu membuat pemisahan-pemisahan bodoh, padahal oleh sang Kasih dilihat sebagai satu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112834542143632591?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112834542143632591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112834542143632591' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112834542143632591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112834542143632591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/10/perbedaan-bodoh-sore-itu-seorang.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112628154010854200</id><published>2005-09-09T08:58:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T08:59:00.113-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Daun yang Menyentuh Keningmu &lt;br /&gt;Cerpen: Muhammad Aris &lt;br /&gt;Sumber: Media Indonesia,  Edisi 03/17/2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ADAKAH engkau mengerti, Malam, daun yang jatuh dan menyentuh keningmu yang langsat itu, kini, masih seperti dulu, hijau kekuningan seperti wajah matahari pagi hari, di sela rimbun dedaunan taman kita?! Dan, tahukah engkau, Malam, di mana daun itu sekarang?! Di sini, Malam, di sini, di telapak tanganku. Telapak tangan yang katamu selalu berbau lumpur sawah. Berbau amis ikan dan air-air payau pertambakan!"Suara itu terbawa angin, terpantul-pantul di antara kabel-kabel listrik, kabel-kabel telepon, hitam asap pabrik, deru mobil dan motor, seperti mimpi yang penuh janji. Mengembara sepanjang waktu; sejak subuh pecah sampai rembulan rekah, lalu kembali, menelusup, masuk ke dalam lubang kecil sebuah ruang sempit, kepada tuan dengan napas menggigil, tuan yang tersengal dalam tarikan dan embusan."Adakah engkau mengerti, Malam?!"***"DARI mana asal daun ini, Kakang?" Matamu yang besar-bulat, dengan bulu mata ritmis itu, berbinar-binar, tak lepas memandangi daun itu. Aku tahu itulah tatapanmu yang paling syahdu, ketika melihat sesuatu yang sangat menarik hatimu. Dan, daun itu, Malam, daun itu, begitu segar-menghijau di lentik jari-jarimu.Mataku memandang ke atas, ke pohon yang tersandari tubuhmu. Kepalaku menggeleng. Daun itu tidak sama dengan daun pohon itu, lalu telapak tanganku memekar. Jari-jarimu yang lentik mendekat, tetapi tiba-tiba terangkat, melentik, dan terbanglah daun itu ke angkasa. Tawamu yang kecil dan tersendat-sendat, terdengar begitu gembira. Mataku nanar memandang daun itu. Jantungku berdegup penuh perburuan. Daun itu, Malam, daun itu terus terbang. Kakiku pun melayang, mengajak berlari mengejar.Entah telah berapa ribu mil kami berlarian, Malam, hingga suatu waktu, kami memasuki sebuah desa. Sebuah desa yang sangat lain dengan desa kita. Tak ada kandang ternak, entah sapi, entah kambing atau entah ayam, di belakang atau di samping rumah. Tak ada nyanyian jangkrik bila malam menjelang."Tangkap orang itu!" tiba-tiba telingaku mendengar suara belasan orang mendekat. Tangannya membawa sesuatu. Lalu tubuhku roboh seperti melihat hantu dan terkena lindu.Ketika mataku mulai bergerak, terasa semua tubuhku sangat sakit. Aku merasakan ada yang menetes dari lubang hidungku. Mataku menatap tanah. Cairan itu, di tanah, berwarna merah.Sejenak telingaku menangkap suara langkah orang mendekat, pikiranku menggambar dua orang. Yang satu tinggi besar, dan yang satunya, berukuran sedang. Langkahnya tegap, berdentam-dentam di tanah."Apakah benar orang ini yang membawa bungkusan-bungkusan di tempat ibadah?" Suaranya seperti tidak asing lagi di telingaku, berat penuh wibawa. Pikiranku hanya bisa menggambar sosok berkumis. Tubuh berbau minyak wangi merek terkenal itu, berambut cekak disisir piyak pinggir. Tingginya tidak kurang dari 170 cm."Benar, Pak! Saya saksinya!""Jadi, orang ini! Langkahnya terdengar mengelilingi tubuhku, kemudian tangannya memegang dan mengangkat janggutku."Hei, bicara kamu!" bentaknya keras disertai hentakan pukulan pada perutku. "Ayo, bicara!"Pikiranku telah menyusun cerita yang selama ini teralami, namun entah mengapa yang tergambar kemudian hanya satu, dan inilah yang berulang-ulang keluar dari mulutku tanpa ragu meski dengan nada kesakitan."Daun, daun itu, Pak! Daun itu terbang!"Dua hari tanganku mereka ikat pada batang sebuah pohon. Entah kekuatan dari mana, tanpa diberi makan dan minum, tubuhku tetap dapat berdiri dengan kukuh, tanpa lelah sedikit pun."Kita lepas saja orang ini!""Dilepas bagaimana?""Ya, dilepas! Menurutku, orang ini tidak layak dituntut, sepertinya dia hilang ingatan! Omongannya selalu tidak nyambung dengan apa yang kita tanyakan. Kalau begini terus, untuk apa kita capek-capek menanyainya?!'"Kalau begitu dibunuh saja!""Ya, dibunuh saja!" beberapa suara dengan keras terlontar."Tidak! Saya tidak setuju, itu cara binatang, hukum rimba, namanya!""Dibunuh!""Setuju!""Tidak!""Ya, tidak setuju!"Mereka saling gontok-gontokan sangat ramai, mempertahankan pendapatnya masing-masing. Bahkan ada yang sudah mencabut goloknya, siap diayunkan menebas siapa saja, sewaktu-waktu."Cukup!" sesosok wanita meluncur dari langit yang terbelah. Selendang yang diikatkan pada pinggangnya yang ramping berkibar perlahan. Rambut panjangnya tergerai lepas, berdesir-desir, bagai ombak.Begitu kakinya menginjak tanah, senyumnya mengembang, antara pesona antara kesadisan."Apa yang diucapkannya, yang selama ini membuat kalian tidak megerti, sesungguhnya adalah tentang Aku!"Mulut mereka membisu seperti tubuh mereka yang tanpa gerak. Hanya pandangan mata mereka yang hidup, lurus, menatap ke arah sosok di depannya."Ya, kalian tidak usah bingung! Daun itu, itulah Aku!" Tiba-tiba tawanya membahana. Bohlam lampu meledak. Kabel listrik memercikkan api. Bersamaan dengan itu, terdengar pohon terbelah, pohon beringin yang berusia ratusan tahun itu, terbelah, lalu berdebum ke tanah, dan langit yang begitu biru-ungu, dengan bintang-bintangnya bergetar seperti gemeretak.***DAUN itu, Malam, ingatkah engkau? Selalu seperti mula, saat bibirku mendekat ke bibirmu, saat tanganku menyentuh tanganmu, wajahmu, tubuhmu, pelan, tanpa ramai suara.Dan engkau, Malam, mendesahkan puisi, "Kapankah semua ini akan berakhir?"Rupanya engkau lupa, Malam. Akhir dari puisi adalah sunyi. Seperti awal, seperti penciptaan."Tetapi Kakang?" Engkau mendorong tubuhku perlahan."Bukankah Aku datang dari surga?!" Wajahmu memancar, putih kebeningan."Ya, akan bebas dan akan selalu sehijau kemarau!"Lalu engkau mendekat, dan mendekapku kembali dengan erat.Seperti aku, Malam, seperti aku yang kini terbaring, menunggu. Dan seperti akan selalu menunggu; jatuhnya daun, yang mungkin dari surga, dan menyentuh kembali keningmu. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112628154010854200?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112628154010854200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112628154010854200' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628154010854200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628154010854200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/09/daun-yang-menyentuh-keningmu-cerpen.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112628141906983836</id><published>2005-09-09T08:54:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T08:56:59.076-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Embun, Cinta, dan Sepasang Sayap Jelita &lt;br /&gt;Cerpen: Teguh Winarsho AS &lt;br /&gt;Sumber: Media Indonesia,  Edisi 01/27/2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.EMBUN pagi masih berkerendahan di kaca jendela, mengeremang seperti pandangan mata manis, saat Elina menggeliat baru bangun tidur. Mata Elina masih kuyu seperti mata kupu-kupu. Tetapi bola mata mungil itu segera mengerjap haru saat menatap embun di jendela kamarnya yang putih seperti guguran salju. Membuat khayal Elina melambung jauh, membayangkan suatu saat nanti bisa pergi ke sebuah tempat yang penuh salju. Mungkin di sebuah bukit yang tinggi atau jurang yang dalam sehingga yang tampak hanya warna kelam kelabu.Tetapi khayalan itu hingga kini belum pernah terwujud. Membuat Elina kerap cemberut bersungut-sungut. "Tuhan tidak adil, sebab tidak mau berbagi!" Seiring Elina mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan bibir pucat membiru.Lain waktu, dengan kemarahan meledak-ledak Elina menghapus embun di jendela kamarnya. Jendela kaca yang semula buram itu menjadi bening, bersih. "Aku tak mau kami tipu! Elina berseru. Napasnya sengal, memburu. Matanya merah menyimpan amarah sekaligus rasa ngilu.EMBUN di jendela kamar Elina sudah lama tidak muncul. Tetapi Elina tidak sedih atau kecewa. Sebab, Elina memang sudah tidak suka melihat embun dan juga tidak ingin pergi ke sebuah tempat bersalju. Elina justru ingin menjadi seekor burung yang bisa terbang ke langit biru. Dari jendela kaca kamarnya yang kini selalu bening, setiap kali bangun tidur Elina suka menatap burung-burung yang berkicau di ranting pohon jambu samping rumah. Burung-burung itu, meski tubuhnya kecil tapi bisa terbang tinggi. Elina juga ingin bisa terbang tinggi seperti burung-burung itu. Karenanya, setiap kali mau berangkat tidur, Elina selalu berdoa agar ketika bangun nanti ia sudah menjadi seekor burung. Tetapi lagi-lagi Elina kecewa sebab setiap kali bangun tidur dirinya masih belum berubah menjadi seekor burung.Elina putus asa. Ia kemudian malas berdoa. Kalaupun sesekali ia masih berdoa itu hanya dilakukan iseng-iseng belaka. Elina tahu, Tuhan pasti tidak akan memperhatikan dia dari mulut iseng. Tetapi pagi ini Elina sangat terkejut. Ketika semalam ia tidak berdoa, bahkan yang iseng sekalipun, pagi ini ia justru mendapati sepasang sayap mungil tumbuh di punggungnya. Sepasang sayap dengan bulu-bulu halus berwarna putih dengan garis-garis biru dan ungu melengkung tipis saling bersinggungan di kedua sisi dalamnya.Apakah aku mimpi? Tanya Elina dalam hati. Takjub. Heran. Di depan cermin Elina terus menggosok-gosok mata, ingin meyakinkan penglihatannya. Tidak salah! Sepasang sayap itu benar-benar tumbuh di punggungnya. Sepasang sayap mungil dengan bulu-bulu putih halus tampak indah memesona. Pelan, gemetar, jari-jari Elina menyentuh kedua ujung sayap itu. Terasa dingin seperti baru dimasukkan dalam kulkas.Tapi, tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar. Keras seperti digedor. Elina kaget, buru-buru mengenakan baju, menyembunyikan sepasang sayap di punggungnya. Elina tahu, hanya Mama di rumah ini yang suka menggedor pintu seperti seorang perampok. Tak sempat naik kursi roda, Elina menggelesot di lantai membuka pintu kamar. Benar. Seraut wajah berminyak dan sepasang bola mata melotot sudah berdiri di depan pintu. Berkacak pinggang. Elina gemetar, merunduk. Tubuhnya seperti mau ambruk."Dasar anak pemalas! Jam segini baru bangun!" Mama menjewer telinga Elina. Selalu begitu setiap Elina bangun kesiangan. Tapi Elina tidak meronta. Sebab Elina tak ingin tangan Mama yang penuh logam kuning bergemerincing itu melayang menggampar mukanya. Elina tetap merunduk, tunduk. Lalu, ketika Mama beringsut masuk kamar, perlahan Elina menggelesot menghampiri kursi roda di samping tempat tidurnya. Elina tahu apa yang harus dilakukannya pagi-pagi begini, yaitu membuat kopi untuk Mama. Mama pasti capek selalu setelah semalaman bekerja dan baru pulang subuh tadi.Tapi, baru beberapa detik, Mama sudah tidak sabar, berteriak serak dalam kamar. "Cepat sedikit, Elina!" Membuat Elina kikuk, tergesa-gesa. Ya, pekerjaannya sering tidak pernah sempurna, justru karena Mama tidak sabar, ingin cepat selesai. Tapi...hmmm, secangkir kopi panas itu telah siap dihidangkan dan aromanya segera meyebar memenuhi seluruh ruangan, menyelusup ke celah-celah lubang masuk ke dalam kamar Mama.PAGI cerah. Mama pergi. Seperti biasa Elina mendorong kursi rodanya ke teras depan, dan dari sela-sela rimbun pohon bunga yang tumbuh di halaman, ia akan melihat teman-teman sebayanya berangkat sekolah. Elina, 14 tahun. Mestinya ia juga sudah sekolah dan bahkan duduk di bangku kelas dua SMP. Tapi Mama selalu meludah setiap kali mengutarakan keinginannya untuk sekolah. Mama bilang, hanya orang-orang bodoh saja yang masih perlu sekolah. Sedang dirinya, kata Mama, bukan orang bodoh, karenanya tak perlu sekolah.Setiap hari Elina dikurung di dalam rumah. Tak boleh keluar untuk alasan apa pun. Tapi pernah suatu kali diam-diam Elina pergi ke rumah Neti, tetangga sebelah, yang mau mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Tapi baru delapan kali pertemuan, pada pertemuan terakhir, Mama datang dengan pentungan kayu. "Kamu sudah pintar, Elina! Tak perlu belajar!" Mama mendengus. Sejak itu Elina takut keluar rumah. Paling, pagi-pagi, ia hanya duduk di teras depan melihat teman-teman sebanyanya berangkat sekolah lalu kembali masuk ke dalam rumah.Tapi, sudah beberapa hari ini Elina sering menghabiskan waktunya seharian di teras depan. Bukan untuk melihat teman-teman sebayanya yang mau berangkat sekolah. Bukan. Tapi untuk mencuri pandang seraut wajah laki-laki yang kerap muncul dari pintu rumah seberang jalan; berambut klimis, mengenakan kacamata tipis, tersenyum manis, sesekali melambaikan tangan. Ya, Elina suka menatap laki-laki itu. Membuat jantungnya berdegup keras saat tanpa sengaja bola matanya beradu dengan bola mata milik laki-laki itu. Dan, begitulah, suatu perasaan aneh tiba-tiba menjalar kuat di benak Elina membuat dunia sekelilingnya terasa indah.SEMAKIN hari sepasang sayap di punggung Elina tumbuh semakin panjang dengan bulu-bulu yang kuat dan kukuh. Dulu Elina pernah ingin memotong sepasang sayap itu karena takut ketahuan Mama. Mama pasti akan marah besar jika tahu di punggungnya tumbuh sepasang sayap. Tapi niat itu segera diurungkan karena Elina sadar dirinya akan menjadi jelek tanpa sepasang sayap itu. Memang agak repot, sebab ia harus mengenakan pakaian longgar supaya tidak ketahuan Mama.Ini adalah hari kesepuluh sejak sepasang sayap itu tumbuh di punggung Elina. Elina suka menatap berlama-lama sepasang sayap itu lewat cermin di kamarnya atau ketika sedang mandi. Elina juga mengelus-elusnya. Elina merasa dirinya setiap hari terus bertambah cantik dengan sepasang sayap itu. Membuat perasaannya melambung bahagia. Apalagi, ya, apalagi. Tiga hari lalu, laki-laki berkaca mata tipis seberang jalan secara mengejutkan datang ke rumah ketika Mama sedang pergi ke luar kota.Di mata Elina, laki-laki itu cukup tampan, sopan, dan ramah. Rambutnya disisir rapi ke belakang, jidatnya tampak licin, mengilat. Elina menduga laki-laki itu pasti pintar dan suka membaca buku.Sejak pertemuan itu, laki-laki itu sering datang ke rumah Elina. Laki-laki itu seperti tahu kapan Mama Elina pergi ke luar kota. Kadang laki-laki itu seharian menemani Elina duduk di teras depan; ngobrol, tertawa-tawa. Tapi, lama-lama laki-laki itu bosan duduk di teras depan. Apalagi ketika suatu hari turun hujan lebat disertai angin kencang, laki-laki itu punya alasan untuk masuk ke dalam rumah, nonton televisi di ruang tengah. Tapi acara televisi yang hanya itu-itu saja cepat membuat laki-laki itu jengah. Laki-laki itu kemudian minta izin ingin melihat kamar Elina. Sekadar melihat-lihat saja. Elina tidak keberatan. Ya, tak ada sesuatu yang tak diizinkan Elina untuk laki-laki itu. Tak terkecuali ketika suatu hari laki-laki itu mencium pipi Elina....Dan, begitulah. Waktu terus bergulir. Detak jam terus berputar. Mama lebih sering pergi ke luar kota untuk sebuah urusan yang tak pernah dimengerti Elina. Dan, laki-laki seberang jalan itu juga sering datang ke rumah Elina. Mereka kini lebih suka ngobrol di dalam kamar ketimbang di teras depan atau di ruang tengah. Tapi, kian lama mereka kian kehabisan bahan obrolan. Kata-kata cinta sudah habis diucapkan. Bunga-bunga sudah tumbuh bermekaran. Tak ada yang perlu diragukan. Elina sendiri kemudian lebih banyak diam. Termasuk ketika suatu hari laki-laki itu memeluknya lalu mendorong tubuhnya hingga terjerembap di atas ranjang....Tapi, Mama bukan orang bodoh. Dengan cepat Mama mampu mengendus gelagat Elina. Mama marah besar. Suatu malam Mama mendatangi Elina yang tengah asyik rebahan di atas kasur. "Elina!" suara Mama melengking seperti gelas terbanting. "Sudah kuperingatkan berkali-kali kamu tidak boleh berhubungan dengan siapa pun juga! Termasuk laki-laki seberang jalan itu! Ngerti?" Malam itu juga Mama mengurung Elina di dalam kamar. Elina sedih. Setiap hari menangis.Kesedihan Elina semakin menjadi-jadi ketika ia ingat laki-laki seberang jalan itu. Elina rindu ingin ketemu laki-laki itu. Elina ingin menatap mata laki-laki itu yang lembut menggetarkan, mampu memberinya ketenteraman. Elina ingin bercanda, tertawa, dan ...ups! Tiba-tiba Elina diingatkan sesuatu tepat saat tangannya meraba perutnya. Perutnya terasa mual mulas dan seperti mau muntah. Kenapa? Ada apa? Mata Elina menerawang menatap langit-langit kamar. Langit-langit kamar yang dulu putih bersih itu kini telah menjadi kusam, retak-retak, seperti suasana hatinya.SEMAKIN hari kerinduan Elina semakin tak tertahankan. Elina tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, menyurukkan kesedihannya di lipatan bantal. Jendela kamarnya terlalu tinggi untuk ukuran dirinya yang cacat, lumpuh. Seandainya kakinya tidak lumpuh tentu ia sudah meloncat jendela menemui laki-laki seberang jalan itu. Ah, betapa kejamnya Mama, hanya jatuh cinta saja dilarang! batin Elina kesal, mengutuki nasibnya yang serbasial. Tapi, benarkah aku jatuh cinta? Elina kadang merasa tidak yakin jika perasaan yang menekan dadanya itu bernama cinta. Cinta? Hmmm. Betapa indahnya kalimat itu, seindah mentari pagi.Meski Elina dikurung di dalam kamar, tapi cintanya terus mekar. Cinta Elina terus mekar seiring sayap di punggungnya yang tumbuh kian kuat, kukuh, dan lebar. Ya, ya, tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa melarang seseorang jatuh cinta, meski orang itu adalah ibu kandung sendiri. Demikian Elina. Maka, pada suatu hari yang bahagia, ketika Mama sedang pergi ke luar kota, sepasang sayap di punggung Elina tiba-tiba mengepak pelan hingga angin berdesir memenuhi kamar. Lalu, mengepak lebih kencang lagi hingga tubuh Elina perlahan-lahan terangkat ke atas. Ke atas. Elina bisa terbang!Elina tertawa bahagia. Meski kakinya lumpuh, dirinya bisa terbang. Tuhan telah memahkotai dirinya dengan sepasang sayap jelita sebagai ganti kedua kakinya yang lumpuh! Sejenak Elina berputar-putar mengitari kamar lalu melesat keluar lewat jendela, mengitari halaman mencumbui bunga-bunga. Saking bahagianya hingga Elina lupa dengan laki-laki seberang jalan itu. Tapi, begitu ingat, Elina langsung melesat menuju rumah seberang jalan ingin menemui laki-laki itu. Tetapi Elina terkejut saat mendapati laki-laki itu tengah bercinta dengan seorang gadis sebaya dirinya di bangku bawah pohon belakang rumah....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112628141906983836?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112628141906983836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112628141906983836' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628141906983836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628141906983836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/09/embun-cinta-dan-sepasang-sayap-jelita.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112628117513801133</id><published>2005-09-09T08:50:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T08:52:55.143-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Anak-anak Bunga &lt;br /&gt;Cerpen: Maya Wulan &lt;br /&gt;Sumber: Media Indonesia,  Edisi 08/21/2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETAHUN lalu Alang meruntuhkan rumahnya. Tempat di mana dia biasa menyandarkan kepenatan dan menumpukan impian. Sepasang tangan lentik dan sebuah senyum khas yang begitu lama dihafalnya, telah berubah tak menarik baginya. Semisal angin yang menyapa wajahnya sesaat, lalu lewat tanpa bekas. Hingga akhirnya dia tak lagi menginginkan sapaan itu. "Sudah cukup waktu bersabar," katanya. Itulah kali pertama dia meninggalkan ranjang dingin yang pernah basah oleh titik peluhnya. Dia pergi, dan runtuhlah rumah yang dibangunnya selama ini. Senyuman yang biasa menyambutnya setiap malam, hanya terpana melihat kepergiannya yang tak lagi tertahan.&lt;br /&gt;Empat tahun lalu aku menguburkan hatiku. Tak ada lagi yang dapat mencapainya, terlebih merasukinya dengan seribu macam rasa. Aku menutup semua pintu di rumah yang tak pernah terbangun. Tak ada impian apa-apa lagi. Aku menjelma ranjang batu. Beku membunuh siapa pun yang mencoba menyentuhnya. Aku mengenang Alang, kawanku. Tentang rumahnya yang diruntuhkannya. Beruntungkah aku yang tak sempat membangunnya?&lt;br /&gt;KAMI bertemu di kamar sunyi. Hanya kami berdua. Tak ada rumah yang terbangun di sini, ataupun ranjang dingin yang sudah setahun dibenci laki-laki dewasa itu. Aku tersenyum padanya di tatapan yang pertama. Dia diam melihat bibirku yang terkesan tak benar-benar bahagia. Aku enggan menyapa, bahkan sekadar menyebut namanya yang sudah lama sekali tak kulakukan.&lt;br /&gt;Kuperhatikan laki-laki di depanku ini, masih sama seperti dulu. Kesombongan yang kusukai pada dirinya, terpancar kuat menerpaku. "Sudah lama sekali," kataku. Dia menantang mataku. "Masih sangat kuingat caramu memandang," katanya seketika. Aku terkejut dan memilih diam. Kami tak pernah tahu untuk apa membuat janji pertemuan ini. Terlalu lama kami sibuk dengan diri sendiri. Lalu tiba-tiba kami berjanji bertemu di kamar ini.&lt;br /&gt;Kami bicara tak tentu arah. Dua tubuh terbaring menantang langit-langit yang kusam. Suara laki-laki itu tertelan deru tarikan napasku yang berulang-ulang. Berselingan dengan napasnya yang terasa lebih berat. Aku mendekat padanya, melakukan yang tak terpikir olehku sebelumnya. Kupeluk laki-laki itu begitu erat. Ruang kamar mendadak sesak oleh kehampaan yang menyemburat keluar dari jiwa kami. Aku meletakkan kepalaku di dada laki-laki itu. Seluruh diriku tetap tak merasakan apa-apa oleh adegan kehangatan itu. Aku adalah ranjang batu, batinku.&lt;br /&gt;"Kau masih menguburnya." Alang berkata dengan sangat pelan.&lt;br /&gt;Aku tahu dia bicara tentang hatiku. "Ya, masih sama."&lt;br /&gt;Kami menarik napas panjang hampir bersamaan.&lt;br /&gt;"Kau sendiri--tak lagi membangun rumahmu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Sudah cukup waktu menunggu."&lt;br /&gt;"Kau meruntuhkannya. Kenapa kauretakkan tumpanganmu?"&lt;br /&gt;Alang tak menjawab.&lt;br /&gt;"Aku mencintai rumah yang kaubangun. Sayang aku tak sanggup membentuknya untuk diriku," kataku lagi.&lt;br /&gt;"Rumah itu membutuhkan tawa anak-anak. Anak-anak bunga."&lt;br /&gt;Kueratkan pelukanku pada tubuh laki-laki itu. "Aku tak berani memimpikan rumah itu lagi. Kau tahu, musim gugur datang berkali-kali. Pada bungaku tak lagi berkembang daun-daun baru. Mahkota telah layu di dasar tanah. Angin yang datang hanya lewat. Tak lebih."&lt;br /&gt;Laki-laki itu menyentuhkan bibirnya ke keningku. Aku tak merasakan apa-apa.&lt;br /&gt;"Angin itu akan berhenti setelah berjalan jutaan mil. Tubuhnya membawakanmu putik sari untuk menyunting mulut bungamu. Daun-daun akan berganti yang baru. Mahkota bermekaran lagi."&lt;br /&gt;Aku tersenyum. "Putik sari itu bukan anak panah yang dilesatkan dari busurnya. Angin menerbangkannya tanpa arah pasti. Dia hinggap di mana saja. Bahkan di mulut daun yang sudah lama tak terbuka."&lt;br /&gt;"Rumah itu semestinyalah penuh warna bunga." Sinar mata laki-laki itu tampak begitu nanar menerjang wajahku. Gelisah kami lahir berselingan.&lt;br /&gt;"Anak-anak bunga," sambungku.&lt;br /&gt;"Kau menginginkannya bukan?"&lt;br /&gt;"Apa?" seruku tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Rumah itu."&lt;br /&gt;Kalimat laki-laki ini membuat seluruh tubuhku bergetar. Dadaku berdebar kuat. Ini bukan hati yang tergali kembali, batinku meyakinkan diri.&lt;br /&gt;"Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahimu anak-anak bunga," sahutku.&lt;br /&gt;Tubuhku ditariknya semakin dekat hingga wajah kami bersentuhan.&lt;br /&gt;"Apa kau mau menggalinya kembali?"&lt;br /&gt;Mulutku terkunci mendengar pertanyaan yang menusuk jiwaku itu. Laki-laki ini tahu persis kenapa aku mengubur hatiku empat tahun lalu. Seperti juga aku tahu mengapa dan bagaimana dia meruntuhkan rumahnya sendiri. Ke mana dia berteduh, dan bersendiri. Lalu untuk apa dia menanyakan hal itu padaku?&lt;br /&gt;"Seperti apakah hatimu saat ini?" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Dia adalah pantai. Tak pernah sanggup memisahkan butiran pasir dari bangunan puri yang dibentuk tangan manusia, dengan bekas reruntuhan yang tersapu ombak."&lt;br /&gt;"Aku akan menemanimu memisahkan butiran pasir itu. Puri baru akan terbangun kembali."&lt;br /&gt;"Jangan katakan kau ingin menjagai hatiku jika kuburannya terbuka lagi."&lt;br /&gt;"Aku tetap akan peduli padamu," Suara laki-laki itu terasa sangat kuat menghadang ketakutanku.&lt;br /&gt;"Bahkan padi yang merunduk rendah hati pun tak terhindar dari serangan hama penyakit. Tapi bukankah kata-kata manis dari petani takkan mampu menguatkan padi itu untuk segar kembali dan beranjak sehat, jika tanpa perawatan? Yang terjadi di sini, padi tak lagi percaya pada pestisida."&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SATU jam berlalu dalam keheningan. Kami masih berpelukan. Tapi kesendirian tetap terasa tajam di kamar ini. Aku melihat jauh ke dalam. Benarkah aku masih punya keberanian untuk menggali kuburan hatiku yang telah mati begitu lama? Bukan aku yang membunuhnya, tapi mereka. Dan untuk apa aku membuka sesuatu yang sudah rapi tersembunyi dan tak terkenang lagi? Aku tak pernah merasa takut lagi dalam keadaan yang kujalani selama ini. Tapi kini, ketakutan itu menyibak pertahananku. Hanya karena sebuah kalimat menyapaku. Aku menginginkan rumah itu? Untuk apa? Aku takkan sanggup jika kelak harus meruntuhkannya.&lt;br /&gt;Alang mengenang reruntuhan rumahnya. Rumah yang tak mengenal anak-anak bunga. Siapakah yang salah? Mulut bunga, putik sari yang terbawa angin, ataukah hujan yang tak turun menyuburkannya? Dia tak pernah lagi tertarik untuk mengenang rumah dan sebuah senyuman yang ada di dalamnya. Yang menyambutnya di tiap malam, sejak rumah itu mulai dibangunnya. Kini semua terasa hambar di mata laki-laki dewasa itu. Sampai datang pertemuan ini. Dia dan aku, di kamar sunyi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;"BAGAIMANA jika kau menggali kuburan itu untukku?"&lt;br /&gt;Aku merenggangkan pelukan laki-laki itu. Kutatap matanya lekat-lekat mencari sesuatu yang telah lama kuyakini tak pernah ada dari makhluk yang bernama laki-laki.&lt;br /&gt;"Akan kutemani kau membangun rumah itu."&lt;br /&gt;"Untuk kelak kauruntuhkan kembali?" Aku bertanya dengan getir. Ragu dengan semua ini.&lt;br /&gt;"Yang kuinginkan adalah kita meruntuhkan ketakutan dan kehampaan ini."&lt;br /&gt;"Kita mungkin akan menemukan kesunyian yang sama. Saat itu semua akan terulang lagi. Kau meruntuhkan rumah ini, dan aku membuat kuburan baru yang takkan bisa dibuka lagi."&lt;br /&gt;Laki-laki itu melekatkan bibirnya di mataku. "Dapat kaulihat rasa kasihku di matamu?"&lt;br /&gt;"Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahi anak-anak bunga." Aku mengulang kalimat yang sudah kukatakan padanya.&lt;br /&gt;"Demi anak-anak bunga, akan kusapa ranjang itu dan sekuntum bunga baru yang diam-diam mampu menggetarkan hatiku. Itu tak mudah bagiku. Juga bagimu."&lt;br /&gt;Kami saling berpandang. Mulai kurasakan sesuatu pada diriku. Apakah aku sedang melangkah, atau menyerah?&lt;br /&gt;"Alang..." Aku memanggil nama laki-laki itu dengan pelan, sebelum akhirnya kuajak dirinya masuk ke jiwaku dan menggali kuburan hatiku.&lt;br /&gt;Seketika ruang kamar ini tampak begitu ramai akan warna bunga. Bayangan anak-anak bunga sayup-sayup berputaran di udara.&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112628117513801133?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112628117513801133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112628117513801133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628117513801133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628117513801133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/09/anak-anak-bunga-cerpen-maya-wulan.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112628097256777681</id><published>2005-09-09T08:47:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T08:49:32.573-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sebuah Jalan &lt;br /&gt;Cerpen: Aris Kurniawan &lt;br /&gt;Sumber: Jawa Pos,  Edisi 08/28/2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan sepi dan basah, kawan. Tetapi, lampu-lampu jalanan kiranya masih menyala kala itu, sehingga paras pucat perempuan itu sempat tertangkap meski tidak terlalu jelas lantaran cahaya lampu terhalang ranting akasia. Hujan sudah selesai, tetapi udara tentu saja sangat dingin. Tanpa hujan pun udara malam tetap dingin, bukan? Maafkan kalau aku kelihatan sok tahu, kawan. Kau tentu boleh tak setuju dengan bermacam ungkapan atau perumpamaan yang kubuat dalam menceritakan semua ini. Ia meletakkan bokongnya di bangku halte dengan cemas yang deras menggerayangi perasaannya. Jemari tangannya yang lentik terawat meremas-remas sapu tangan basah yang digunakan untuk menyeka wajah dan rambutnya. Sebuah tas kecil terbuat dari kulit berwarna coklat talinya masih nyangkol di bahu, dikempit ketiaknya. Kopor hitam didekap kedua lututnya yang gemetar. Cahaya temaram menyembunyikan tubuhnya yang menggigil dibungkus jaket dan kaus hitam ketat. Kecemasan makin deras, sukar dibendung. Ia sering mengalami kecemasan. Tapi kali ini baru dialami sepanjang hidupnya.Ia urung membakar sisa rokok yang tinggal sebatang-batangnya. Dimasukkannya kembali rokok itu ke dalam saku jaket. Taksi yang diharapkan lewat dan membawanya pergi dari tempat itu tak juga muncul. Udara dingin terasa semakin menghisap tenaga dan denyut nadinya serupa terik matahari menghisap embun di pagi hari. Ia meraba dadanya, seakan mengukur kemampuannya bertahan. Di langit bulan direnggut lapisan awan tebal. Sisa hujan menggenang di jalan berlubang, sesekali berkilau tersiram cahaya lampu. Tak ada suara angin atau gonggongan anjing. Hanya sesekali, lamat, suara kersik daun kering yang putus dari tangkainya melayang tenang sebelum hinggap di badan jalan yang betul-betul lengang seperti kuburan. Ia mengutuk peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Bukan hanya rentetan peristiwa yang beberapa jam lalu dilewatinya. Melainkan terutama peristiwa yang dialami masa kanak dan remajanya yang singkat dan muram. Ia meremas sapu tangan seakan meremas kecemasan yang terus menjalar dan menggerogoti lapis demi lapis ketegaran yang sekian lama dipupuknya. Dengan ragu-ragu dirogohnya saku jaket, mencari-cari rokok yang tadi tak jadi disulut. Ujung jemarinya menyentuh tembakau yang terburai dari kertasnya yang koyak karena gesekan dan saku jaket yang lembab. Dibakarnya batang rokok yang koyak separuh, lantas disedotnya setengah hati. Ia membuang ludah yang terasa pahit di lidahnya. Tenggorokannya bagai terbakar, panas dan perih. Di telinganya suara nyamuk berdenging, menggigit kulitnya yang halus dan masih menyisakan harum. Tak ada kunang-kunang, membuat malam sungguh-sungguh kelam.Pandangannya terus menyorot ke kanan sampai lehernya pegal; arah dari mana dirinya muncul tersaruk menyeret kopor. Ketegangan menyerang tubuhnya. Ia merasakan urat-urat lehernya menegang dan kaku. Taksi yang ditunggunya tak pernah muncul. Jalan itu memang tak dilintasi taksi apalagi di malam sepi dan dingin sehabis hujan seperti itu. Ia lupa, bahkan ojek pun tak berani melintas di sana. Baru kali ini ia linglung dan kehilangan akal apa yang harus diperbuatnya. Ia mengetatkan dan menaikkan kerah jaketnya mencoba menghalau dingin. Tapi dingin tak bisa dihalau, ia telah bersekutu dengan malam dan sepi, mengundang kenangan yang berdiam dalam ingatannya. Ia serasa mendengar umpatan papa. Mendengar jeritan mama dan Ning, kakak sulungnya. Mereka berkelebatan mengurung matanya ke mana pun dibenturkan. Ia tidak pernah menemukan tempat yang benar-benar mampu menjauhkan ingatannya dari mereka dan seluruh peristiwa yang membuatnya membenci mereka. Mama dan papa seingatnya tak pernah bertemu kecuali untuk saling menumpahkan caci maki. Tak pernah dilihatnya mereka duduk bersama, bercengkerama, apalagi secara mesra mengulurkan tangan untuk dicium saat dirinya berangkat sekolah.Ia dapat mendengar dengan jelas suara tangan papa menggampar pipi mama disertai bentakan, lantas lengkingan mama yang membuatnya terhenyak malam-malam. Disusul denting gelas dan cangkir beterbangan menghantam dinding. Kakak Ning tak pernah pulang kecuali dalam keadaan mabuk dan dipeluk seorang perempuan seusia mama. Mereka berdekapan sepanjang malam dengan pakaian separuh tanggal sambil mendesiskan suara-suara yang membuatnya mau muntah. Ia sendiri menggigil di balik pintu kamarnya. Adiknya, Riko, yang menderita autis pulas dalam pelukan tante Noah di kamar.Ia tahu, Rikolah yang menjadi pangkal pertengkaran mereka. Papa menuduh Riko anak hasil perselingkuhan mama dengan pemuda-pemuda yang suka nongkrong di mall; bukan anak dari benihnya. Sebaliknya, mama yakin papa yang sering keluyuran malam dan bergonta-ganti pasangan yang menyebabkan Riko terlahir cacat. Batang rokok terakhir sudah habis. Puntungnya yang masih mengepulkan asap tanpa sadar diremasnya. Sesaat ia menjerit dan terperanjat karena panas. Perlahan udara bergerak dari arah selatan tanpa suara. Wajahnya menegang lagi seperti ada anak-anak yang menariknya. Suasana makin hening. Gemeretak giginya terdengar nyaring. Ia melepas tas dari pundaknya kemudian dipeluknya. Meletakkan pipi di atasnya.Seperti yang dilakukannya saat hatinya tiba-tiba perih direnggut rindu pada mama. "Kamu kenapa, Revi?" tanya teman laki-lakinya melihat ia murung."Tidak apa-apa, Roni," jawabnya seraya menatap mata laki-laki itu. "Kamu masih tak mempercayai aku? Hmm.""Tidak. Kamu jangan sentimentil, Roni."Mereka sudah cukup lama berhubungan. Ia tidak pernah mencintai seseorang seperti ia mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang mula-mula menyerahkan penanganan urusan rambutnya. Laki-laki itu ketagihan pijatannya yang enak. Pelayanannya yang serba lembut dan menyentuh membuatnya berlangganan setiap pekan. Tentu tidak terbatas pada urusan rambut, melainkan juga perawatan kulit dan wajah. Pria metroseksual, kata orang-orang. Ia suka menatap lekat-lekat rahangnya yang kukuh, dagunya yang selalu kebiruan. Ia terpesona pada gaya bicara dan terutama suaranya yang basah dan terdengar mendesah. Maka usai dengan urusan rambut, biasanya laki-laki itu berlama-lama duduk di sana sampai malam larut oleh embun, mengobrolkan entah apa dengannya. "Kenapa kamu memilih hidup seperti ini?" demikian laki-laki itu pernah bertanya. "Kenapa?" perempuan itu balik bertanya."Pengin dengar ceritanya.""Buat apa?" "Namamu bagus.""Ah.""Bukan nama pemberian orang tuamu, kukira."Obrolan-obrolan serupa berlanjut terus setiap laki-laki itu datang. Berceritalah dia tentang kebenciannya pada mama, papa, dan Kak Ning, juga rasa iba terkira pada kondisi Riko. Tetapi terutama pada peristiwa demi peristiwa yang membuatnya membenci mereka semua. "Itu yang membuat kamu memilih begini?"Perempuan itu tak menjawab. Ia teringat pada keputusan besarnya: mengkastrasi kelaminnya, mengubahnya menjadi vagina. Ia yakin benar kekeliruan itu harus diluruskan, bukan karena kebenciannya pada papa, mama dan Kak Ning yang entah sudah mati atau masih gentayangan entah di mana. "Apakah salah."Laki-laki itu tidak menjawab. Ia sendiri tak merasa memerlukan jawaban sebagimana ia juga tidak perlu tahu sungguhkah Roni mencintainya? Disimpan saja keraguannya itu. Ia berharap Roni sungguh-sungguh. "Aku laki-laki, bukankah kamu perempuan?" ujar laki-laki itu seakan mengerti perasaannya."Hmm, aku gembira. Tapi tidakkah ini …"Ia menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan debu puntung rokok. Menelan ludahnya yang panas bagai lahar membakar lidah dan tenggorokan. Langit makin pekat. Selembar daun akasia jatuh tepat di pangkuannya. Seekor kucing tiba-tiba mendekat dan menyentuh-nyentuhkan tubuh ke kakinya. Di langit lapisan awan tebal tak menyisakan kerlip gemintang. Kenangan pelariannya dari rumah dengan mencuri semua perhiasan mama mendadak membayang lebih jelas. Seperti baru kemarin dia meninggalkan rumah yang dikutuknya bagai kamp penyiksaan bagi jiwanya. Dengan percaya diri ia menjual semua perhiasan mama untuk menyewa ruko dan memulai usaha membuka salon. Ia adalah seorang yang ulet, terbukti salon yang dikelolanya tak pernah sepi pelanggan. Ia tidak perlu menjadi pengamen atau berdiri malam-malam di perempatan jalan menunggu mangsa; seperti kebanyakan kawan-kawannya. Rupanya mama masih hidup, ia mendengar kabar mama masuk rumah sakit. Perempuan itu tak mengenalinya ketika ia menjenguknya di rumah sakit. Wajah mama nampak begitu pucat dan renta. "Siapa kamu?" tanya tante Noah yang menjaga mama. Ia tak merasa perlu menjelaskan dirinya. Ia hanya berkata supaya mama dijaga, lantas pergi meninggalkan sekeranjang bunga dan buah-buahan. Sayup-sayup ia mendengar teriakan tante Noah memanggilnya, "Rava, Rava…" Sesunggguhnya ia ingin menghentikan langkah dan berbalik menemui mereka. Tapi keberaniannya tiba-tiba menguap entah ke mana.Ia menelan ludah. Lamat didengarnya suara roda gerobak bakso yang didorong tergesa. Ia menggeser duduknya, mengangkat wajah melihat tukang bakso makin mendekat, dan melintas tanpa menoleh ke arahnya.Bertahun-tahun ia tak pernah pulang. Berusaha melupakan mama, papa, Kak Ning , Riko dan semua impitan peristiwa masa kanaknya. Namun sering gagal. Semuanya selalu menguntit ingatannya. Setahun setelah peristiwa di rumah sakit, ia mendengar kabar mama meninggal. Kak Ning mengalami stres berkepanjangan, dan Riko dibuang tante Noah ke rumah panti anak-anak cacat. Papa entah ke mana.Ia memejamkan matanya, berusaha membebaskan diri impitan ingatannya. Tetapi peristiwa lain yang menyeretnya ke tempat ini menyerbu kepalanya. Ia mendengar kabar perselingkuhan Roni dengan penari bar. Santi, karyawan setianya yang mengatakan kabar itu. Ia mendatangi hotel tempat mereka kencan. Setelah berdebat cukup alot, dengan berbelit resepsionis hotel itu memberi tahu nomor kamar mereka. Perasaannya berdebar kencang saat memijit tombol lift. Di kamar yang dituju ia hanya mendapati seorang perempuan. Beberapa lama terjadi perang mulut. Ia sempat menampar perempuan itu. Ia ingin menuntaskan kegeramannya dengan melempar perempuan itu melalui jendela. Tapi itu tak dilakukannya, ia masih bisa menahan diri. Sebelum membanting pintu, ia mengakhiri pertengkaran dengan meletakkan mata belati yang berkilat di dada perempuan itu sambil membisikkan ancaman, "Lupakan Roni, atau ujung belati ini merobek jantungmu." Ia melangkah pelan menyusuri karpet lorong hotel, berusaha tidak menimbulkan suara. Tiba di salonnya, ia melihat Roni sudah berdiri di sana sambil berkacak pinggang."Mulai malam ini, jangan campuri urusanku, waria haram jadah!"Peristiwa berikutnya berlangsung begitu cepat. Ia menyeret laki-laki itu ke kamar, lalu dibantingnya di sana. Laki-laki itu dengan cepat bangkit menjambak rambutnya, mencekiknya, menampar kedua pipinya sangat keras, sampai bibirnya pecah. Ia limbung beberapa saat, kemudian meraih gunting di meja hias dan menusukkannya berkali-kali ke dada laki-laki itu. Setelah menyeka muncratan darah di mukanya, ia meraih pedang panjang yang selama ini menjadi hiasan di dinding. Dengan kalap memotong-motong mayat lelaki itu menjadi beberapa bagian. Malam sudah melewati separuh perjalanannya. Perempuan itu masih di duduk di bangku halte. Mengutuk perasaannya sendiri yang begitu sentimentil. Kini ia teringat Santi. Ia memintanya tidak mengikuti dirinya. "Pergilah, Santi, jangan ikuti aku. Bawalah uang ini untuk bekal. Pergilah sejauh-jauhnya dari kota ini. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Biar aku pergi menyusuri jalan ini sendiri. Sebab aku belum tahu tempat mana yang akan kutuju."Hatinya bagai teriris melihat punggung karyawan setianya itu pergi membawa tangisnya yang mencekam. Hujan turun lagi. Tiba-tiba ia merasa dirinya begitu tua, lelah dan teraniaya. Kepalanya tak kuat lagi disesaki peristiwa demi peristiwa penuh kepalsuan. Tak sanggup lagi membayangkan keluarga bahagia. Menata rambut para pelanggannya yang setia. Hidupnya terlalu sesak dengan keperihan, tak ada tempat bahkan untuk kisah cinta yang paling iseng dan sederhana. Maka tak ada lagi alasan untuk pergi dari situ. Begitu ia akhirnya memutuskan. Biarlah besok sekawanan polisi menggiringnya ke penjara.***&lt;br /&gt;Balai Budaya Tangerang, 7 Juli 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112628097256777681?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112628097256777681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112628097256777681' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628097256777681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628097256777681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/09/sebuah-jalan-cerpen-aris-kurniawan.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112628083700723715</id><published>2005-09-09T08:43:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T08:47:17.016-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Perempuan Berwajah Kabut  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Cerpen: Otto Sukatno  &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sumber: Kedaulatan Rakyat,  Edisi 08/28/2005  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SEPI, jengah, suntuk dan galau, barangkali itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana batin perasaan perempuan berwajah kabut itu. Wajahnya parau, mengangkat orange juice, yang beberapa saat disediakan pembantunya. Menenggaknya pelan, kering kerongkongannya sedikit terasa dingin. Meski belum sanggup menghapus perasaan hatinya yang galau dan gelisah. Senja baru saja turun. Matahari telah padam. Namun masih membersitkan cahaya warna merah pelangi candik ayu di garis cakrawala. Tatapan matanya kosong, jauh ke depan. Arakan ombak yang bergumpal dan memecah itu sungguh sangat indah bagi jiwa-jiwa yang bahagia, ketika diterpa cahaya candik ayu itu. Misal bagi sepasang remaja yang sedang memadu kasih. Mereka seperti dihadapkan pada bayangan indah mahligai cinta yang bahagia yang bakal diarungi di hari tua, sambil memandangi anak-anaknya yang ceria berkejaran, bercanda, bersendau gurau memainkan pucuk-pucuk ombak itu. Ah sungguh bahagia!Tetapi gumpalan dan pecahan ombak yang tersaput cahaya candik ayu indah, bagi perempuan berwajah kabut itu, justru dirasakan sebagai panah-panah api yang bergetar, siap membidik jantung hatinya. Panas dan nyeri. Seperti duri yang nyangkut di kerongkongan. Seperti luka baru yang digarami. Ia baru merasakan hal itu, hari pertama sejak ia memutuskan pensiun dari badan amal. Sebuah lembaga sosial nirlaba yang dipimpinnya selama ini. Tentu saja, sebab pada hari-hari biasanya, ia tak sempat menikmati hamparan laut luas yang terlihat jelas dari lantai dua teras villanya diperbukitan itu. Villa mungil bergaya Greco Roman dengan cat putih bersih itu, memang hampir setiap hari memeram tubuh dan peluh penat malam-malamnya. Tetapi karena tubuhnya terasa sangat capek, habis kerja seharian — metting, lobying sana-sini, kunjungan ke lokasi bencana, mengatur penyaluran dana-dana sosial, mempersiapkan administrasi, mempersiapkan slip-slip gaji bulanan karyawan, sesekali membuat release badan amalnya untuk penerbitan media massa atau menerima wawancara wartawan dari perbagai penerbitan lokal maupun luar negeri. Bahkan hampir-hampir makan siang pun sering dijalani di dalam mobil BMW merah jambu yang setia dijalankan oleh sopir pribadinya yang sudah tua - semuanya telah menelan seluruh hari-hari dan waktunya. Sehingga sesampainya di villanya, paling-paling ia akan merendam tubuhnya lama-lama atau menikmati spa sambil mendengarkan musik klasik karya-karya Mozart dari CD atau DVD kesukaannya. Selebihnya setelah badannya benar-benar relaks dan mengisi perutnya dengan chiken pinger’s, sepotong apel New Zeland dan menenggak orange juice, ia akan merapikan ruang pribadinya. Mempersiapkan peralatan dan jadwal esok harinya, dan kemudian menutupnya dengan membaca-baca kecil sampai ketiduran.Tetapi setelah pensiun? Ia sering terlihat berlama-lama menikmati hamparan laut lepas itu hingga senja bahkan malam mengurung di teras villa itu. Hingga kantuk menutup kesadarannya. Sungguh ia tidak memikirkan masak-masak bahwa pilihannya untuk pensiun adalah pilihan yang tepat. Jiwanya benar-benar dibuat shock.Duduk jengah di kursi malas. Semilir angin menyibak gaun malamnya. Pahanya yang masih nampak putih bersih terpajang. Cepat-cepat tangannya yag lentik meski sudah gemetaran segera menutupinya. Malu? Bukan, ia hanya merasakan angin senja yang dingin, kini menjadi sering kurang bersahabat kepada tubuhnya. Sesekali menggigil kram dan kejang-kejang dan batuk-batuk kecil. Dokter menyarankan ia memang harus banyak istirahat. Tetapi karena patuhnya atas saran dokter itu pula, justru ia kian merasa hari-hari telah benar-benar tua, lelah, sepi, jengah, gundah dan tak bermakna, ketimbang ketika ia masih aktif dahulu.***PILIHANNYA untuk melajang seumur hidup, dahulu adalah kemenangan dari idealisme anak muda. Sebuah kemerdekaan atas kungkungan tradisi dan tuntutan sosial. Tetapi kini baru menyadari, pesan dan desakan orang tuanya, agar ia segera menikah. Meski saran, desakan itu tak digubrisnya. Itulah kemenangan, kemerdekaan. Menjadi perempuan toh bisa hidup mandiri. Tak harus tergantung laki-laki. Resah gelisah birahi, bisa ditenangkan dengan kerja atau kalau perlu dengan alat-alat bantu, Sexshop bertebar, apa masalahnya?‘’Aku tidak rela, perempuan harus paling banyak berkurban. Mengandung, melahirkan yang sungguh sangat menyakitkan. Katanya lebih sakit dari seluruh sakit yang pernah diderita anak manusia!’’ Katanya jengkel dan jengah mengajukan argumentasi penolakannya pada laki-laki yang berganti dan berkali-kali melamarnya.‘’Lelaki maunya enak sendiri. Setelah menyelesaikan hajadnya, mencari puncak tertinggi, plong dan kelar. Tidur pulas mendengkur. Tak ada lagi yang perlu dirisau dan pikirkan. Tak juga ada risiko dan akibat yang ditanggungnya! Tak juga direcoki datang bulan yang merisaukan. Appologinya, kami kerja, kami mencukupi kebutuhan anda. Klise! Apakah perempuan tak bisa kerja dan mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri!’’‘’Tapi ini garis ketentuan Tuhan...!’’ Jawab lelaki itu meyakinkan.‘’Ah, Tuhan...? Jangan kau alihkan masalah prinsip ini dengan hal-hal di luar nalar. Aku percaya kepada Tuhan, justru itulah aku ingin membuktikan, bahwa perempuan juga bisa seperti laki-laki. Perempuan juga bisa hidup mandiri’’. Ia terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu. ‘’Nah, aku faham, pasti Tuhan itu laki-laki, sehingga tidak adil pada perempuan!’’.‘’Sudahlah, kalau tidak mau ya sudah. Jangan singgung-singgung keadilan Tuhan segala, Pamali!’’ Jawab lelaki itu ngeloyor pergi dengan tangan hampa.‘’Baik, justru itulah aku ingin membuktikan!’’ Katanya mantap. Dalam hati kecilnya ia sesungguhnya menyimpan rasa pada lelaki itu. Tetapi prinsip telanjur lebih kuat menguasai dirinya. Serta ia tidak mau direcoki dengan hal-hal yang katanya menjadi kodrat perempuan itu. Selain itu perdebatan demi perdebatan itu, kian menggenapinya.Kini di hari tua, ia kembali teringat prinsipnya itu. Bukan menyesali. Tetapi ia bangga. Bahwa ia memang bisa. Dan ia telah membuktikannya. Jauh lebih berani ketimbang Kartini. Namun pada saat itu, tiba-tiba dari bibirnya yang membiru, bergetar beberapa kata puitis, ketika gerimis jatuh satu persatu. //Hujan, resah senja meneteskan air matanya/ Wajahnya buram dipagut waktu, kabut dan hari tua/ Anak sungai menggores keningnya mengingatkan pelayaran yang begitu jauh sudah/ Dan tahi lalat, kerikil hitam tersembul di sudut matanya, saksi, beratnya perjalanan/ Matanya cekung bolong, cakrawala begitu dekat/ Matahari hampir padam/ Namun seulas senyum masih menghiasi bibirnya/ Kisut menghitam. Waktu begitu putih terasa abadi//***SELESAI mengakhiri goresan pena itu, seakan ia tersadar dari mimpinya. Ia terjaga demi melihat seluruh kekayaan dan kemewahan yang telah dikumpulkannya selama ini. Tiba-tiba dalam hatinya terbetik pertanyaan. ‘’Ini semua untuk apa dan untuk siapa?’’.Dengan sadar sepenuh hati, ia kumpulkan seluruh kekayaan dan kemewahan yang ia miliki, ada emas, intan, berlian dan aneka barang berharga lainnya. Dan dengan sadar dan sepenuh hati, ia larung barang-barang itu di tengah lautan sambil berucap bangga sekaligus parau ‘’Setidaknya aku (perempuan) telah membuktikan!’’.Yang tersisa tinggal rekening Bank, BMW merah jambu yang dihibahkan kepada sopirnya sebagai gaji terakhirnya, serta sebuah villa yang dipersiapkan untuk kuburannya!. q-oYogyakarta, April 2005..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112628083700723715?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112628083700723715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112628083700723715' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628083700723715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112628083700723715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/09/perempuan-berwajah-kabut-cerpen-otto.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112445790015782023</id><published>2005-08-19T06:05:00.000-07:00</published><updated>2005-09-08T03:06:26.710-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.visualtext.nl/bandung/images/jlbraga1.jpg"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://www.visualtext.nl/bandung/images/jlbraga1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sepanjang Braga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerpen: Kurnia Effendi Sumber: Koran Tempo, Edisi 04/08/2001&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PERASAANKU dibungkus kesunyian luar biasa. Dua jam termangu dalam kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat minyak. Ada jendela terbuka ke arah sungai, tempat mengalir udara segar. Termasuk suara belalang dan kerisik bunga rumput. Hanya pada bidang itu, aku tak bisa melukis apa pun. Di seberangnya terdapat langit, yang mudah berubah rona. Hijau daun, merah senja, atau sesekali lintasan burung. Tapi sejak pameran terakhir, jendela itu belum menyumbangkan kegairahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah harus menyesal, ketika mendapatkanmu di ruang pameran? Mula-mula yang kulihat adalah punggungmu. Engkau memandang lukisan yang mungkin menyemburkan sejumlah episode masa lalu, tentang hubungan kita yang lebih banyak melalui surat. Separuh dari kenangan itu masih tersimpan, untuk sewaktu-waktu kubaca ulang. Sebagian yang lain menjadi lukisan dalam berbagai ukuran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Aku senang kamu sempat datang," &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kamu menoleh dan memandang dengan rasa bersalah. Seakan-akan perlu undangan resmi, dan ditegur karena berada di tempat yang ? barangkali ? mustahil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Galeri Soemardja memang kecil. Dalam sekejap bisa kulihat semua yang hadir hanya dengan memutar kepala. Mereka bukan orang asing. Beberapa dosen, mahasiswa senirupa, dan kawan-kawan yang selama ini demikian dekat. Sehingga tentu segera kukenali dirimu, bahkan hanya dengan hembusan parfummu. Sesuatu yang tak berubah sejak bertemu muka, sekitar lima atau enam tahun lalu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kau memang tidak mengundangku," katamu, tidak tampak kaget. Kita bergenggaman tangan. Berjuta bingkai diorama berputar. Gambar yang meloncat-loncat. Sejak Braga Permai, Concurrent Jewelery, Kafe Datumuseng, Pantai Losari, Somba Opu, sampai Benteng Fort Rotterdam? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Padahal, ini hampir semua tentang kamu." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Engkau menghela nafas panjang. "Aku tahu. Tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat buatku." Kamu seperti ingin menghindar. Mengkhawatirkan sesuatu. Aku pun merasa tak bisa berbuat banyak, meski segera kutangkap tanganmu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kita harus merayakan pertemuan?"&lt;br /&gt;"Maaf, Mas, ini pasti di luar perkiraanmu. Mungkin lebih baik?"&lt;br /&gt;"Please," kuperkeras genggamanku. "Kau bahkan belum memberitahu kapan datang dan di mana menginap." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa kawan muncul silih-berganti, menjabat tangan, mengucapkan selamat. Ini memang hari pertama pameran "Sepanjang Braga" dibuka. Tema yang seharusnya kukonfirmasi kepadamu. Tapi aku bimbang. Hal-hal yang menyangkut perempuan lain bisa jadi aneh dan mengerikan untuk dibahas. Apalagi tentang pelukis dan pecinta lukisan. Aku hampir tak membicarakan dengan isteriku. Padahal perasaanku santai saja jika sesekali kugambar model perempuan telanjang di studio. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Sepanjang Braga," kau bergumam begitu aku terbebas dari kawan-kawan. Kilatan cahaya blitz kadang-kadang melampaui kepala kita. Seperti benderang lampu petir yang mengerjap di langit petang, saat kita diguyur gerimis di Jalan Braga. Saat itu, di antara kita belum ada siapa pun. Andaikata dada kita transparan, mungkin terlihat kembang api jingga setiap kita bicara. Karena yang terlompat dari mulut, meski terdengar seperti perdebatan, adalah upaya saling menggosok batu api. Sejak itu, setelah komunikasi terdiri atas berlembar-lembar surat, tumbuh perasaan saling menyayangi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Aku akan datang ke tempatmu, apakah nanti malam punya waktu?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kau tersenyum. Seperti menyindir. Tapi juga menyiratkan kebijaksanaan. "Seharusnya aku yang tanya, apakah kau punya waktu? Kau tahu, aku belum terikat siapa pun. Setidaknya sampai hari ini. Tapi, it?s okay, kau bisa telepon dulu. Aku menginap dekat Dago Tea House." Kau memberiku sebuah kartu nama guest house.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejak kutulis tentang Chiara, dulu, muncul nuansa lain dalam hubungan kita. Aku merasa: ada seseorang yang juga dekat denganmu. Meskipun tidak kauceritakan, kecuali ketika putus menjelang tunangan, justru setelah aku menikah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Aku jatuh hati sejak pandangan pertama," demikian suratku. "Ia seorang pembaca puisi, pasti memiliki apresiasi yang kuat tentang seni. Beberapa kali kukirimi sketsa, tapi tidak tahu apakah dipasang di kamarnya?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Waktu ngoceh seperti itu, aku lupa, bagaimana perasaanmu? Seolah-olah engkau ibuku. Terlebih ketika nada suratmu biasa-biasa saja. Bahkan mendorong untuk meraih setiap harapan. "Memang sudah waktunya, Mas. Kudoakan semoga berhasil. Aku yakin, dia pasti cantik." Cantik memang relatif, seperti halnya lukisan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kabarku masih terkirim dengan rentang makin panjang. Lantas lama tidak bertukar kabar. Saat itulah aku kembali suka berjalan-jalan di sepanjang Braga. Tidak dengan Chiara. Seringkali justru bersama Acep Zamzam Noor, Diyanto, atau Tia Lesmana dan Soni Farid Maulana. Di tempat itu, juga di tempat lain, aku ingat kau. Ingat pertemuan yang hanya beberapa hari tapi bagai berbulan-bulan. Ditemani gerimis, jarum air yang menabur rambut kita, dan cahaya senja yang memantul dari dinding pertokoan Braga. Kita pernah berteduh di Majestic, menertawakan pasangan yang mencuri kesempatan dalam gelap bioskop. Rasanya percakapan kita sangat berbeda. Aku suka marah oleh kritikanmu. Belakangan kusadari, semua itu membentuk kekuatan goresan, karakter yang kini dibicarakan banyak orang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Bagaimana kabar Baby?" Pertanyaanmu membuyarkan lamunan.&lt;br /&gt;"Oh, ia mulai sekolah. Kelas bermain."&lt;br /&gt;"Aku masih menyimpan fotonya waktu bayi. Hampir tiga tahun lalu. Betapa bahagianya Chiara. Apakah ia masih sibuk dengan jasa-boganya?"&lt;br /&gt;"Ya, apalagi ini musim menikah. Sementara kau masih sendiri, sejak berpisah dengan pemuda dari bursa effek." Aku mengambil dua cangkir teh. Kita minum sambil berdiri.&lt;br /&gt;"Bukan keinginanku. Tapi mudah-mudahan itu yang terakhir." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terkadang aku kagum padamu, karena tidak serapuh dugaanku. Waktu kau ceritakan patah hati yang pertama, tersirat ungkapan syukur. Sambil menikmati pisang epek di pantai Losari, kita berbagi kisah. Ada semacam keajaiban. Setelah lama saling bersurat, kegiatan budaya mempertemukan kita di Bandung. Catatanmu yang melukai perasaan di buku tamu pameran lukisan, telah memaksaku terbang ke Ujungpandang. Begitu tiba di teras rumahmu, pertanyaan pertama yang muncul adalah: "Bagaimana kabar Braga?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Aku sedang menggarap semacam proyek tentang Braga. Rasanya tak akan sempurna tanpa diskusi denganmu." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kini, seratus lukisan telah selesai. Seperti yang kujanjikan pada diri sendiri. Hanya Chiara dan Baby yang jadi saksi prosesnya. Atau satu-dua kawan dekat. Aku memang mengerjakannya setengah diam-diam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Oke, aku pulang dulu," katamu, sambil mengambil selembar katalog dan memasukkan ke dalam saku blazer.&lt;br /&gt;"Tidak mengikuti diskusi? Pak Pirous dan Bang Hardi yang bicara." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kamu menggeleng. "Aku banyak urusan," tersenyum dan pergi menjauh. "Jangan lupa, telepon dulu." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kulambaikan tangan, sebelum bergabung dengan peserta diskusi di ruang Bulu Domba. Seorang moderator mendekat, mengkonfirmasi biodata. Sepuluh menit kemudian acara berlangsung, dan baru berakhir pukul dua. Semalam aku hanya tidur sekitar tiga jam. Akumulasi keletihan itu sangat terasa begitu sampai di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rupanya aku menyimpang dari perjanjian. Selepas petang kukatakan pada Chiara: seorang wartawan asing ingin berjumpa di Dago Tea House. Aku langsung melaju ke penginapanmu. Di ruang tamu yang temaram, kau main piano sendirian. Baru kali ini, sepanjang kita kenal, kulihat kau mengenakan baju tidur warna pastel. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kenapa tidak telepon dulu, Mas?" tanganmu terangkat dari tuts piano.&lt;br /&gt;"Apa bedanya? Toh kau ada di tempat." Aku membanting diri di sofa.&lt;br /&gt;"Kita mau bicara di sini atau di kamar?"&lt;br /&gt;"Apa bedanya? Yang penting isi pembicaraannya, bukan tempatnya." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi sebuah dorongan bawah sadar membawa langkahku ke dalam kamar. Kau hendak ganti baju yang pantas untuk menerima tamu. Namun peristiwa yang berlangsung kemudian berbeda. Sangat berbeda. Sungguh di luar seluruh pikiran-pikiran kita selama ini. Ke mana jalinan persahabatan itu? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mungkin ini percintaan paling panas. Kita bagai berenang di antara ombak biru, di bawah matahari tropik, dengan angin pesisir yang berarak-arak. Pulau yang ditempuh masih jauh di ujung cakrawala. Timbul-terbenam, diayun buih samudera. Kita memburu dan mengejarnya, ingin meraih. Namun perjalanan bagai tak hendak selesai sampai nyaris tenggelam, dan tiba-tiba kudengar lengking panjang. Kutangkap tanganmu, matamu terpejam dengan kelopak bibir terbuka, tersenyum. Wajahku terasa hangat dan basah kuyup?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tangis itu terdengar lagi. Tapi bukan dari mulutmu. Suara itu dekat dengan telinga, membuatku terjaga. Aku terperanjat menangkap warna-warni lukisan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ya Tuhan, ini mimpi! Tapi wajahku benar-benar basah dan hangat. Dalam keremangan senja, celah jendela memberikan sedikit cahaya. Kulihat Baby terisak dengan mata masih terpejam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anakku ngompol! Kucoba mengingat asal-usul kejadian ini. Ya. Keletihan membuat aku tergeletak di atas karpet ? satu-satunya tempat dalam studio yang bebas tetesan cat. Sebelum lelap, Baby memanggilku, mendekat dan berbaring dekat kepala. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Astaga, jam berapa ini? Aku punya janji denganmu! Apa yang baru kita lakukan dalam mimpi? Kugunakan T-shirt untuk mengusap pipis Baby di wajah, sebelum kubangunkan dia. "Kenapa ngompol lagi, sayang? Ayo kita mandi." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kulihat Chiara sedang menerima telepon di ruang tengah. Ia memberi isyarat dengan tangannya. Aku mendekat. "Ada seorang kolektor Filipina hendak memborong semua lukisanmu. Mau langsung bicara dengannya?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kesadaranku belum pulih benar. Tapi ini mengejutkan. Sekaligus terdengar mustahil, seperti mimpi yang baru saja berakhir. "Aku akan menelepon kembali, minta nomornya. Lihat! Baby ngompol." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Chiara tertawa sebelum memasang kembali gagang telepon ke telinganya. Sepanjang siraman air shower, berdua Baby, aku belajar percaya kabar aneh itu. Seorang kolektor memborong seluruh koleksi "Sepanjang Braga"! Apa katamu nanti? Chiara seharusnya tidak hanya berunding denganku, tapi juga denganmu. Tapi, apa itu mungkin?&lt;br /&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MALAM telah larut ketika akhirnya aku menemukan suaramu di telepon penginapan. "Ke mana saja?" Aku kesal. Tapi bukan hakku untuk memintamu tetap berada di tempat yang aku mau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sorry, Mas. Seseorang mendadak mengajak makan malam. Aku memang tidak menelepon, karena satu dan lain hal. Aku ingin bahagia, seperti juga kau, Mas. Dan kebahagiaan kita tidak perlu mengganggu kebahagiaan orang lain."&lt;br /&gt;"Aku mencarimu. Pertama, karena janji tadi siang. Tapi ada yang lebih penting. Seluruh lukisan "Sepanjang Braga" dibeli seorang kolektor. Aku? aku bahkan belum pernah mengenal orang itu."&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Aku harus minta ijinmu. Sebelum kupikir bahwa ini sesuatu yang hampir tidak masuk akal. Koleksi itu seharusnya tidak pernah dijual."&lt;br /&gt;"Itu tidak rasional, Mas. Apa kata Chiara nanti?" Benar katamu. Jika seratus lukisan itu hanya untuk disimpan, akan menimbulkan pertanyaan dan layak diusut. Berapa puluh juta rupiah investasi dan waktu yang tertimbun di dalamnya?&lt;br /&gt;"Ini memang pilihan yang sulit." Aku mengeluh.&lt;br /&gt;"Tapi, benarkah kau hendak meminta ijinku?" tanyamu untuk meyakinkan.&lt;br /&gt;"Tentu. Aku tak ingin melakukan kesalahan dua kali."&lt;br /&gt;"Jangan merasa bersalah, karena memang tidak bersalah."&lt;br /&gt;"Setelah seratus lukisan itu terjual, aku mungkin tak punya lagi kenang-kenangan itu. Cobalah mengerti perasaanku."&lt;br /&gt;"Aku sangat mengerti perasaanmu, Mas. Pertanyanku, benarkah kau meminta ijinku?" tanyamu manja.&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;"Aku seratus persen mengijinkan, Mas. Aku tak keberatan kau menjual semuanya. Tapi sebaiknya kau bertemu dengan pembelinya, sebelum ia membawanya pergi. Pameran masih berlangsung tujuh hari lagi, bukan?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku terdiam. Bukan oleh suara gerimis di luar. Aku merasa pilu mendadak. Sangat tidak menduga, engkau merelakan nostalgi tentang kita dibawa orang. Kita tak punya apa-apa lagi. Mungkin aku menyesal telah memasang price list dalam katalog. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Mas, boleh aku tidur? Besok aku harus pulang ke Ujungpandang."&lt;br /&gt;"Secepat itu?" Aku terkesiap. Putus asa. "Aku jadi ragu. Kenapa kau?" Kupikir aku lebih cengeng dibanding perempuan mana pun di dunia. Kau, pemilik separuh kenangan, sudah tidak mempersoalkan hal-hal yang sentimentil. Mengapa aku bertahan pada ilusi yang hanya mirip guratan nama di daun kaktus? Atau pada poci keramik yang kelak retak seperti kata Goenawan Mohamad?&lt;br /&gt;"Aku minta maaf," katamu berbisik.&lt;br /&gt;"Ya," tak ada lagi yang harus dibicarakan. Kututup telepon dengan kecewa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kuhampiri Chiara yang meringkuk di ranjang. Kuletakkan badanku pada sprei yang masih rapi, telentang, memandang langit-langit. Tubuh di sampingku berbalik. Dalam ketidaksadaran ia mendesakkan wajahnya ke leherku. Dan kupeluk sebuah kenyataan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Barangkali tak pernah kupejamkan mata sampai pagi datang. Aku menjadi sedikit pendiam, namun tidak menarik perhatian Chiara. Sehabis sarapan, telepon berdering, dan Chiara mengatakan tentang kolektor Filipina itu. Aku hanya memberi anggukan, tanda setuju&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selesai bicara, wajah Chiara berseri-seri. Ia menciumku dengan hangat. "Hampir setengah milyar! Empat ratus delapan puluh enam juta, setelah dipotong PPh." Ia tidak merasakan, alangkah hancur hatiku. Tapi buat apa? Aku tidak ingin merana sendirian. "Ia bilang, nanti siang ditransfer. Lukisan akan dikemas hari Minggu, setelah penutupan. Baby?! Baby?! Ayo beri selamat kepada Ayah!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gadis kecil itu meloncat ke pangkuan. Kupeluk dia dan seolah-olah aku mendapatkan pengganti dari semua yang hilang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Chiara pamitan ke kantor, Baby berangkat ke Tadika Puri. Aku terdiam di kursi, mendengarkan rekaman Tony Prabowo. Membayangkan gelas-gelas yang ditabuhnya pecah berkeping-keping. Menggambarkan perasaanku. Aku terbius. Sampai kudengar teleponmu dari bandara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Sepuluh menit lagi aku berangkat. Sorry, aku memang tak ingin diantar. Aku tinggalkan kartupos dan undangan di receptionist galeri. Apa rencanamu hari ini, Mas?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nada suaramu menunjukkan kelegaan, bahkan kegembiraan. Sungguh ganjil, atau menyakitkan? Membuatku meradang: "Apa yang kautulis dalam kartupos itu? Banyak orang bisa membacanya!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang paling kaucemaskan pasti jika Chiara melihatnya, bukan?" Kudengar kau tertawa, di antara gemuruh suara pesawat yang landing. Aku merasa baru mengenalmu. "Aku cuma memberitahu bahwa "Sepanjang Braga" sudah jadi milikku. Seluruhnya, Mas! Feliciano membelinya untukku, sebagai maskawin, atau kami tidak menikah sama sekali. Kaget? Maaf, aku tak mungkin bilang dari awal, karena aku sulit melupakanmu. Aku hanya ingin semuanya beres, sejak kubaca berita budaya di koran. Pameran itu pasti untukku, tanpa kau memberitahu?"&lt;br /&gt;"Ya, Tuhan?" Aku terperangah.&lt;br /&gt;"Benar, itu memang kehendak Tuhan. Itulah sebabnya aku harus segera pulang ke Ujungpandang, untuk menyiapkan pesta sederhana. Aku tak boleh ingkar dan menyakiti hati Feliciano. Semua syarat telah dia penuhi." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagai ada segelas embun yang melintas ke tenggorokan. Mungkin aku benar-benar kehilangan kamu. Tapi tidak kehilangan "Sepanjang Braga". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kau sudah mempersiapkan sejak lama, bukan? Undangan pernikahan tak mungkin dibuat secepat itu." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Benar. Maksudku, undangan itu hanya berupa print-out yang kubuat di sekretariat FSRD. Kalau hal itu membuatmu tidak datang, aku mesti bilang apa? Oke, tampaknya aku harus masuk pesawat. Salam untuk Chiara dan Baby." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seminggu setelah teleponmu itu, kupasang kanvas baru. Menyiapkan semua botol cat, kuas, dan minyak pengencer. Tapi, telah dua jam aku di sini: pada sebuah kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat. Dalam keadaan ngungun. Perasaanku dibungkus kesunyian luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112445790015782023?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445790015782023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445790015782023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/08/sepanjang-bragacerpen-kurnia-effendi.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112445516842162044</id><published>2005-08-19T05:24:00.000-07:00</published><updated>2005-08-19T05:39:28.436-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://smad-ext.grc.nasa.gov/emo/pub/P2/photos/prairie-lg.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://smad-ext.grc.nasa.gov/emo/pub/P2/photos/prairie-lg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Senyum di Balik Ilalang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;div align="justify"&gt;Cerpen: Teguh Winarsho AS Sumber: Suara Karya, Edisi 07/17/2005&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;SENJA yang indah telah lama lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan. Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali menganga, menjemput resah segenap kenangan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika malam bergetar di tangan anak-anak pulang mengaji. Membawa obor. Mendekap kitab suci. Berceloteh riang sembari sesekali mencuri pandang di antara semak ilalang, pohon-pohon tua dan temaram cahaya bulan. Tapi, ah, betapa cepat semua itu berlalu. Betapa cepat waktu melesat. Membuat hidup menjadi terasa singkat seperti laju pesawat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan malam itu, mungkin empat tahun berlalu, untuk kesekian kalinya aku mimpi bertemu seorang gadis cantik yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab putihnya. Berjalan malu-malu menyibak rumput ilalang seperti menahan banyak keinginan dan harapan. Betapa sudah lama aku mendambakan dirinya menjadi pendamping hidupku, membangun keluarga sakinah, melahirkan anak-anak shaleh-shalehah. Aku kemudian kerap mengingau, memanggil-manggil namanya, meski saat terjaga yang kutemui hanya kesunyian belaka. Tanganku menggapai-gapai ruang hampa. Sementara tubuhku seolah terhempas jauh ke angkasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu, aku termenung sendiri membuka jendela menyaksikan malam: bintang, bulan dan angin yang bisu. Dan begitulah, malam kembali mengalirkan kesunyian panjang seperti lorong penjara bawah tanah. Membuat diriku perlahan-lahan hanyut dalam keasingan purba yang terasa kian jauh tak terjamah. Sejauh mata memandang hanya kegelapan dan kesunyian. Hingga dunia di mataku mendadak menjadi hitam, pekat, seperti malam yang tua dan rapuh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ya, di kamar itu, aku selalu dicekam mimpi-mimpi menakutkan pada seorang gadis yang sangat kudamba. Seorang gadis yang diam-diam pergi pada suatu malam menorehkan kesedihan. Terlalu banyak kesedihan di hatiku hingga aku tidak yakin apakah kesedihan perlu dinamai? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan, malam itu, entah untuk ke berapa kalinya, aku kembali mimpi bertemu gadis cantik itu. Ia, gadis cantik yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab putihnya. Berjalan malu-malu mendekap kitab suci, seperti mendekap rindu dalam hati. Tapi, ah, ia terasa begitu jauh untuk bisa kurengkuh.&lt;br /&gt;"Fatimah, untuk apa kamu mesti pergi ke Jakarta?"&lt;br /&gt;"Tante Uli yang menyuruhku. Katanya ada pekerjaan buatku."&lt;br /&gt;"Masih belum cukupkah setiap pagi dan sore kamu mengajar anak-anak mengaji di surau dan madrasah?"&lt;br /&gt;"Aku ingin bekerja. Aku ingin tahu Jakarta."&lt;br /&gt;"Tapi bagaimana dengan anak-anak? Siapa nanti yang akan mengajar mereka mengaji?"&lt;br /&gt;"Aku sudah janji sama Tante Uli. Aku harus berangkat ke Jakarta. Aku tak mungkin membatalkan rencana ini."&lt;br /&gt;"Apakah kamu juga tega meninggalkan diriku?"&lt;br /&gt;"Aku akan selalu menulis surat untukmu."&lt;br /&gt;"Surat?"&lt;br /&gt;"Ya. Aku akan selalu mengabarimu. Kamu tidak perlu mencemaskan diriku. Aku akan baik-baik saja." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku tidak terlalu mencemaskan dirimu. Aku cemas dengan anak-anak yang mengaji di surau dan madrasah? Kamu tega meninggalkan mereka?"&lt;br /&gt;"Suatu saat aku akan kembali untuk mereka..."&lt;br /&gt;"Kapan?"&lt;br /&gt;"Entahlah...." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ya, ya, sejak itu hampir setiap malam aku selalu mimpi bertemu gadis cantik itu. Seorang gadis cantik bersahaja yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab putihnya. Apalagi ketika hari-hari terus berlalu dan berlalu menyuguhkan rentetan kesunyian di hadapanku. Aku kembali seperti memasuki lorong panjang dan kelam. Di sana aku mencium keasingan demi keasingan. Membuat aku merasa takut setiap kali malam datang. Malam yang selalu melemparkanku pada kenangan masa silam tak berkesudahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kami tidak mau mengaji lagi kalau bukan ibu guru Fatimah yang mengajar!"&lt;br /&gt;"Ya. Kami hanya mau dengan ibu guru Fatimah?"&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Pak guru tak sepandai ibu guru Fatimah."&lt;br /&gt;"Tapi bukankah ibu guru Fatimah ada di Jakarta?"&lt;br /&gt;"Makanya, kami tak mau mengaji lagi."&lt;br /&gt;"Jangan begitu, mau jadi apa kalian nanti?"&lt;br /&gt;"Ah, masa bodoh! Kami hanya mau diajar ibu guru Fatimah."&lt;br /&gt;"Kapan lagi kalian belajar mengaji kalau tidak sekarang?"&lt;br /&gt;"Tapi kami ingin ibu guru fatimah yang mengajar. Bukan pak guru!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Besok ibu guru Fatimah akan datang ke sini. Sekarang kita belajar mengaji lagi. Ayo!"&lt;br /&gt;"Bohong! Kemarin pak guru juga bilang begitu, tapi ternyata bu guru Fatimah tidak datang. Pak guru bohong!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kepalaku tiba-tiba berdengung dan berputar seperti ada baling-baling kipas angin yang perlahan-lahan tumbuh. Tubuhku kemudian terhempas pada sebuah ketinggian. Melayang-layang mengarungi kekelaman malam. Bumi semakin jauh kutinggalkan. Jauh sekali. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan, begitulah, surau dan madrasah sepi. Anak-anak mengaji di depan layar televisi. Menghitung iklan dan lagu. Menghafal sinetron dan film yang tak bosan-bosan menawarkan kemewahan semu. Juga kekerasaan dan kebohongan. Ya, ya, kemewahan semu dan kekerasan telah menjadi serentet narasi yang tak rampung-rampung dibacakan. Terus direkam dan tumbuh berbiak subur di kepala anak-anak, seperti jamur di musim hujan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Empat tahun berlalu. Kini aku termangu di beranda surau. Menatap malam yang kian pekat, tua dan rapuh. Di langit kulihat sebuah bintang melayang tenang, cahayanya berkerlip sebentar. Saat itulah hatiku terbetik memanggil nama seseorang. Tapi sepi. Bahkan desah angin pun tak terdengar. Lalu, kuputuskan pulang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keesokan hari aku kembali ke surau. Ada banyak kenangan yang luruh di sana. Tentang suara anak-anak mengaji, senja, dan seraut wajah di balik ilalang. Ya, ya, kini aku telah duduk di beranda surau menunggu senja yang sebentar lagi bakal turun mengepakkan sayap keemasannya sambil membayangkan seorang gadis cantik yang senang menyembunyikan senyum di balik kerudung putihnya, ketika tiba-tiba di hadapanku benar-benar berdiri seorang gadis cantik mengenakan kaos dan celana jeans ketat. Rambutnya dibiarkan terurai panjang, sebagian dicat merah. Mungkin aku lupa. Tapi, ah, tidak. Tidak! Senyum gadis itu masih bisa sedikit kuingat.&lt;br /&gt;"Kapan kamu pulang, Fatimah?"&lt;br /&gt;"Kemarin. Dua hari yang lalu."&lt;br /&gt;"Syukurlah. Bagaimana kabarmu?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja...." Ada senyum tipis merekah di bibir Fatimah yang merah. Tapi tiba-tiba aku seperti berhadapan dengan orang asing.&lt;br /&gt;"Kudengar sekarang sudah tak ada lagi anak-anak yang mengaji di surau dan madrasah. Kenapa?"&lt;br /&gt;"Sejak kamu ke Jakarta, mereka tak mau mengaji lagi."&lt;br /&gt;"Tapi bukankah kamu bisa mengajar mereka?"&lt;br /&gt;"Anak-anak hanya ingin kamu yang mengajar. Mereka sangat mencintaimu, Fatimah." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Aduh, sayang sekali. Aku hanya punya waktu beberapa hari di sini. Lusa aku harus kembali ke Jakarta. Aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku. Oya, ini ada oleh-oleh buatmu, sarung, kopiah dan sajadah. Terimalah...." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Terimakasih, Fatimah. Berikan saja pada orang lain. Mungkin ada yang lebih membutuhkan...."&lt;br /&gt;"Kalau begitu aku pulang dulu. Hari sudah mulai gelap. Bapak dan Ibu tentu cemas menungguku." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kapan kamu akan kembali dan menetap di kampung ini lagi, Fatimah?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Entahlah...." Senja benar-benar telah turun bersama cahaya keemasan. Sebentar lagi malam akan tiba. Malam yang selalu menorehkan kesedihan dan keperihan. Membuat aku selalu merasa gamang dan asing. Hingga kadang aku sering tidak yakin dengan apa yang kujalani. Termasuk pertemuan dengan Fatimah barusan. Apakah semua itu masih mimpi? Tapi, ah, tidak. Tidak! Kali ini aku tidak sedang tidur dan mimpi. Samar-samar aku masih dapat melihat kelebat bayangan punggung Fatimah berjalan tergesa-gesa kian menjauh. Menjauh. Dan, hilang di tikungan jalan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku ingin mengejar Fatimah. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Tapi sayang, sebentar lagi waktu maghrib tiba. Aku harus mengumandang adzan. Aku berharap Fatimah datang ke surau, setidaknya kali ini saja. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112445516842162044?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445516842162044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445516842162044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/08/senyum-di-balik-ilalang-cerpen-teguh.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112445424016447937</id><published>2005-08-19T05:02:00.000-07:00</published><updated>2005-08-19T06:28:56.713-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.conceptdraw.com/sampletour/presenter/Animation/Butterfly.gif"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://www.conceptdraw.com/sampletour/presenter/Animation/Butterfly.gif" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kupu-kupu Bersayap Mawar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerpen: Pandapotan MT Siallagan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: Riau Pos, Edisi 07/31/2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;SEORANG lelaki bertubuh liat, sedang bersedih di kedainya yang lengang, duduk di kursi paling pojok. Matanya memandang sayu pada semburat matahari senja yang bersilangan dari arah barat. Di hadapannya, segelas kopi hangat mengepulkan uap sedap, berbaur dengan asap rokok yang nyaris memuntung di sela-sela jemarinya. Sesekali, ia menghisap dalam-dalam asap rokoknya, lalu menghempaskan nafasnya seperti ingin membebaskan beban dari dadanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Masih terkenang juga padanya, Bang?” Soada Ria, gadis cantik pelayan kedai menghampirinya. Ia melirik sekilas-lewat pada gadis itu, lalu kembali menatap matahari. Ia mendesah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Tahukah kau seberapa sakit rasa kehilangan?” katanya kepada gadis itu, tanpa menoleh. Ia melakukan hisapan terakhir pada rokoknya, dan melemparkan puntung rokoknya ke halaman, lalu menyalakan lagi batang yang baru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Soada Ria, gadis bertubuh kecil dan berambut panjang itu, menepuk pundaknya dengan sangat lembut, seperti tahu bahwa obat menyembuhkan kesedihan adalah kasih sayang. “Kehilangan,” katanya bergetar, “Adalah milik semua orang. Hidupku berwarna justru karena kehilangan demi kehilangan.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lelaki itu menatapnya, “Kupu-kupuku pernah berkata begitu,” katanya, “Kau membuatku makin sedih.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Soada Ria, gadis bermata telaga itu tak tahan memandang mata sedih lelaki itu. “Maafkan aku, Bang,” katanya, berlalu meninggalkan lelaki itu. Dan ia tidak tahu, Soada Ria menangis di bilik kedai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lelaki itu kembali larut, hanyut diseret ingatan, terkenang pada saat pertama kali bertemu dan menangkap kupu-kupunya. Persis pada saat senja seperti sekarang. Waktu itu, ia sedang asyik menghitung lembaran uang kertas yang menebal di kantongnya, uang yang diperolehnya dari judi togel. Ya, empat angka yang ditebaknya tembus sebanyak sepuluh lembar. Ia lalu mengajak teman-temannya sesama kuli berpesta, mabuk, bersenang-senang, berjalan-jalan di seluruh bandar sambil berteriak, “Hidup lelaki kuli! Hidup judi! Sejarah kuli tetap pedih, hanya layak jadi pemimpi, penjudi.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Seusai pesta yang mirip unjuk rasa itu, ia melunasi utang-utang yang menumpuk di banyak kedai, tapi uang yang tersisa masih tetap cukup banyak. Sisa uang itulah yang dihitung-hitungnya pada senja itu, ketika ia merenung hendak dikemanakan uang itu. Dan ketika ia berpikir apakah ia akan bersenang-senang dengan seorang pelacur, seekor kupu-kupu muncul menghampirinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Dapat rejeki ni yeee, bagi dong,” kata kupu-kupu. Ia tersentak. Ia menyerbu sekeliling dengan matanya kalau-kalau seseorang sedang berada di dekatnya. Tapi, tidak ada sesiapa pun selain kupu-kupu itu. Ia berpikir, ini pasti halusinasi. Bagaimana mungkin kupu-kupu bisa bicara? Ia lalu sadar bahwa sudah dua hari dua malam ia tidak tidur karena asyik bersenang-senang. Maka yakinlah ia bahwa kupu-kupu yang bicara itu hanya halusinasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tapi ia terkejut ketika didengarnya lagi sebuah suara, “Sombong sekali Anda, Tuan?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ia menoleh ke arah kupu-kupu, dan ia melihat seorang gadis cantik, tersenyum, berdiri di hadapannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Busyet, otakku tak beres, pikirnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Yah, aku memang kupu-kupu. Lihat, sayapku sangat indah,” kata perempuan itu mengepak-ngepakkan sayapnya, seperti tahu pikiran lelaki itu. Ia melihat perempuan itu berubah jadi peri, dan sayapnya mengembang seperti mawar raksasa. Aroma mawar meruap dari kibasannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Lihat, aku juga bisa terbang,” kata perempuan itu lagi sambil terbang berkitar-kitar di sekitar taman. Lalu, lelaki itu melihat mahluk di hadapannya berubah-ubah wujud mulai dari kupu-kupu, peri, perempuan cantik, lalu kembali lagi jadi kupu-kupu, peri, perempuan cantik dan seterusnya. Ia terpesona. Ia bergetar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Kau sangat indah. Sudikah kau menemaniku malam ini?” katanya kepada kupu-kupu.&lt;br /&gt;“Bukan hanya malam ini, aku bersedia menemanimu kapan pun,” kata peri.&lt;br /&gt;“Tapi aku hanya kuli.”&lt;br /&gt;“Juga penjudi.”&lt;br /&gt;“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;“Dari mana lelaki kuli bisa mendapat uang sebanyak itu jika tidak dari berjudi?”&lt;br /&gt;Mereka berdua tertawa. Orang-orang memandang tak senang. Bahkan, seorang lelaki tua malah berkata, “Tak tahu adat. Tahukah kalian, tawa kalian terdengar ke seluruh kota.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mereka berdua tertawa. Orang-orang memandang tak senang. Bahkan, seorang lelaki tua malah berkata, “Tak tahu adat. Tahukah kalian, tawa kalian terdengar ke seluruh kota.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mereka tertawa lagi. “Tak tahu adat?” kata mereka berpandangan, “Tahu adatkah dia yang sudah tua bangka tapi masih keluyuran di tempat seperti ini?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mereka lalu bergegas dari tempat itu, berjalan menyusuri senja, bergandengan tangan di jalan yang dihimpit gedung-gedung tua, kelelawar-kelelawar berlintasan di udara yang pengap oleh asin laut, dan di bibir mereka terkulum senyum bahagia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dari sebuah persimpangan, mereka memasuki gang sempit becek, bocah-bocah pengemis melantunkan syair sambil memukul kaleng-kaleng bekas, lelaki-lelaki tak berduit duduk di teras mengenakan sarung yang meruapkan apak nasib, perempuan-perempuan tua menimbun kedamaian dalam khayalan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Petang ini usang benar,” kata lelaki itu.&lt;br /&gt;Perempuan itu terkejut. “Kata-katamu seperti puisi,” katanya.&lt;br /&gt;“Aku memang suka puisi.”&lt;br /&gt;“Jika begitu,” kata perempuan itu setelah mereka tiba di sebuah rumah petak yang dindingnya ditumbuhi lumut, “Kita akan berpesta puisi malam ini.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lelaki itu takjub. Di kamar perempuan itu terdapat sebuah rak yang di dalamnya tersusun rapi banyak buku. “Wah, kau mengingatkan aku pada masa-masa sekolah dulu,” katanya sambil mengambil sebuah buku dari rak: Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Lalu diperhatikannya buku-buku yang lain, dan ia sangat akrab dengan beberapa nama: Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sitor Situmorang… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Sudahlah,” kata perempuan itu mengganggu keasyikannya, “Lupakan buku-buku itu. Itu adalah sisa kenakalanku pada masa kanak-kanak. Semua buku itu kucuri dari perpustakaan sekolah. Sekarang, mari kita berpesta, berpesta puisi.” Perempuan itu melepas pakaiannya, lalu berubah wujud jadi kupu-kupu. “Ayo, naiklah ke punggungku, kita akan terbang.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lelaki itu naik ke punggung kupu-kupu, memeluk tubuhnya erat agar tidak terjatuh. Mereka terbang. “Apa yang kau rasakan dari deru angin ini,” tanya perempuan itu ketika mereka mengarungi angkasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Gairah hidup, surga yang kuangan-angankan ketika aku masih remaja dan jatuh cinta pada putri seorang penyair.”&lt;br /&gt;“Apa yang kau rasakan ketika merasakan kepakan sayapku?”&lt;br /&gt;“Aroma rumput basah.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tiba-tiba kuku-kupu itu menukik, “Kita sedang melintas di atas hamparan padang rumput yang luas. Kita singgah dulu,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mereka bergulingan di padang, pendaratan yang dilakukan kupu-kupu tidak sempurna, “Kau sih, memeluk sayapku terlalu kuat,” katanya menyalahkan lelaki itu. Dengan tubuh yang berhimpitan, mereka berdekapan, saling menggali sesuatu di dalam tubuh masing-masing. Aroma mawar dari sayap kupu-kupu itu membuat birahi lelaki itu menggelegak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Ayo sayang, gumamkanlah puisi untuk getar ini,” kupu-kupu merintih.&lt;br /&gt;“Kukayuh jiwa menyusuri luka nasibmu. Kucecap segala derita yang melekat di tubuhmu. Di gubuk ini, kita adalah orang terbuang yang tak pernah percaya pada takdir, meski cinta selalu mengajari kita memahami maknanya,” gumam lelaki itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lalu, ada yang terasa tuntas. Ada yang terasa terbebaskan. Lelaki itu menangis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Aku terkenang petang rembang di kampungku. Pada waktu kanak-kanak, aku sering menikmati senja sambil bermain dengan deburan ombak. Tubuhmu mengembalikan semua ingatan. Tubuhmu menyentakkan sadarku bahwa ada petang yang hilang dari ingatanku. Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kupu-kupu itu mengembangkan sayapnya. “Ayo, tidurlah dalam pelukanku. Sayapku akan menghangatkan hatimu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Maka tidurlah sepasang kupu-kupu di padang beraroma rumput. Lelaki itu tidak tahu bahwa ia sudah menjelma jadi kupu-kupu jantan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tak berapa lama kemudian, sepasang kupu-kupu itu menikah. Mereka membangun kedai tempat para lelaki kuli minum kopi, main domino, juga berjudi. Mungkin, karena aroma sayap kupu-kupu betina itu selalu meruapkan mawar, lelaki-lelaki kuli berdatangan ke kedai itu. Kedai itu menjadi primadona. Dan, karena sepasang kupu-kupu itu mulai kewalahan melayani para lelaki kuli yang datang untuk minum kopi, berjudi, dan menyantap mie rebus atau goreng, mereka kemudian mempekerjakan seekor kupu-kupu indah yang lain di kedai mereka. Dan kedai itu makin ramai saja. Sepasang kupu-kupu pemiliknya makin jaya. Tapi, luka itu tiba-tiba datang. Kupu-kupu betina pergi menghadap sang khalik. Dan virus herpeslah yang merenggut nyawanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tetapi, kupu-kupu jantan tidak tahu apa yang terjadi antara istrinya dengan gadis pelayan kedai. “Soa,” kata kupu-kupu betina itu kepada pelayan kedainya, “Aku melihat sinar cerah di matamu setiap kali kau memandang suamiku.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Gadis bermata telaga itu terkejut, merasa seperti kepergok sedang bersetubuh dengan lelaki. “Tidak, itu tidak benar,” katanya. Dan majikannya menangis. “Jangan bohong. Aku tahu kau mencintai suamiku. Dan aku bersuyur untuk itu. Lelaki sebaik itu tak pantas disia-siakan. Ayolah Soa, rawatlah cintamu untuknya, sebab kelak kaulah yang akan merawatnya. Aku merasa ajalku sudah dekat. Lihatlah, aku sekarang sakit-sakitan, tubuhku selalu lemas, perutku sering mulas dan melilit, susah bernafas, sakit pinggang. Aku pasti akan mati. Kelaminku juga sudah rusak. Kau tahu, sudah setahun ia tak bersetubuh denganku. Aku tidak mau dia pergi lagi mencari kupu-kupu lain. Kaulah saat ini yang harus bisa jadi kupu-kupu baginya.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mereka berdua menangis. Majikan karena lukanya. Pelayan karena tak tahu harus bersyukur atau tidak. Sebab ia memang sudah sejak lama mencintai tuannya.&lt;br /&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Suatu hari, berbincang-bincanglah Soada Ria dengan majikan perempuannya, “Aku kehilangan seluruh keluargaku. Dulu, ayah dan ibuku punya tanah yang luas. Tapi sejak perampok itu datang dan membangun perusahaaan raksasa di kampung kami, segalanya kemudian habis. Ayahku bukan orang bodoh yang dengan mudah mau menyerahkan tanah kami berikut kayu-kayunya kepada perampok itu. Tapi sikap ayah itu membawa maut. Ia kemudian tewas ketika berhadapan secara frontal dengan orang-orang perusahaan. Mereka memberi ganti rugi atas tanah-tanah kami, tapi ibuku menolak. Ibu membakar uang itu di hadapan mereka. Tak lama kemudian, ibuku sakit, dan meninggal. Aku dan adikku terlontang-lantung sejak itu. Dalam usia yang masih sangat belia, kami merantau ke kota. Aku di bandar ini, adikku di bandar lain. Sungguh, tak pernah terpikirkan olehku untuk memasrahkan diri jadi pelacur, tapi demi kelangsungan hidup dan pendidikan adik-adikku, aku terpaksa melakukannya. Sekarang aku bersyukur adik-adikku sudah bisa menghidupi diri dengan bekal ilmu yang mereka dapat. Tapi aku selalu sedih, sejak mereka tahu bahwa pekerjaanku adalah melacur, mereka tak sudi lagi menerimaku sebagai kakak, sebagai orang yang berjuang mati-matian membiayai mereka. Terimakasih telah menyelamatkanku dari pekerjaan nista itu, dan mempekerjakan aku di kedai ini.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mendengar penuturan itu, kupu-kupu betina trenyuh, airmata menetes di pipinya. Ia merasa bertemu dengan teman senasib. Ia juga tidak tahu bagaimana kilang-kilang, pompa angguk dan pipa-pipa itu tiba-tiba menjulur seperti ular, memanjang dan melilit kampung, hingga akhirnya mereka menyingkir. Ia sedih mengenang kematian ayahnya yang misterius karena selalu bertentangan dengan kepala desa yang ingin menjual tanah mereka kepada kapitalis-kapitalis jahat. Ia tidak tahan mengingat perjuangan ibunya setelah itu, hingga akhirnya meninggal didera penyakit. Semua ingatan itu hadir seperti setan-setan seram dalam mimpi buruk. Lalu, semuanya memang begitu gampang lepas, terbang tanpa bekas, seolah-olah segala sesuatu telah berlangsung dengan sempurna. Demi pembangunan. Demi kemaslahatan orang banyak. Dan, jika di sudut-sudut hutan dan kampung ratapan-ratapan sebenarnya masih terus menggema, anggaplah itu suara-suara binatang. Dan jika orang-orang tempatan terusir dan harus menjadi pelacur, kuli dan pengemis di tanah sendiri, anggaplah itu sejarah sukses dari sebuah bangsa yang biadab. Sebab segalanya telah berlangsung dengan sempurna, igauan dan keluhan tiada guna. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dan kupu-kupu yang terusir dari habitatnya itu terus saja meneteskan airmata. “Soa, akan bergerak ke mana sejarah ini? Nyatanya kita perempuanlah yang selalu jadi korban. Kita sering punya kemampuan, punya potensi, tapi selalu menjadi bulan-bulanan jaman. Kau lihat, di mana-mana di seluruh dunia perempuan yang paling menderita, mereka dieksploitasi, direndahkan martabatnya, dilecehkan kemanusiaannya. Untuk itu, jika nanti aku mati, jangan kembali lagi ke jalan itu, rawatlah kedai kita ini, cintai suamiku sepenuh hatimu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Itulah kalimat terakhir yang meluncur dari mulut kupu-kupu, ketika ia terbang untuk tak kembali. Dan Soada Ria, gadis pelayan kedai yang cantik itu terus saja mengenang majikannya, juga pesannya untuk merawat lelaki itu. Ya, aku harus merawatnya, pikirnya. Ia keluar dari bilik kedai, berjalan dengan langkah lambat, menghampiri lelaki yang sedang bersedih di kursi di pojok kedai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Abang harus melupakannya,” katanya menepuk pundak lelaki itu, “Lihatlah, sejak kakak pergi sebulan lalu, Abang terus-terus saja begini. Orang-orang takut melihat Abang. Lihat, kedai kita selalu sepi karena tingkah Abang.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lelaki itu menatapnya, “Ini kali kedua kau berkata persis seperti kupu-kupuku. Dulu ia berkata seperti itu karena aku suka mabuk. Soa, ke sinilah,” katanya merengkuh gadis itu dalam dekapannya, “Kau seperti istriku. Mulai saat ini, rawatlah kedai kita. Ini satu-satunya milik dan alat kita mempertahankan hidup dari kepedihan.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tiba-tiba lelaki dan gadis pelayan itu berubah jadi sepasang kupu-kupu. Dari punggung mereka terkembang sayap berbentuk mawar raksasa. Mereka terbang mengarungi angkasa dan hinggap di sebuah taman penuh mawar. Mereka bersidekap, mendesahkan luka, memaknai hidup yang masih terus akan berlangsung.*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112445424016447937?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445424016447937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445424016447937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/08/kupu-kupu-bersayap-mawar-cerpen.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112445266989535008</id><published>2005-08-19T04:49:00.000-07:00</published><updated>2005-08-19T05:57:52.156-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://cellbio.utmb.edu/pomerat/Pomerat%20gateway%20and%20palace.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://cellbio.utmb.edu/pomerat/Pomerat%20gateway%20and%20palace.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Istana Kiyarana&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Cerpen: Miranda &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sumber: Republika, Edisi 08/07/2005 &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku masih camar putih jika suatu ketika kau tanyakan lagi padaku. Mungkin tak elok seperti tiga belas tahun lalu saat pertama kali aku mulai pandai terbang tinggi. Bernyanyi mengitari bukit-bukit kecil Sewidari di sekitar pegunungan Bidadari, menanti hangatnya mentari pagi, dan turun rendah menjelang senja hari. Memang, kini aku tak seputih gading sepert dulu sering kau panggil aku. Dan tak seputih bulu angsa yang berkilau terbias cahaya matahari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Aku iri padanya." "Kenapa?" Kiyarana tetap memandang anak laki-laki yang tidur di dekatkakinya."Sebab, kau sangat menyayanginya. Aku ingin kau menyayangiku selembutitu."Kiya tersenyum kecil. Ia terus membelai lembut anak itu. Matanya telahterpejam. Wimar menatap Kiya."Mereka sangat membutuhkan." "Aku juga!""Aku bukan Kiyarana yang kau kenal dulu."Kiya membetulkan posisi tidur anak itu. Ia bangkit menutup gorden jendelayang masih terbuka."Aku tahu dan aku ingin merajutnya kembali.""Ah, Wim, kau tak paham."Bukankah kau tahu, sayapku telah patah. Namun, dalam luruh, aku tetap camar putih. Yang terbang meski dengan kepak yang tak tegak lagi, menembus mega. Di atas lautan terbentang, di bawah kaki langit menjulang. Terus terbang di luasnya cakrawala yang ketika tersentuh senja akan bersenggama melahirkan lembayung jingga mengilau perak. Dan, terus terbang bersama desau angin membisikkan kidung harap yang sapuan lembutnya membalut luka camar yang mengepak letih, sebab sayap-sayap retak bertambal sulam rindu dan asa itu telah purba dan semakin hari semakin terkikis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Matahari telah jatuh ke sebelah barat bumi. Wim meninggalkan kantor. Kepenatan menjejali kepalanya. Ia meluncur ke Panti Kasih Bunda. Yang dibutuhkannya saat ini adalah bersama Kiyarana. Entahlah, menatap matanya Wim merasakan keteduhan. Kiya memandang sebentar kehadiran Wimar. Lalu meneruskan kembali rajutannya. Di tangannya sebuah mantel anak-anak sudah hampir jadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Buat Alif. Bagaimana menurutmu?" Kiya memperlihatkan hasil karyanya pada Wim."Wajahmu pucat Kiya.""Setiap hari aku memang seperti ini.""Tapi kamu juga harus menjaga kondisimu. Istirahatlah kalau anak-anak tak mengganggumu. Kamu masih terus kontrol, kan, Kiy?"Kiya terus merajut. Semua persoalan sama saja buatnya kini."Dokter bilang aku baik-baik saja.""Ya, Asal kau banyak istirahat, percayalah kau pasti sembuh, Kiya."Wim memberi semangat. Kiya menggulung benang wolnya. Operasi pengangkatan sel kanker di dinding rahimnya tiga bulan lalu memang sedikit memperpanjang usianya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kenapa kita tidak menikah?"Kiya menarik napas dalam, menatap pada bola hitam sederhana itu. "Untuk apa. Tak perlu menambah persoalan. Biarlah keadaan seperti ini tetap menjadi milikku.""Setidaknya beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Andai saja aku....""Sssstt!" Kiya meletakkan jarinya di bibir Wimar dan membiarkan Wim meraih jemari itu. Saat dikecup, Kiya rasakan betapa ketulusan kasih itu membawa Wimar ke telaga tandusnya.Semua sudah berlalu, tak ada yang harus disesali. Ini bukan salahmu. Aku juga bukan pahlawan, Wim, meski aku korbankan seluruh hidupku untuk menyelamatkan jeratan hukum yang akan menimpa papaku. Sejak kuputuskan menerima persyaratan pembebasan papaku dengan Mr Kayo Tsutziko, pengusaha export-import dan jasa kredit yang menjerat leher dari Jepang itu, aku memilih untuk pergi darimu. Semua tentangmu.Hanya papakku yang masih kumiliki, setelah kecelakaan pesawat 18 tahun lalu telah merenggut mamaku. Kasih sayang, hidup melimpah dan kebahagiaan yang tercurah untukku selama ini, apakah tak cukup alasan bagiku untuk sedikit saja berkorban, agar laki-laki yang telah senja itu tak menghabiskan sisa hidupnya dalam sel tahanan yang sangat tak layak bahkan untuk seekor lalatpun.Manusia seringkali tidak adil. Aku memberikan utuh diriku sebagai seorang istri meski aku tak mencintai Kayo. Tapi bagi Kayo itu tak sebanding dengan uang yang ia keluarkan. Meski papa selamat, tapi ia sangat menderita. Sebab meski rapat aku menutupi, papa tahu betul aku tak bahagia dan diperlakukan tak baik oleh Kayo. Papa sakit-sakitan dan meninggal dunia dua tahun kemudian di rumah kontrakannya.Sebenarnya hargaku bukanlah 10 miliar, jika Kayo beranggapan bisa menguasaiku setelah ia menikahiku sebab kami tak sanggup melunasi hutang-hutang itu. Sampai kapanpun angka takkan mampu bersejajar dengan harga diri. Tapi Kayo tak punya nurani itu, Wim. Bahkan hargaku lebih rendah dari wanita-wanita di rumah bordil berkelas international, yang menjadi korban sindikat penjualan perempuan, salah satu bisnis gelapnya yang berpusat di Jepang, juga selain money laundry di beberapa akses banknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kenapa nggak dimakan, Alif?" Titis mendekati Alif, anak asuh paling kecil di antara yang lain. Ia cuma menggeleng-geleng."Alif mau sama mbak." Suara kecilnya manja. Alif dekat sekali dengan Kiya. "Kenapa, Sayang?"Kiya sudah berdiri di pintu. Menghampiri Alif, langkahnya pelan. Wajahnya sayu, rautnya menyimpan penderitaan terdalam sepanjang hidupnya.Rambutnya menipis sebab efek terapi yang harus dijalaninya. Malam ini tubuhnya lemas bukan main. Tapi seperti seorang ibu ia dapat merasakan kegelisahan anaknya.Kiya juga menemani anak-anak belajar. Alif hanya mencoret-coret kertas dengan krayon. Sesekali ia tunjukkan pada Kiya hasil coretannya. Kiya tersenyum. Ia merasakan nyeri pada perutnya. Nyeri yang kerap datang. Ia paham kanker ganas yang menyerang dinding rahimnya, diperkirakannya sudah mulai masuk stadium empat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seharian ini Kiya tak keluar kamar. Setelah meminum obat, Kiya merebahkan tubuhnya yang sudah setipis itu di atas kasur. Matanya yang telah pudar sinar dan berkantung hitam, nanar menatap langit-langit kamar. Napasnya berat menahan sakit luar biasa di bawah perutnya. Matanya terpejam. Kiya mengejang. Butiran bening itu mengalir di sudut mata cekungnya. "Kuatkan aku, Tuhan!"Seperti Engkau beri aku kekuatan untuk melalui hari-hari selama sepuluh tahun ini. Sejak menjadi istri Kayo, yang aku rasakan hanya kekerasan dan penghinaan. Kiya meraba bekas penganiayaan yang dilakukan Kayo terhadapnya, yang ternyata seorang Masomasochis. Bekas yang menjadi saksi betapa penderitaan hanya seperti mainan dalam perjalanan hidupnya. Setelah puas memeras seluruh keindahan Kiyarana, Kayo melemparnya masuk kelembah pelacuran. Kiya masuk dan tak dapat melarikan diri. Semua di bawah pengawasan kaki tangan Kayo yang kerap menjarah tubuhnya juga. Semua akses dan rekening atas namanya ditutup, sebab segala keperluannya sudah disediakan.Kiya bertemu dengan cukong dari Malaysia, Mr Marwan, seorang pengusaha textil dan garmen terbesar, pemilik perkebunan kelapa sawit di atas tanah 5000 hektar dan salah satu pemegang saham terkuat pada perusahaan properti dan real estate di Singapure, Filiphina dan Taiwan.Ketika ke Jepang, Marwan mem-booking-nya selama satu minggu, sebab merasa sangat cocok. Sejak itu setiap kali ke Jepang, Mr Marwan selalu minta ditemani Kiya, bahkan seringkali sampai beberapa bulan Kiya dibawa keliling negara. Kayo tak membiarkan kesempatan ini. Ia memasang tarif lima kali lipat untuk Kiya, juga untuk melicinkan bisnis kerja samanya. Seingatnya, sepanjang perjalanan menjadi wanita penghibur selama bertahun-tahun, baru Marwanlah yang memperlakukan Kiya layaknya seorang wanita. Tapi, Kayo licik. Sehingga, mau tak mau Marwan menjual sebagian saham terbesarnya di Singapure untuk membeli Kiya dan membawanya pergi dari Jepang.Kiya tak tahu apakah jatuh ketangan Marwan jauh lebih baik. Bagi Kiya yang terpenting dalam hidupnya kini adalah lepas dari Kayo. Ia tinggal di istana yang dibeli Marwan atas namanya dan deposito dalam jumlah besar untuk kebutuhan hidupnya. Kiya tahu meski Marwan sangat menyayanginya, ia bukan satu-satunya wanita dalam hidupnya.Kiya menjadi seorang nyonya. Tapi, selama tiga tahun tinggal di Malaysia, Kiya tak pernah lagi menemani Marwan dalam perjalanan bisnisnya keliling dunia. Namun, bagi Kiya tinggal di rumah jauh lebih menyenangkan hatinya. Hanya saja semakin hari Kiya semakin kesepian. Sampai suatu saat Kiya jatuh sakit. Menyadari sakitnya sangat serius, Kiya memohon pada Marwan untuk membawanya kembali ke Indonesia."Kalau sampai di ujung waktu, aku ingin berada di negeriku, bersama anak-anak."Kiya tak menginginkan istana itu. Ia kembalikan lagi pada Marwan. Saat ini Kiya hanya ingin tinggal dalam istana hatinya menghabiskan sisa hidupnya. Marwan hanya bisa memaksa deposito itu tetap atas nama Kiya untuk bekal hidup dan berobat. Marwan tak mengerti, Kiya tetap memilih untuk tinggal bersama anak-anak di panti asuhan.Marwan sering mengunjungi Kiya. Membujuknya untuk mau berobat ke luar negri. Tapi, Kiya selalu menolak. Dan setahun belakangan ini, Marwan tak memberi kabar lagi. Kiya tak berusaha menghubungi. Biarlah, pikir Kiya, sudah begitu banyak pengorbanan yang Marwan berikan padanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah sekian lama, saat kau datang ke panti ini, aku melihatmu masih seperti dulu, Wim. Biarkan saja, mungkin pertemuan kita hanya sesingkat ini dan cerita kita hanya sepenggal ini. Tapi, jadikan segala yang singkat ini lebih berarti.Maka, jangan tanyakan lagi kenapa luka menganga dan jangan tanya sebab camar teteskan darah dan air mata. Tanyakan saja tentang bagaimana kepaknya melintasi badai.Jika hidup jauh lebih berarti, untuk apa memilih mati yang sia-sia. Tapi, Wim sayangku, beriring dengan waktu memacu, semakin aku pahami bahwa kematian juga pada akhirnya adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan pasti dengan penuh pertimbangan. Tapi, satu hal yang pasti kematian bukankanlah kehancuran.Lalu ada apa dengan kematian? Kematian cuma jalan singkat melewati batas untuk menuju kehidupan lain yang lebih abadi. Mengapa takut pada keindahan yang belum pernah kita rasakan? Kita hanya perlu sedikit keberanian untuk melewati lintas batas itu.Dan, aku tak ingin mati sia-sia. Tapi, ternyata itulah pilihanku, karena dapat aku rasakan kematian akan menyentuhku. Takdir menyapaku lagi dengan alur lain yang tak dapat kuhindari. Namun, bolehkah kutanyakan sesuatu, meski jawaban sudah tak penting lagi buatku. Jika masih, di sudut manakah aku ada di hatimu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kiya tak menangis, tubuhnya tak bergerak. Rasa sakit menghilangkan kesadarannya. Di dunia komanya kini ia tahu, tak sampai fajar tiba esok, ia akan benar-benar pergi. Meninggalkan tubuh rapuh yang tergeletak kaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112445266989535008?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112445266989535008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112445266989535008' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445266989535008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112445266989535008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/08/istana-kiyaranacerpen-miranda-sumber.html' title=''/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15576268.post-112444573559000193</id><published>2005-08-19T02:47:00.000-07:00</published><updated>2005-08-19T06:05:19.456-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Kau Menari, Pierr?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.purplemoon.com/Stickers/mermaid-gold.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://www.purplemoon.com/Stickers/mermaid-gold.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; Mengapa kau menari, Pierr?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cerpen: Ucu Agustin&lt;br /&gt;Sumber: Media Indonesia, Edisi 08/14/2005 &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;NAMAKU Pierr. Kulitku lembut, senyumku rekah, geliat tubuhku indah dan ada sebuah laut bergelombang di jantungku. Bersama ikan-ikan yang terperangkap badai aku bernafas. Dan sulur-sulur lumut serta ganggang hijau di dasar laut jantungku mengajari aneka gerak. Tarian Paus Nun, ritme gerak sirip kuda laut, lambaian ekor ikan purba bersisik duri. Tarian dunia laut yang berumur ribuan tahun.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Pierr. Orang-orang mengenalku sebagai Pierr Samudera. Pierr Bule. Pierr Penari. Tapi mereka tak tahu kalau tiap senja tiba, para putri duyung berdada busung menyisiri rambut cokelat kemerahan milikku. Mengajari gerak liukan pinggang mereka yang aduhai. Mengajari bagaimana berdiri dengan hanya bertumpu pada ujung ibu jari kaki. Memberi trik mengedipkan mata secara memesona. Bagaimana bercakap-kata yang langsung bisa merogoh dan mengambil hati manusia. Dan para lumba-lumba itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, ini cerita dari para orang tua. Tapi aku percaya kalau lumba-lumba yang muncul di sisi selat setiap menjelang malam itu, dulunya adalah memang sekawanan perompak yang dikutuk Dewa Laut. Mereka membunuh seekor Ikan Cucut dan menemukan sebongkah mutiara dalam perut Cucut tersebut. Mereka begitu gembira. Namun tak lama setelah mereka memakan daging ikan cucut, tiba-tiba gelombang membesar dan menghantam kapal. Kapal bajak laut itu karam. Anehnya para perompak itu tidak mati, mereka berubah menjadi lumba-lumba. Dan para lumba-lumba yang dulunya adalah manusia itu selalu rindu melihat orang. Tiap menjelang malam, mereka berenang mendekat ke Selat yang tak jauh dari pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik horizon malam, saat melihat gerakan-gerakan dari laut di dekat Selat, aku tahu lumba-lumba perompak itu tengah berada di sana. Mereka menatapku. Suara pekik tertahan lumba-lumba yang kadang sayup terdengar sampai ke pelabuhan, adalah cara mereka mengirim lagu pengantar langkahku menuju Samudra setiap menjelang malam. Langkah yang membawaku bertemu dengan kekasih-kekasih bayangan yang akan kuperkenalkan satu persatu pada kalian....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mengapa dia tidak langsung saja bergaya seperti layaknya seorang pembeli? Mengapa dia harus bertanya tentang laut dan Lumba-lumba? Mengapa ia ingin tahu bagaimana rasa pasir? Mengapa ia berargumentasi tentang fosil aneka kerang dan kemungkinan adanya kipas angin besar di ujung seberang lautan yang membuat angin tak pernah henti semilir di setiap daerah pantai? Dan bukan hanya itu, dia juga kerap bertanya tentang bisakah kelak aku dan dia menjadi seumpama meja dan lampu belajar? Bisakah kelak aku dan dia menjadi sepasang buah apel yang berbahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari pada lebih banyak lagi muncul tanya, dalam beberapa kali perjumpaan biasanya langsung kusumpal saja bibirnya yang mungil dengan lidahku. Mujarab! Selalu berhasil. Dia tidak rewel lagi. Cuma satu kalimat ini saja yang setelahnya biasa dia katakan dengan nafas tersenggal, "Pierr...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Selena memang cerewet. Ingatannya kuat. Tak gampang membuatnya lupa dari apa yang sedang dipikirkannya atau percakapan tertunda yang belum mendapatkan jawaban. Setelah beberapa guncangan dan kami menjadi gulungan ombak yang terus membuat gelombang di atas ranjang. Ia biasanya kembali pada percakapan yang belum usai atau bertanya tentang hal lain yang sama sekali baru. Banyak sekali yang bisa dia tanyakan, semisal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau pernah tahu tentang kegelapan?" tanyanya. Kulihat bulir-bulir kecil keringat di dahinya. Ia tidak juga capai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti ini?" Aku jail. Kumatikan lampu tidur kamar hotel dan suasana jadi gelap seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, seperti ini," Kudengar Selena Mengikik. Aku tak melihat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu Pierr..." Dan lantas kudengar bisiknya di telingaku "Bila sedang sedih, aku sering bercakap dengan kegelapan. Kubilang, wahai kegelapan.... Kau lebih lembut dari kekasihku yang dagingnya berkeringat dan nafasnya terengah-engah. Dan denganmu, wahai kegelapan.... Aku senantiasa merasakan kekasihku. Kelembaban yang panas yang dia tinggalkan di atas kulitku. Selisir rambut panjangnya yang harum saat jatuh di wajahku....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Selena. Perempuan berkulit sepucat bulan yang sering mengunjungi Samudra. Dia memperkenalkanku pada puisi. Tapi dia bukan bagian dari tarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti namanya terpuji. Dan dia memang layak memakai nama itu; Ahmad manusia terpuji. Matanya bagus. Badannya tinggi. Tubuhnya kurus. Bicaranya sedikit tapi ia pandai merayu. Dari awal bertemu ia memanggilku kekasih. Kubilang cukup panggil aku Pierr saja. Tapi katanya ia ingin menyebutku kekasih saja. Aku tertawa. Kami tertawa. Bulan di atas pantai sedang absen, hanya kerlip bintang tertabur begitu banyak di atap malam.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau menari, Pierr?"&lt;br /&gt;Pertanyaan itu lagi!&lt;br /&gt;"Mengapa kau datang untuk melihatku menari, Ahmad?"&lt;br /&gt;"Kulitmu asin dan matamu karang hitam yang kokoh. Aku menemukan kekasihku di sana."&lt;br /&gt;"Tapi aku bukan kekasihmu. Aku Pierr sang Penari."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Maukah kau menari untukku sekarang?" Begitu saja lelaki itu memelukku. Dia biasa begitu. Meluapkan perasaannya kapan dan di mana saja. Impulsif! Ekspresif!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Aku diam saja. Itu yang harus kulakukan. Aku telah mengerti betul bagaimana menangani si manusia terpuji. Tolak terus. Bantah saja. Semakin diacuhkan, semakin ia merasa ingin diterima. Dan dalam hati, aku memang menginginkan dia semakin menginginkanku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Oke, kamu nggak mau jadi kekasihku. Maka jadilah penari! Menarilah untukku sekarang!" Aku tahu lelaki itu mulai kesal. ia membanting sesuatu ke atas pasir. "Menarilah Pierr sang penari!" Perintahnya agak marah. Aku tahu benda yang tadi dia banting dari sakunya adalah gulungan uang. Khawatir diterbangkan angin, aku segera memungutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Aku akan menari dengan gratis untukmu."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Yang boleh kunikmati secara gratis hanyalah kekasihku. Tapi kau memilih jadi penari. Maka kubayar kau dengan tarifmu!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Aku akan menari gratis untukmu!" ucapku tegas. Dan kuhampiri ia. Kubuka telapak tangan Ahmad, kuletakkan gulungan uangnya di sana dan kemudian kukepalkan tangannya kuat-kuat. Kuusap pipi putihnya sekilas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lantas aku mulai berdiri di sana. Di tengah terpaan angin malam. Pinggir pantai dekat pohon kelapa. Hanya disaksikan oleh dia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Aku melempar jaket Denimku. Membuka kancing kemejaku. Menanggalkan kaos singlet dan celana jinsku. Tinggal cawat warna putih model G-stringe saja yang masih melekat di tubuhku. Dan aku mulai menggoyangkan tubuhku. Ahmad menatapku....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Aku menari dengan iringan angin barat yang tak henti lewat. Musiknya debur ombak dan penontonku ternyata bukan hanya Ahmad saja. Penontonku adalah triliunan bulir pasir pantai, adalah puluhan jajaran pohon kelapa yang menjulang, adalah bintang-bintang yang terdiam. Dan aku tahu, ganggang laut, ubur-ubur, ikan yang tersesat dan para putri duyung menahan nafasnya. Menyaksikan tarian yang pernah mereka ajarkan, ditarikan olehku. Para lumba-lumba perompak mengintipku....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Aku menggoyangkan Pinggulku. Kuingat tap-tap irama dansa serta ketuk langkah kaki. Aku memejamkan mata dan mulai meliukkan badanku. Menggerakkan bagian atas dada, menyilangkan kedua tanganku di atasnya dengan erotis, merenggangkan kedua kakiku, melangkah menuju arah Ahmad tanpa membuka mata. Dan aku mulai melihat semuanya…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lampu yang bergemebyar. Jemari DJ yang lincah menyentuh permukaan cakram. Suasana Samudra di waktu malam. Hentakan musik. Bir yang tumpah. Tawa pecah. Suara-suara bariton milik para lelaki. Kepala-kepala kelimis dilumuri Jely. Asap rokok. Vodka di gelas-gelas mungil. Tepukan tangan yang membahana saat sekelompok penari streeptease lelaki memasuki panggung utama lantas menyebar. Dua orang penari meloncat ke atas meja di barisan pengunjung. Dua orang menuju meja bar dan lantas menari tepat di depan batang hidung bartender yang sedang melayani minum pelanggan. Dua orang lagi tetap di panggung utama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dan aku di sana.... Di meja bundar di tengah para pengunjung. Semuanya lelaki. Seminggu sekali, Samudra, Klub malam tempatku bekerja membuat acara "Gentleman Night". Dan aku di sana sebagai penarinya. Melucuti satu persatu benda-benda yang melapisi tubuhku. Mengizinkan para pengunjung melakukan apa saja, asal si penari jangan menyentuh mereka tanpa diminta. Dan lelaki itu begitu diam. Dari balik topeng yang kukenakan kulihat lelaki yang kelak kutahu bernama Ahmad itu hanya menatapku saja. Tak kusangka, dialah yang berani mendatangi manajerku. Men-booking-ku ke sebuah tempat. Transaksi itu berakhir di sebuah cottage.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dia memperlakukanku begitu lembut tapi kasar. Dia tak cuma jatuh cinta pada lelaki. Pada perempuan juga bisa. Tapi kekasih terakhirnya adalah dia yang berkulit asin dan bermata sekokoh karang hitam. Dia melihat garam di kulitku. Dan dia menemukan mata karang menyembul dari balik topeng burung kasuari yang kukenakan. Aku melayaninya seperti aku melayani lelaki. Langsung membara pada ronde pertama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Kaulah makan malamku. Dan bersiaplah menjadi sarapan pagi bila aku masih terbangun di sisimu...." Begitu selalu ucapnya bila kami bertemu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Aku adalah roti toasted pagi yang dilumuri mentega yang gurih. Dia mengunyahku dengan rakus. Aku adalah teh pagi dengan kayu manis dan tebaran mint yang dingin menyegarkan. Dia memuji aroma tubuhku dan betapa bagus bentuk tubuhku. Membaui rambut panjangku dan menyisirinya lantas mengangkatnya perlahan sambil menciumi leher bagian belakang. Aku adalah kuda jantan yang bisa menerobos memasuki tubuhnya dari belakang. Membuat Ahmad mengaduh sakit, memelukku dengan keras dan lantas dia menjadikanku burung pipit kecil di udara. Membiarkanku bebas dan lega.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Bukalah mata dan berbaringlah sekarang juga!" suara tersenggal penuh berahi yang terdengar memerintah itu, menyadarkanku dari lamunan dalam tarian buta yang tengah kulakukan. Dan aku merasakan Ahmad di bagian belakang tubuhku. Entah berapa lama ia telah di sana. Angin pantai yang dingin mulai membuat tubuh telanjangku menggigil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Pierr.... Pierr...." Lantas begitu saja bibir lelaki terpuji itu telah sampai di bibirku. Gemetar dan terus menyebut namaku. Menciumku bertubi dan membuatku kewalahan. Tangan Ahmad kini menggelantung di leher seolah sengaja memberatiku. Membuat kami berdua terjatuh di atas pasir. Dia di bawah dan aku tepat di atas bagian dadanya yang ternyata telah terbuka. Kemejanya entah dia lemparkan ke mana....&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;* * *&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Mengapa kau menari, Pierr?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ah, pertanyaan itu.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dua kekasih yang bukan kekasih terhempas ke Samudra dan aku cuma ingin menjadi putri duyung atau lumba-lumba malam buat mereka. Aku bukan perahu penyelamat, aku cuma ingin jadi sekoci penolong sementara. Aku cuma ingin menari, tarian penyelamatan yang tidak bisa dimiliki siapa pun. Tarian yang terus berlari mencari gerak yang belum menemukan wujud. Tarian yang berusaha menemukan dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Tidakkah kau lelah menjadi penari?" tanya Selena&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;"Tidakkah kau ingin tinggal bersamaku?" Tanya Ahmad&lt;br /&gt;"Sampai kapan kau akan menjaja tubuh seperti itu?" sesal Ahmad.&lt;br /&gt;"Aku akan selalu menunggumu bila kau sudah bersedia menari streaptease hanya buatku...," kata Selena setiap waktu, bila kami bertemu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tapi tidakkah mereka tahu? Seorang penari tidak akan pernah berhenti menjadi penari seperti serumpun bougenvile tak akan pernah menjadi anyelir meski diokulasi....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Aku harus terus bergerak. Bukan untuk merayakan tubuh. Tapi untuk mencari tahu siapa di dalam diriku? Apakah aku putra Adam? Ataukah aku anak Hawa? Siapakah orang tuaku...?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kelaminku lelaki. Parasku lembut. Gayaku gemulai. Kepalaku maskulin. Kerlinganku perempuan. Aku suka berpikir. Aku suka segala kecantikan; lelaki cantik, perempuan cantik. Aku suka menari dan aku tak bisa mencintai manusia. Ada laut, putri duyung dan ikan lumba-lumba mengalir dalam darahku. Dan aku tak tahu siapa orang tuaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kulitku putih. Waktu kecil rambutku pirang dan lantas berubah jadi cokelat kemerahan. Mataku hitam kelam. Dan aku hanya mendengar desus cerita orang tentang muasalku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Adalah seorang pesiar perempuan rupawan dari negeri seberang. Jatuh cinta pada kuli angkut pelabuhan berkulit cokelat manis. Mereka bercinta di pantai. Putri duyung terangsang, ikan lumba-lumba mengeras kemaluannya. Bulan berlalu, si pesiar rupawan melahirkanku. Tapi cintanya telah hilang pada si kuli cokelat manis. Saat si perempuan pesiar menyerahkan bayinya ketika ia harus kembali ke negerinya, si Kuli patah hati dan bersama sang bayi ia melemparkan dirinya dari tebing curam pantai ke dasar laut yang bergelombang. Jasadnya tak ditemukan. Tapi sang bayi selamat. Konon, lumba-lumba dan putri duyung di selat itulah yang menyelamatkannya. Lantas anak itu, aku, dibesarkan oleh laut dan pantai....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Jadi, bila Selena, Ahmad atau kalian masih penasaran dan bertanya "Mengapa kau menari, Pierr?" maka kini setidaknya kalian telah tahu jawabku; aku cuma ingin menemukan diriku....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15576268-112444573559000193?l=banyakmacam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banyakmacam.blogspot.com/feeds/112444573559000193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15576268&amp;postID=112444573559000193' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112444573559000193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15576268/posts/default/112444573559000193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banyakmacam.blogspot.com/2005/08/mengapa-kau-menari-pierr.html' title='Mengapa Kau Menari, Pierr?'/><author><name>menghitung waktu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08903026844450944660</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://cholisak.blogs.friendster.com/photos/me_n_soccer/dscf0114-thumb.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
